x

Iklan

Nugroho Wibowo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 November 2021

Sabtu, 25 Februari 2023 08:54 WIB

Berbeda dalam Pembelajaran Berdiferensiasi, Sebuah Upaya Guru Mencapai Satu Tujuan

Pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid, kebutuhan dasar yang dimaksud terdiri dari tiga aspek yaitu kesiapan belajar, minat dan profil belajar murid. Strategi pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan guru dengan melakukan tiga cara yaitu diferensiasi konten, proses dan produk. Ciri-ciri atau kerakteristik pembelajaran berdiferensiasi diantaranya adalah terciptanya lingkungan belajar mengundang murid untuk belajar, adanya kurikulum memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, terdapat penilaian berkelanjutan dalam proses pembelajaran, guru menanggapi atau merespon apa yang menjadi kebutuhan belajar murid, dan adanya manajemen kelas efektif.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sering terdengar di telinga kita tentang pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan, kebutuhan dasar yang dimaksud terdiri dari tiga aspek yaitu:

  1. Kesiapan belajar murid

Kesiapan belajar yang dimaksud disini adalah kesiapan siswa secara individu dalam rangka pelaksanaan pembelajaran, dimana murid mempunyai kapasitas untuk mempelajari materi, konsep dan keterampilan baru. Aplikasi dari kebutuhan ini dilakukan guru dengan melakukan sebuah tes kepada murid untuk selanjutnya dilakukan pengelompokan dalam rangka proses pembelajaran yang efektif. Tujuan identifikasi ini untuk memodifikasi tingkat kesulitan pada bahan pembelajarannya sehingga murid terpenuhi kebutuhan belajarnya.

  1. Minat murid

Minat murid yang dimaksud adalah keadaan mental yang menghasilkan respon terarah pada situasi/obyek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan tertentu. Minat dibagi menjadi dua yaitu minat situasional dimana minat terjadi pada saat-saat tertentu, hal ini terjadi peningkatan perhatian, upaya dan pengaruh. Minat yang kedua adaalah minat individu yaitu minat dalam jangka waktu lama dengan obyek tertentu.  Proses aplikasi di kelas guru sebaiknya membuat murid menjadi tertarik dengan cara menciptakan suasana yang menarik, menciptakan konteks pembelajaran yang dikaitkan dengan minat individu murid, mengkomunikasikan nilai manfaat yang dipelajari dan menciptakan kesempatan memecahkan masalah.

  1. Profil belajar murid
Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Profil belajar yang dimaksud adalah faktor-faktor yang mempengaruhi profil belajar murid misalnya pada prereferensi terhadap lingkungan belajar, pengaruh budaya, gaya belajar (audio visual, visual dan kinestetik) dan prereferensi tentang kecerdasan majemuk. Aplikasi dalam pembelajaran dapat dilakukan guru dengan mengidentifikasi data personal siswa dan keluarganya, melaksanakan pembelajaran dengan bahan ajar yang berbeda sesuai gaya belajar atau membebaskan murid untuk memilih cara mendemonstrasikan apa yang diketahui murid secara berbeda.

Guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, karena setiap murid mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diberi perlakuan yang sama dalam satu kelas. Cara mengidentifikasi kebutuhan murid dapat dilakukan guru mulai dari melakukan pengamatan perilaku murid, melakukan penilaian awal, mengamati penyelesaian tugas, membaca raport murid, bertanya tentang masalah-masalah yang dihadapi dan sebagainya. Ciri-ciri atau kerakteristik pembelajaran berdiferensiasi diantaranya adalah terciptanya lingkungan belajar mengundang murid untuk belajar, adanya kurikulum memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, terdapat penilaian berkelanjutan dalam proses pembelajaran, guru menanggapi atau merespon apa yang menjadi kebutuhan belajar murid, dan adanya manajemen kelas efektif.

Strategi pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan guru dengan melakukan tiga cara:

  1. Diferensiasi konten, dimana apa yang diajarkan kepada murid berdasarkan tanggapan kesiapan belajar murid, minat murid, profil murid ataupun kombinasi dari profil dan kebutuhan murid. Aplikasi yang bisa diterapkan guru dengan cara memberikan apa yang harus diakses siswa apakah suatu hal yang mendasar/fundamental atau yang lebih bersifat abstrak, misalnya seorang siswa SD sedang belajar tentang konsep nilai maka bisa diberikan dengan barang kongkrit dengan menggunakan stik es krim atau bisa menggunakan gambar jika sudah bisa dalam bentuk abstrak.
  2. Diferensiasi Proses, prinsip diferensiasi ini adalah bagaimana murid akan memaham/memaknai apa informasi yang diberikan, proses yang perlu disiapkan apakah mandiri atau kelompok dan harus memperhatikan siapa yang diberi bantuan dan siapa yang tidak perlu diberi bantuan. Aplikasi yang bisa diterapkan guru dengan melakukan kegiatan berjenjang sesuai dengan pemahaman siswa, membuat agenda individual, memvariasikan lama pengerjaan tugas, dan mengembangkan kegiatan yang bervariasi.
  3. Diferensiasi Produk, produk yang dimaksud disini adalah tagihan apa yang dihasilkan oleh murid yang harus ditunjukkan kepada guru/hasil pekerjaan/unjuk kerja. Aplikasi yang bisa dilakukan guru dengan bentuk: video, tes, karangan, tulisan, pertunjukkan, pidato, presentasi, diagram dan lain sebagainya. Prinsip yang harus dipegang guru bahwasanya produk yang dibuat murid mencerminkan pemahaman sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Kaitan Materi Modul 2.1 tentang pembelajaran berdiferensiasi dengan modul yang lain adalah pembelajaran berdiferensiasi sangat berkaitan dengan filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak, serta budaya positif. Salah satu filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah sistem among, dimana guru harus dapat menuntun murid untuk berkembang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman, hal ini sangat sesuai dengan pembelajaran berdiferensiasi. Salah satu nilai dan peran guru penggerak adalah menciptakan pembelajaran yang berpihak kepada murid, yaitu pembelajaran yang memerdekakan pemikiran bakat dan potensi murid. Hal tersebut sejalan dengan pembelajaran berdiferensiasi, dimana murid menjadi aktor utama dalam pembelajaran. Salah satu visi guru penggerak adalah mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar pancasila, untuk mewujudkan visi tersebut salah satu caranya adalah dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Guru penggerak memiliki visi untuk melakukan perubahan positif dalam pembelajaran yang berpihak kepada murid  dengan strategi pendekatan Inkuiri Apresiatif yaitu pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan.

Budaya positif juga harus kita bangun agar dapat mendukung pembelajaran berdirensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi membentuk budaya positip di sekolah. Budaya positip dalam konteks ini dapat didefinisikan sebagai nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak kepada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab. Budaya positip tidak dapat berdiri sendiri dalam membentuk lingkungan belajar yang mendukung akan tetapi terintegrasi dalam pembelajaran berdiferensiasi sehingga akan tumbuh lingkungan yang saling bersinergi dalam proses pembelajaran yang dilakukan guru di sekolah, semoga…

 

 

Ikuti tulisan menarik Nugroho Wibowo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler