x

ilustr: David Wolfe

Iklan

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Sabtu, 25 Februari 2023 08:54 WIB

Kata Mutiara Paulo Coelho Untuk Introspeksi

Kehidupan modern ini penuh peluang tapi juga tantangan. Maka kita perl ters menerus meningkatkan kompetensi. Paulo Coelho punya kata mutiara yang indah dan bermanfaat tentang ini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kata Mutiara Paulo Coelho Untuk Introspeksi

Bambang Udoyono

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kehidupan ini penuh tantangan tapi juga penuh peluang.  Setiap orang harus berjuang untuk menggapai cita citanya.  Namanya saja perjuangan, tidak ada yang mudah.  Semua capaian harus dijangkau dengan kerja keras dan doa.  Tentu saja dalam perjuangan itu semua orang berbuat salah, baik besar maupun kecil. Itulah sebabnya kita perlu mengetahui kesalahan.  repotnya kita lebih mudah mengenali kesalahan orang lain daripada kesalahan kita sendiri. Kita cenderung nyinyir dengan kesalahan orang.  Bagaimana sebaiknya?

 

Paulo Coelho memiliki sebuah kata Mutiara yang menohok sekalgus memesona dan bermanfaat jika kita mau dan mampu mengolahnya. Berikut ini kata mutiaranya. “Everyone seems to have a clear idea of how other people should lead their lives, but none about his or her own.”  (Setiap orang nampaknya punya gagasan jelas tentang bagaimana seharusnya orang lain menjalani hidupnya, tapi tidak tahu apa apa tentang cara menata hidupnya sendiri)

 

Bagi saya cara Paulo Coelho menata kalimatnya terasa sangat indah.  Kalimat itu halus.  Kalimat itu memakai diksi yang sopan.  Jadi sangat memesona.  Di sisi lain kalimat itu sejatinya menohok kita. Paulo mengatakan bahwa setiap orang itu nyinyir.  Semua orang suka mengomentari bahwa orang lain itu salah. Si A itu seharusnya bertindak begini. Si B itu sebaiknya berkata begitu.  Si C itu tidak becus kerja dsb. 

 

Saya yakin bahwa Paulo ingin mengatakan bahwa sebaiknya kita tidak usah nyinyir.  Kita tidak perlu mengmentari kesalahan orang lain. Karena pengetahuan atas kesalahan orang lain itu tidak berguna.  Alih alih memberi manfaat pengetahuan seperti itu hanya membuat hati tidak sehat. Apabila hal itu ada di pusat perhatian kita maka mata nalar dan mata batin kita jadi ‘rabun’.  Karena hanya sisi ‘hitam’ saja yang terlihat dan tersimpan dalam hati dan pikiran. Sedangkan sisi ‘putih’ orang lain tidak nampak.

 

Dalam kehdupan modern yang penuh tantangan ini apa yang kita butuhkan sejatinya adalah mengetahui kesalahan diri sendiri. Mengapa dibutuhkan? Karena kita wajib terus menerus memperbaiki diri kalau masih ingin berkembang.  Kelamahan dan kesalahan sendiri itu adalah keterangan berharga. Itu adalah bahan baku untuk analisis diri. Hasilnya adalah rencana aksi perbaikan diri dan perbaikan ihtiar.

 

Tapi kendalanya adalah ego.  Kita cenderung tidak suka disalahkan.  Kita maunya dipuji.  Maka tidak sedikit orang yang tidak mau mengakui kesalahan diri sendiri.  Pertanyaannya, bagaimana caranya mengatasi ego?

 

Paling tidak, dalam amatan saya, ritual agama bisa sangat membantu. Anjuran beramal, sedekah, infak dan zakat adalah untuk mengikis egoisme. Kita dilatih berbagi. Merelakan sebagian harta untuk membayar zakat, infak dan sedekah akan bermanfaat untuk menekan ego.  Ditambah lagi dengan lingkungan sosial yang mendukung maka insya Allah ego bisa dikurangi.

 

Kalau nanti ego sudah dikuasai maka mata nalar dan mata hati kita akan lebih awas.  Kita akan elbih legowo menilai diri sendiri. Kita lebih mampu melihat diri sendiri. Kelebihan dan kesalahan akan terlihat. Dengan demikian insya Allah upaya perbaikan diri akan berjalan baik.

Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu