Bersekolah di Waktu Senggang

Sabtu, 1 April 2023 06:44 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sekolah pada awalnya memang bermakna waktu senggang, dan belakangan ini bersekolah tampaknya memang semakin memberi banyak waktu senggang, karena para guru cukup mencari soal di Google, dan para siswa pun mencari jawabannya di Google pula.

Sekolah, yang berasal dari kata 'skholē' dalam Bahasa Yunani, pada awalnya memang bermakna waktu senggang.

Namun tidak jarang, jangankan di jadwal sekolah, bahkan di luar waktu sekolah pun waktu senggang anak semakin berkurang dengan banyaknya PR dan tugas lainnya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Untungnya belakangan ini para guru cukup mencari soal-soal di Google, dan para siswa pun dengan mudah mendapatkan jawabannya di Google pula.

Dengan proses pembelajaran yang semakin serba instan semacam itu, boleh jadi sekolah memang kembali ke maknanya semula, sebuah kegiatan mengisi waktu senggang.

Di Yunani kuno dulu, tidak seperti anak budak sebayanya yang harus membantu orang tua mereka bekerja, anak-anak bangsawan memang memiliki lebih banyak waktu senggang.

Waktu senggang ini diantaranya digunakan untuk mempelajari berbagai hal yang dianggap akan berguna untuk kehidupan mereka kelak.

"Non vitæ sed scholæ discimvs" (Kita belajar bukan untuk sekolah, tetapi untuk hidup), ungkap Seneca (5 SM - 65 M) dalam"Moral Letters to Lucilius".

Memasuki abad modern, sekolah (sistem persekolahan) memang tak lagi sekedar kegiatan mengisi waktu senggang, bahkan seolah menjadi satu-satunya otoritas pendidikan.

Meskipun demikian, perkembangan tadi bukan tanpa perdebatan, Thomas Alva Edison, penemu dengan lebih dari 1000 paten, menganggap sekolah sebetulnya sesuatu yang tidak berguna.

Mungkin wajar saja jika dirinya tidak memandang sekolah sebagai faktor yang cukup signifikan untuk perkembangan dirinya.

Edison kecil hanya sempat mengikuti persekolahan tidak lebih dari 12 minggu karena dianggap anak bermasalah oleh guru-gurunya.

Menanggapi ungkapan Edison tersebut, Albert Einstein menyatakan bahwa signifikansi pendidikan (di sekolah) memang bukan terletak pada mempelajari fakta-fakta.

Hal tersebut menurutnya dapat dilakukan sendiri dengan membaca buku tanpa perlu sekolah. Bagi Einstein, peran pendidikan di sekolah adalah, "melatih akal untuk berpikir." 

“It is not so very important for a person to learn facts. For that he does not really need a college. He can learn them from books.

The value of an education in a liberal arts college is not the learning of many facts, but the training of the mind to think something that cannot be learned from textbooks.” (Philipp Frank, Einstein: His Life and Times) 

Seandainya Einstein masih hidup saat ini, dia akan menyaksikan betaoa berbagai informasi (kumpulan fakta) dapat dengan mudah didapatkan melalui penelusuran mesin peramban semacam Google.

Belum lagi dengan perkembangan dan penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intellegence [AI]) dalam berbagai aktivitas kehidupan.

Jika sekolah dan para pendidik masih membatasi perannya hanya sebagai penyedia "kumpulan fakta", maka bukan tidak mungkin perannya akan tergantikan Google dan AI.

John Dewey, filosof yang dianggap sebagai bapak ilmu pendidikan modern, suatu kali pernah menyatakan, "Education is not preparation for life; education is life itself." 

Falsafah Minang menyatakannya dalam ungkapan, "Alam takambang jadi guru," yang dengan perkembangan saat ini, sekolah dan para pendidik pun harus ikut berkembang pula.

Kurikulum Merdeka yang dirumuskan Kemdikbud sebetulnya bisa menjadi pintu masuk untuk terus mengembangkan kebijakan dan strategi pendidikan yang sesuai dengan alam dan kehidupan kita hari ini.

Sekolah dan satuan pendidikan lainnya perlu terus diberikan keleluasaan dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang paling sesuai dengan keragaman dan kekhasan situasi yang mereka hadapi.

Instrumen pengawasan dan penilaian satuan pendidikan serta pendidik oleh pemerintah juga tidak bisa terus menggunakan instrumen lama yang mengandaikan keseragaman.

Meski satuan pendidikan dan para pendidik tetap menjadi tumpuan utama dalam pelaksanaan di lapangan, tapi perubahan ini merupakan tantangan bersama.

Sekolah mungkin akan kembali menjadi kegiatan mengisi waktu senggang, tetapi satuan pendidikan dan para pendidik tetap dapat mengambil peran sebagai para pendamping anak (paedagagos) ataupun orang dewasa (andragagos) dalam mengasah kemampuan berpikir dan mengembangkan diri.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Iman Haris

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Para Wirausahawan yang Tidak-tidak

Selasa, 7 November 2023 11:40 WIB
img-content

Politik Positif Toksik

Jumat, 3 November 2023 12:52 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler