x

Senyum siswa belajar sambil bermain

Iklan

Mohamad Syafaat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 April 2023

Minggu, 30 April 2023 08:13 WIB

Memahami Kebaikan

Sangat sering kita mendengar dan mengucapkan kata baik. Misalnya ketika berdoa memohon agar menjadi baik, mendoakan orang menjadi baik, ingin punya keturunan yang baik, hidup yang baik dan lain sebagainya. Tetapi pernahkah anda memikirkan apa yang dinamai baik? Seperti apa kebaikan itu? Agaknya tidak banyak orang memikirkan hal ini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sangat sering kita mendengar dan mengucapkan kata baik. Misalnya ketika berdoa memohon agar menjadi baik, mendoakan orang menjadi baik, ingin punya keturunan yang baik, hidup yang baik dan lain sebagainya. Tetapi pernahkah anda memikirkan apa yang dinamai baik? Seperti apa kebaikan itu? Agaknya tidak banyak orang memikirkan hal ini. Untuk itu saya akan mencoba mengurai apa yang dinamai baik dan mendiskusikan nya kepada pembaca agar dapat dikenali dan dipahami.

Dalam al-quran kata baik paling tidak memiliki enam istilah, yaitu Birru, Khoir, Ma’ruf, Ihsan, Thoyib dan Shaleh.

1. Birru

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kebaikan yang di istilahkan dengan birru adalah kebaikan yang dilakukan secara terus menerus lagi bersifat “rahasia”. Hanya diri pribadi dan Tuhan yang mengetahuinya. Sangat sulit dideteksi oleh orang lain. Diistilahkan dengan Birrul Walidain (kebaikan kepada kedua orang tua) dan Mabrur (haji yang diterima oleh Tuhan). Kebaikan kepada kedua orang tua seyogyanya dilakukan secara terus menerus begitu juga haji yang diterima oleh Tuhan hanya yang bersangkutan yang dapat memahami dan merasakannya.

2. Khoir

Kebaikan yang diistilahkan dengan khoir adalah kebaikan yang bersifat universal. Semua manusia dimanapun seakan menyepakati menganggapnya baik walaupun tanpa ada kesepakatan terlbih dahulu. Misalnya tidak mengambil hak milik orang lain, tidak menyakiti makhluk hidup, menjaga kebersihan, tidak mengganggu dan lain sebagainya. Jika mempraktekkan kebaikan dalam arti khoir akan dapat menciptakan keseimbangan, persatuan, kerukunan dan keharmonisan. Diistilahkan dengan Da’wah bil khoir, yaitu Da’wah (mengajak) orang kepada kebaikan dengan kebaikan universal.

 Khoir juga dari segi bahasa seakar dengan kata khiyar yang berarti memilih, mengesankan ada pilihan terlebih dahulu sebelum melakukan perbuatan sehingga melakukannya secara sadar. Ada unsur kesadaran di dalamnya. Jika tidak sadar atau tidak ada pilihan (terpaksa) tidak di kategorikan baik perbuatannya dari segi nilainya.

3. Ma’ruf

Kebaikan yang diistilahkan dengan ma’ruf adalah kebaikan yang didasari oleh pengetahuan. Nilai – nilai nya sudah diketahui dan disepakati terlebih dahulu. Kebaikan yang dapat dirumuskan dan bisa menjadi aturan – aturan. Karena itu kebaikan dengan istilah ini sangat bergantung dengan ruang dan waktu. Bisa jadi baik di tempat dan waktu tertentu tetapi buruk di tempat dan waktu yang berbeda. Nilainya dapat berubah – ubah sesuai dengan tempat dan waktunya juga perkembangan zaman. Diistilahkan dengan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Amar (memerintah) orang kepada kebaikan dengan tidak melanggar aturan. Jika dalam melakukan perbuatan tanpa dasar pengetahuan atau melanggar aturan, maka tidak di kategorikan baik perbuatan yang dilakukan dari segi nilainya.

4. Ihsan

Kebaikan yang diistilahkan dengan Ihsan adalah kebaikan yang berdasar hati nurani tanpa melihat kewajiban ataupun didasarkan pada pamrih. Berasal dari kemurnian hati nurani, penuh ketulusan. Misalnya, mengajari baca tulis kepada orang buta huruf padahal bukan merupakan kewajibannya mengajari. Ada keterpanggilan hati nurani dalam melakukannya. Ihsan juga dapat berarti keindahan. Ini mengesankan melakukan kebaikan dengan nilai – nilai estetika. Misalnya menasehati dengan tidak menggurui, menolong dengan tidak menghinakan, menegur orang lain saat sendiri tidak di depan orang banyak dan sebagainya.

 5. Thoyib

Kebaikan yang diistilahkan dengan Thoyib adalah kebaikan yang proporsional. Tidak berlebihan dan tidak juga kekurangan (setengah – setengah) dalam melakukannya. Sesuai dengan kadar keperluannya. Diistilahkan dengan Halalan Thoyyiban (halal lagi baik). Melakukan sesuatu yang di bolehkan sesuai kadar keperluannya. Misalnya makan makanan sesuai dengan porsi perutnya.

6. Shaleh

Kebaikan yang diistilahkan dengan shaleh adalah kebaikan sesuai dengan kepantasan. Tingkat ke-Shaleh-an sebuah kebaikan ditandai dengan semakin sedikitnya mudhlarat yang ditimbulkan. Shaleh nya masing – masing individu berbeda. Shaleh nya kurir paket ialah amanah. Shaleh nya pemimpin ialah adil. Shalehnya pelajar ialah belajar. Shaleh nya seorang ilmuwan ialah jujur menyampaikan apa adanya sesuai dengan hasil yang didapat nya.

Dari uraian tentang kebaikan diatas, dapat dipahami bahwa kebaikan haruslah dilakukan secara terus menerus, dilakukan dengan penuh kesadaran, berdasar pengetahuan, dilakukan dengan tulus lagi penuh keindahan, sesuai kadar keperluannya dan dengan kepantasan. Menjadi baik haruslah memerhatikan hal – hal tersebut. Selain itu semua, perbuatan baik erat kaitannya dengan niat pelakunya.

Ikuti tulisan menarik Mohamad Syafaat lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan