Ainul, Guru PAUD yang Mengembangkan Trauma Healing di Desanya

Selasa, 23 Mei 2023 07:20 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Anak-anak dan remaja di sekitar Ainul banyak mengalami kekerasan secara fisik dan verbal. Mereka mengalami luka batin, dan sebagiannya mencari pelarian dengan mengonsumsi narkoba. Ainul merasa terpanggil untuk memberikan layanan kepada anak-anak dan remaja yang enggan pergi dopkter atau klinik. Ia mengembangkan kelas ssoail “Awareness to the Universe” sebagai wadah melakukan self healing dan menjaga kesehatan mental. Karya ini sangat menarik dan berhasil membangun sebuah kegiatan sosial yang memberikan manfaat kepada masyarakat di desanya. Ia pun mendapatkan anugerah Satu Indonesia Award tahun 2022

Margio, tak berdaya. Sejak kecil ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri berbagai tindak kekerasan dalam keluarganya. Hampir setiap hari Komar—ayah kandungnya—memukuli Nuraeni—ibu kandungnya, sampai babak belur. Ia sendiri mengalami berbagai tindak kekerasan dari Komar. Tak henti-hentinya, hampir setiap hari pula.

Kekerasan itu semakin meningkat, terlebih ketika Nuraeni memilih jalan melakukan hubungan badan dengan Anwar Sadat, laki-laki yang ternyata juga hanya memanfaatkannya, dan tak kalah kejam dalam memperlakukan Nuraeni. Perempuan itu hamil, dan Komar semakin memiliki alasan melakukan kekerasan, bahkan sampai pada ketika Nuraeni melahirkan bayinya, yang hanya bertahan selama tujuh hari sejak kelahirannya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Margio memendam sakit hati, dan kemarahan yang luar biasa kepada Komar, dan Anwar Sadat. Laki-laki yang menghamili ibunya. Berbagai perasaan campur aduk dalam dirinya, kegelisahan, kemarahan, kebencian, dan kehendak untuk membebaskan ibu dan dirinya sendiri dari jerat perilaku tidak manusiawi itu.

Mario sungguh mengalami trauma sejak masa kecilnya, trauma dari berbagai tindak kekerasan yang disaksikan dan dialaminya. Ia tak memiliki jalan lain untuk membebaskan ibu dan dirinya dari kekerasan, kecuali membunuh Anwar Sadat. Pembunuhan itu seakan menjadi cara terbaik, meski secara fisik ia lantas harus dalam pembatasan gerak: masuk penjara.

Begitulah, Eka Kurniawan menggambarkan bagaimana trauma tumbuh dan terus mengakar di diri Margio, dalam novel Laki-laki Harimau (2014). Pertanyaannya, apakah kisah Margio fiksi belaka?

Tentui saja tidak. Secara faktual peristiwa-peristiwa yang dikisahkan dalam novel ini sungguh-sungguh nyata, dan ada dalam kehidupan keseharian. Bahkan mungkin dalam kehidupan orang-orang terdekat kita.

Lihat saja, misalnya, pada tahun 2022 terdapat 16.899 aduan kekerasan rumah tangga yang masuk ke pos pengaduan KemenPPPA RI, dan pada tahun yang sama terdapat 18.142 korban kekerasan. Dari sisi pelaku, sebagian besar pelakunya suami dengan angka 4.893 kasus.

Kasus ini tentu saja sangat memprihatinkan, sehingga Indonesia nyaris masuk dalam situasi darurat kekerasan dalam rumah tangga. Padahal negeri ini sudah memberlakukan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT).

Trauma dan Trauma Healing

Anak-anak dan perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga atau sering disebut juga dengan kekerasan berbasis gender (KBG) selalu mengalami trauma, bahkan bisa berkepanjangan dan tak bisa hilang sama sekali dalam diri seseorang. Selain kekerasan dalam rumah tangga, trauma juga bisa terjadi ketika seseorang mengalami kekerasan seksual—seperti perkosaan, termasuk yang terjadi pada masa kecil, mengalami bencana alam yang mengancam jiwanya, dan peristiwa lain yang menegangkan dan mengerikan, termasuk tindakan verbal.

Orang-orang yang mengalami trauma, jika tak segera ditangani, akan mengalami banyak persoalan dalam menjalani hidupnya. Misalnya, secara fisik mereka yang mengalami trauma bisa tiba-tiba merasakan sakit kepala, sebagian lagi mengalami sulit tidur (insomnia) yang jika terus menerus akan mengganggu kesehatan tubuhnya, karena terjadi kurang tidur. Mereka juga bisa merasakan sering kelelahan, dan jantung berdebar.

Sedangkan secara psikis mereka yang mengalami trauma bisa menjadi seorang yang pendiam sampai tak lagi mau bergaul di masyarakat, pemarah sampai melakukan berbagai tindak kekerasan terhadap dirinya dan juga orang lain. Mereka juga bisa mengalami depresi berkepanjangan, masuk dalam situasi kebingungan dan putus asa. Kecemasan dan ketakutan yang terus menerus pada akhirnya bisa menjadi pemicu melakukan tindak bunuh diri.

Upaya-upaya mengatasi trauma agar seseorang tidak masuk dalam pusaran Post-traumatic Stress Disorder (PTSD), ketika kondisi kesehatan mentalnya mulai terganggu, dan akan menimbulkan masalah-masalah lanjutan. Upaya inilah yang coba dikembangkan Ainul Husna Heruditya S.Ag, perempuan dari Desa Rasabou RT 13 RW 04, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Ainul mendapati kehidupan di kampungnya cukup memprihatinkan. Banyak anak tidak sekolah, dan sebagiannya malah mengonsumsi narkotika terutama jenis (tramadol). Masyarakat dengan mata pencaharian petani dan pekerja dengan pendapatan rendah, menjadikan mereka abai terhadap persoalan parenting dan kesehatan mental. Anak-anak mengalami kekerasan fisik dan verbal.

Menurut Ainul situasi ini menjadikan anak-anak tumbuh sebagai karakter-karakter yang temperamen, pendendam, dan impulsif. Pola asuh yang salah dalam keluarga menyisakan luka batin dalam diri anak-anak. Situasi yang sangat tidak baik untuk masa depan mereka sendiri, dan perkembangan sosial masyarakatnya.

Keadaan lingkungann ini yang menumbuhkan keinginan Ainul memberikan kontribusi positif kepada anak-anak di desanya. Ia mengambil keputusan mengembangkan sekolah Pemberdayaan Diri Awareness to the Universe. Ini sebuah kelas sosial untuk memfasilitasi proses pemberdayaan diri mengenai kesehatan mental dan self healing secara offline dan online dengan memanfaatkan sosial media (Instagram, WhatsApp, dan Facebook).

Kelas sosial ini dikembangkan mulai tahun 2018 dengan melibatkan teman-teman dekat Ainul. Dan semakin berkembang pada tahun 2019 dengan melakukan kerja sama antara kelas sosialnya dengan PKK  dan Dinas KB Kecamatan Bolo.

Materi dalam kelasnya pun mulai berkembang, tidak hanya coaching, melainkan juga mengembangkan tema, seperti ‘Reading Energy" (membaca pesan pikiran bawah sadar, dan pola dominan pikiran dengan kartu tarot atau oracle card (card healing)), coaching, self healing, dan meditasi.

Dengan kelas sosial ini, anak-anak dan remaja bisa terbantu, yang sebelumnya tidak mendapatkan layanan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. Sebab mereka memang enggan pergi ke klinik atau dokter untuk menyembuhkan luka batinnya.

Untuk memperkuat gerakannya, Ainul menjadi tenaga pendidik di lembaga pendidikan anak usia dini di desanya. Melalui lembaganya ini, ia bisa menjangkau orang tua agar terlibat dalam kelas parentingnya. Dengan upaya ini, Ainul ingin mem[erbaiki pola asuh orang tua.

Tampaknya, ikhtiar Ainul tidak sia-sia. Tidak saja mendapatkan sambutan dari masyarakat sekitarnya, anak-anak dan remaja, ia juga mendapatkan kesempatan Anugerah Satu Indonesia Award 2022 karena kontribusi dalam mengembangkan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya.***

Bagikan Artikel Ini
img-content
Mukhotib MD

Pekerja sosial, jurnalis, fasilitator pendidikan kritis

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler