x

Halaman sampul buku cetakan ke-32

Iklan

Meidy Maulidiya 11504

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Mei 2023

Jumat, 5 Mei 2023 13:16 WIB

Pentingnya Menjaga Pendirian dalam Novel Atheis

Atheis adalah sebuah novel karya Achdiat Karta Mihardja yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1949. Roman yang menggunakan tiga gaya naratif ini menceritakan tentang seorang pemuda desa bernama Hasan yang mengalami pergolakan agama dan mengingkari keyakinannya pada agama. Keyakinan Hasan terhadap tokoh tersebut awalnya kuat, namun segera terguncang setelah ia mulai bekerja di Bandung dan menemui banyak hal yang tidak ia ketahui sebelumnya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

IDENTISTAS BUKU

 

Pengarang: Achdiat Karta Mihardja

Negara : Indonesia

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Bahasa : Bahasa Indonesia

Genre : Novel, roman

Penerbit : Balai Pustaka

Tanggal terbit : 1949

Jenis media : Cetak (kulit keras & lunak)

Halaman : 224 (cetakan ke-32)

ISBN : ISBN 978-979-407-185- 4 (cetakan ke-32) Invalid ISBN

 
TENTANG PENULIS

 

Achdiat Karta Miharja, atau lebih populer dengan Achdiat K.Mihardja adalah sastrawan Indonesia yang lahir di Cibatu, Garut, Jawa Barat, pada tanggal 6 Maret 1911. Ia terkenal karena romannya, Atheis, yang diterbitkan pada tahun 1949. Atheis dianggap sebagai salah satu karya sastra terpenting Indonesia setelah Perang Dunia II.

Achdiat banyak menulis, baik karya sastra maupun esai sastra dan kebudayaan. Novelnya yang berjudul Atheis menjadikannya sebagai salah seorang pengarang novel terkemuka di Indonesia. Banyak pakar sastra yang membicarakan ketokohan Achdiat. A.Teeuw dalam Sastra Baru Indonesia (1970) menyatakan bahwa Achdiat sebagai tokoh sastra yang penting dan amat terkenal dengan novelnya Atheis sebagai novel yang ditulis sesudah perang benar-benar menarik dan bernilai.

PEMBAHASAN

Kita bisa belajar bagaimana cara agar kita tidak mudah terbawa oleh pengaruh teman. Dalam setiap kehidupan manusia tentunya kita mendapat ajakan dari teman-teman yang bisa mempengaruhi kita bukan? Nah, pada artikel ini saya akan membahas tentang menjaga diri agar tidak terpengaruh oleh hal-hal negatif.

Atheis mengisahkan Hassan, putra dari orang tua yang saleh dan taat terhadap agama, Sejak kecil Hasan dibesarkan sebagai anak yang saleh, diajari salat dan mengaji.Hasan menyukai seorang gadis bernama Rukmini, namun ternyata Rukmini dijodohkan oleh orang tuanya. Hal tersebut membuat Hasan sedih, sehingga hasan menjadi lebih dekat dengan Tuhannya.

Kehidupan Hasan berubah ketika bertemu dengan Rusli. Rusli adalah teman lama Hasan. Rusli mendatangi Hasan bersama dengan temannya, yaitu Kartini. Wajah Kartini sangat cantik dam mirip dengan Rukmini. Namun, Kartini adalah wanita modern yang bebas pergaulannya. Kartini ini adalah seorang janda yang tidak memiliki anak.

Karena wajah Kartini yang cantik dan Mirip dengan Rukmini, Hasan pun jatuh cinta dengan Kartini. Hasan mulai akrab dengan Kartini dan Rusli dan berkenalan dengan teman-teman Rusli dan Kartini yang lainnya. Hasan berniat untuk mengajak Rusli dan Kartini taat pada agama dan menjauhi dunia pergaulan bebas itu dengan sering memberikan ceramah kepada Rusli dan Kartini. Akan tetapi, usahanya tidak berhasil karena kepandaian Rusli dalam berbicara dan malah menjerumuskan Hasan ke jalan yang tidak benar.

Keimanan Hasan menjadi menurun dan Hasan menjadi meragukan keberadaan Tuhan. Pergaulannya pun menjadi bebas dan jauh dari agama. Setelah kejadian tersebut, Hasan mulai sadar bahwa dia sudah terpengaruh dari ajakan seorang teman dan hal tersebut membuatnya jauh dari Tuhannya. Hasan menyesali perbuatannya dan berdoa atas apa yang telah diperbuatnya.

Dari cerita mengenai kisah hidup hasan kita dapat mengambil pelajaran bahwa pentingnya menjaga pendirian diri agar tidak terpengaruh dan pada akhirnya menyesal. Agar kita tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain tentunya kita harus memiliki kekuatan iman dan ketakwaan agar senantiasa berada di jalan yang benar, selalu mendengarkan perkataan baik yang dikatakan oleh orang tua, menjaga jarak dengan teman yang mempunyai pergaulan yang bebas, dan selalu berpikir akan risiko yang terjadi. Oleh karena itu kita harus bisa memegang kendali paling kuat agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang pada akhirnya menyusahkan diri.

 

 

Ikuti tulisan menarik Meidy Maulidiya 11504 lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler