x

Kekerasan terhadap perempuan

Iklan

Samroyani

Penulis Serabutan
Bergabung Sejak: 28 Juli 2022

Kamis, 23 Maret 2023 14:17 WIB

Yang Maha Visual (Bagian 3)

Kita menjual penampilan, maka dibalas dengan penghakiman. Disclaimer; cerita ini dikhususkan untuk pembaca dewasa. Kebijaksanaan pembaca diharapkan dalam menyerap cerita yang sepenuhnya fiksional ini. Mengandung unsur yang mengganggu, sensual, dan bahasa kasar.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Rencanaku malam ini sudah sempurna, sudah izin ke Mamah untuk kerja kelompok di rumah teman, menginap. Apa yang salah dari malam ini, sampai-sampai aku harus ketahuan oleh Mamah; ngamar dengan pria tua di hotel pinggiran kota. Bangsat memang malam ini. Saat itu Mamah diam, aku juga. Wajah mamah memerah, aku juga. Air mata mamah berjatuhan, aku juga. Mimpi apa semalam sampai aku harus sesial ini. Pikiranku merayap mundur, menelaah dimana letak kesalahanku sampai-sampai momen seperti ini terjadi.

Sebelum ke hotel ini dan melaksanakan tugas aku dijemput oleh si Om, garis miring, pelanggan ini ke sekolah. Dia menjemput dengan mobil membuat aku jadi pusat perhatian. Tapi, tidak seserius itu. Di sekolahku, gadis cantik dijemput om-om itu sudah biasa. Terlebih aku, termasuk yang tercantik seantero sekolah ini. Jadi orang-orang sudah mewajarkannya. 

Ini mungkin perihal pergaulan, banyak juga yang cantik tapi tidak main dengan ‘Om’. Tapi mereka sama busuknya dengaku kok. Selain busuk, bodoh juga. Mereka sama mengobral selangkangan ke teman pria sesekolah. Dengan berlandaskan cinta-cintaan. Ah menjijikan. Aku jauh lebih baik dari mereka. Setidaknya aku dapat banyak uang dari kerja sampingan ini yang bisa kugunakan untuk kebutuhan ini itu. Untuk setidaknya tidak pernah absen ikut pesta dengan teman-temanku yang rata-rata anak pejabat atau pengusaha. Sedikit catatan, meski teman-temanku anak orang punya, mereka sama kerja sampingan sepertiku.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Manusia di zaman sekarang itu sama, mengutamakan visualisasi akan diri mereka sendiri. Bukan sekedar cara berpakaian. Tapi juga gaya hidup. Terlebih untuk gadis seusiaku. Instagram, Twitter, Tiktok, membuat kami memuntahkan kehidupan ke layar kaca. Agar punya tempat di lingkungan, kami harus pandai menampilkan keseruan di sosial media. Dan tolong dicatat, itu tidak murah. Maka dari itu aku sekarang mau saja dibawa Om ini jalan-jalan. 

Saat aku masuk ke mobilnya ternyata ada wanita lain, seumuran ibuku. Dia nyinyir menatapku yang disuruh si Om duduk di kursi belakang. Kuyakin bukan istrinya, karena mana ada istri yang mau diajak suami untuk ngebooking anak SMA.

“Kurang apa aku? Sampai sengaja narik bocil di depan mataku?”, ujar wanita itu tiba-tiba histeris ketika mobil baru melaju beberapa meter. “Kurang muda…” malah dijawab bercanda oleh si Om-nya. Aku jadi ikutan ketawa. Saat itulah keadaan makin memanas. Dia mulai melantur ngalor ngidul. Sempat kudengar dia berkata “...demi kamu mas aku tinggalin anak sama suami. Demi kamu, tapi masih aja kaya gini.”, sampai akhirnya dia minta turun.

Dalam hati ada yah wanita seperti itu, mau jadi selingkuhan tapi tidak mau diselingkuhi. Ah, ironi. “Gapapa diturunin gitu om?”, kutanya supaya mencairkan suasana. “Ah biarlah, cewek nemu di tempat kerja. Paling balik lagi ke suaminya, itupun kalo suaminya masih mau nerima bekasan…” dijawab si gendut itu yang kemudian tertawa lepas. Setelah itu seperti biasa, sama seperti pelanggan-pelanggan sebelumnya. Dia mengajak aku jalan-jalan dan belanja sampai malamnya aku dibawa ke hotel sial ini.

Ah iya, mungkin aku sial malam ini karena menertawakan wanita itu siang tadi. Terbayang bagaimana sakitnya dia. Tapi kuyakin tidak sesial aku.

Sudah lama aku tahu kalau Mamah jual diri, aku tidak malu atau sedikit pun menghakimi. Berkat Mamah hidupku jadi lebih baik. Setidaknya jauh lebih baik daripada saat Bapak hidup dulu. Saat biaya keluarga ditanggung Bapak, aku bahkan ke sekolah harus naik angkot, hape jadul, dan tidak pernah liburan. Tapi semenjak mamah yang pegang kendali semuanya menjadi lebih mudah tergapai, motorku bagus, hapeku terkini, dan liburan setidaknya sekali dalam sebulan.

Motivasi terbesar Mamah jelas, kematian Bapak dan keberlangsungan hidupku. Jadi aku mendukungnya. Toh jasa yang dia berikan membantu orang-orang yang membutuhkan. Itu juga jadi alasan kenapa aku mengikuti jejaknya saat ada kesempatan. Tapi, respon mamah saat ini membingungkan. Tanganku ditariknya keluar dari hotel. Berjalan cepat, sampai sesekali aku terseret. 

Saat mau keluar ada dua orang satpam yang sok kenal, sedikit banyak menggoda aku dan mamahku. Kami sebenarnya sudah biasa digoda hidung belang, secara, tampilan kami memang menarik. Tapi yang tidak biasa adalah respon Mamah, dia mengamuk dan memaki satpam-satpam itu, lalu berlanjut pergi.

Dengan sigap ternyata dia sudah pesan ojol, jemputan kami sudah menanti di depan gerbang. Di dalam mobil barulah semua sumpah serapah dimuntahkan mamah padaku sambil menangis sejadi-jadinya. Aku ikut menangis bukan karena mengiyakan apa yang dia bicarakan. Aku menangis sesederhana karena itu kali pertama mamah memarahiku.

Kami sampai di rumah, mamah langsung mengunci dirinya di kamar. Malam itu aku banyak merenungkan apa yang mamah ucapkan. Terutama pertanyaan besar apa memang salah yang kulakukan dalam pekerjaan sampingan yang selama ini kujalani. Kalau memang salah, kenapa Mamah memilih profesi ini. Bukannya seorang polisi sangat wajar jika menginginkan anaknya juga menjadi polisi. Atau pejabat, atau PNS, atau pengusaha, mereka semua pasti mendukung jika anaknya memilih karir yang sama. Lalu, apa yang salah dari pelacur, kenapa mamah tidak mau aku memilih jalan yang sama dengannya. Entahlah.

Malam kelam itu berlalu, pagi aku langsung mengetuk pintu kamar mamahku. Dia tidak merespon, berkali-kali kupanggil pun dia tidak keluar, tidak menyaut, mungkin masih marah. Jadi kubiarkan saja. Seharian kutunggu dia keluar, kuhabiskan waktu dengan menonton TV,  meski tak ada tayangan yang menarik juga. Sampai sore akhirnya dia keluar, tapi sudah dengan mode kerjanya. Dia sangat cantik, seperti biasa. Mamah pergi tanpa menyapaku yang melempar senyum ke arahnya. Dia pergi begitu saja.

Malam, 22.34 tiba-tiba aku mendapat panggilan. Saat kuangkat seorang pria langsung menyambar dengan berkata dia dari kepolisian. Tak panjang pikir langsung kumatikan, pasti penipuan. Dia menelepon berkali-kali, kumatikan saja hape. Sampai akhirnya aku tertidur dan esoknya bersiap pergi sekolah seperti biasa. Mamah tidak pulang, aku mulai kepikiran jangan-jangan semalam ada kaitannya dengan ini, sebab mamah tidak pernah tidak pulang. Meski harus pulang subuh. Sigap kuhidupkan hape, ternyata benar saja ada pesan WA yang masuk dari nomor semalam. Pesannya cukup panjang, intinya yang pendek; Mamah mati ditikam pelanggannya. Mayat mamah ditemukan di parkiran hotel. Polisi masih mencari pelakunya dan aku diminta segera ke kantor polisi karena ada kemungkinan ini pembunuhan berencana.

Aku tidak langsung percaya, atau lebih tepatnya tidak mau percaya. Sampai kutelepon pihak kepolisian, aku dijemput ke rumah untuk kemudian dibawa ke ruangan otopsi. Disitu barulah pijakanku terhadap bumi hancur. Setelah Bapak, sekarang Mamah. Penyesalan terbesarku adalah memori terakhir kami merupakan sebuah pertengkaran, bukan momen kasih sayang.

 

Tiga minggu berlalu, pelaku ditangkap, dia ternyata memang berencana membunuh Mamah. Menurut pengakuannya dia sakit hati, semalam sebelum kejadian dia sempat pesan jasa Mamah namun batal karena perselisihan harga. Besoknya dia kembali memesan jasa Mamah, dengan nomor baru, dan terjadilah. Mamah ditikam delapan kali di bagian perut, sekali di leher. Coba saja Mamah tidak cantik, coba saja tidak melacur, coba saja aku lebih mengerti keadaannya. Semua gara-gara mata.



[Tamat?]

Ikuti tulisan menarik Samroyani lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler