x

Saus untuk Ban Karangasem Reza dan Tim persembahan Reza dan Tim

Iklan

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Selasa, 30 Mei 2023 14:55 WIB

Kiprah Reza Riyady Pragita Pembuat Saus Demi PHBS di Desa Ban Karangasem Bali

Sarjana membangun desa adalah ajakan sekaligus harapan yang digemakan sejak zaman Orde Baru. Namun, faktanya hanya sedikit yang jiwa raganya terpanggil.   Kiprah Reza Riyady Pragita, S.Kep nomine #Satu Indonesia Award 2022 adalah salah satu contohnya. Kisahnya inspiratif buat kalian, generasi muda. Apa yang dilakukan Reza dan timnya? Ia membuat SAUS demi PHBS masyarakat Ban Karangasem Bali.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sarjana membangun desa adalah ajakan sekaligus harapan yang digemakan sejak zaman Orde Baru. Namun, faktanya hanya sedikit yang jiwa raganya terpanggil.   Kiprah Reza Riyady Pragita, S.Kep adalah salah satu contohnya. Kisahnya inspiratif buat kalian, generasi muda. Apa yang dilakukan Reza dan timnya? Ia membuat SAUS demi PHBS masyarakat Ban Karangasem Bali.

 

SAUS merupakan akronim dari Sumber Air Untuk Sesama.  PHBS ialah akronim dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.    Sedangkan Ban Karangasem adalah nama desa yang berada di Kabupaten Karangasem Bali.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Itu sebabnya, bisa dibilang Program SAUS yang digagas Reza bukan sembarang SAUS. Bukan pula soal saus penyedap masakan. Ia berkaitan dengan hajat hidup, yaitu masalah kekurangan air yang dialami warga Desa Ban Karangasem.

 

Letak Desa Ban Karangasem

Mengenal Desa Ban secara historis cukup menarik. Walau sangat sedikit sumber yang diperoleh, melalui situs http://sikn.karangasemkab.go.id/index.php/image-17 disebutkan, pada abad 18 sekitar tahun 1813 di wilayah lereng gunung Agung di bagian utara terdapat beberapa penduduk yang bermukim secara terpencar ada di dalam wilayah yang dibatasi oleh beberapa gunung.

 

Saat itu,  penduduk memiliki tempat tinggal yang pasti karena sekitarnya merupakan hutan belantara. Hanya di bagian bawah terdapat penduduk yang tinggal menetap di wilayah tinggal.  Pada waktu itu wilayah belum memiliki pusat pemerintahan yang pasti. Namun,  dengan terjadinya bencana alam yaitu gempa yang sangat dahsyat, wilayah lereng gunung Agung menjadi hancur.

 

Dengan adanya bencana alam tersebut, masyarakat di lereng perbukitan berduyun-duyun turun mencari tempat yang aman.  Maka, menetaplah mereka di wilayah pinggiran. Para penduduknya merasakan aman.

 

Suatu saat, para tokoh masyarakat berkumpul untuk membahas pembentukan desa  termasuk membahas penamaan desa.  Setelah melalui proses, ditetapkanlah nama  desa berdasarkan sejarah awalnya, yaitu sebuah desa yang dibentuk atas dasar kedatangan masyarakat secara berduyun-duyun.

 

Dalam Bahasa setempat, kedatangan dalam jumlah banyak tersebut itu dikenal dengan istilah ‘beban, keban, min do-yoon’. Dari kata  ‘beban’ inilah cikal bakal nama Desa Ban.

 

Secara geografis dan administratif Desa Ban merupakan salah satu dari 78 desa di Kabupaten Karangasem Bali. Ia memiliki luas wilayah 7095 ha. Secara topografis Desa Ban terletak pada ketinggian lebih kurang 500 m di atas permukaan laut.

 

Posisi Desa Ban yang terletak pada bagian Barat Kabupaten Karangasem,  berbatasan langsung dengan sebelah barat Desa Tianyar Tengah. Sebelah Timur perbatasan Desa Sukadana Utara Desa Tianyar serta sebelah Selatan hutan lindung Kecamatan Kintamani. Lahan atau tanah Desa Ban  100% merupakan lahan atau tanah kering.  

 

 

Reza Riyady Pragita menambahkan,  Desa Ban Karangasem terletak di antara 3 gunung yaitu Gunung Agung, Gunung Abang dan Gunung Batur. Desa Ban ini merupakan desa yang paling terkena dampak saat terjadi bencana Gunung Agung meletus.

 

Desa Ban Karangasem berjarak 70 km dari Pusat Kota Denpasar, 38 km dari pusat Kota Semarapura Kabupaten Klungkung, dan 49 km dari pusat Kota Amlapura Kabupaten Karangasem. Hasil Profil Kesehatan Provinsi Bali 2019, angka kesakitan diare pada Balita angka Karangasem 55,6 %, dan Desa Ban merupakan salah satu daerah dengan masalah penyakit tersebut.

 

 

“Bali yang mendapat julukan sebagai “The Island of God” dan salah satu pulau yang maju perkembangan ekonomi dan pariwisatanya memiliki kisah sedikit pilu” tutur Reza.

 

Betapa tidak? Masih dijumpai adanya kesenjangan sosial dan kesehatan terutama yang dialami masyarakat Desa Ban Karangasem. Bayangkan, mereka hanya mandi 3 hari sekali. Tidak jarang masyarakat membeli air bersih 1 jerigen dengan harga Rp100 ribu. Sedangkan mereka adalah masyarakat termasuk golongan ekonomi rendah.

 

Tak jarang pula pemandangan yang tampak sepanjang perjalanan di desa ini adalah ibu-ibu dan lansia yang mendorong gerobak untuk membawa air dari sumber gunung ke rumah dengan jarak kurang lebih 5 km. Masyarakat juga sering menunggu bantuan PMI atau donasi air bersih.

 

Kondisi lain yang memrihatinkan adalah  banyak dari mereka yang tidak memiliki jamban bersih,  sehingga mereka masih memiliki kebiasaan BAB di kebun walaupun desa ini memiliki jamban bersama.

 

Kondisi inilah yang memotivasi Reza Riyady Pragita, alumnus PSIK Universitas Jember dan kini mengabdi sebagai perawat di RSUD Klungkung, tergerak turun tangan. Bersama dengan timnya, ia mendirikan komunitas bernama Komunitas Bali Tersenyum.id. dengan program ‘SAUS (Sumber Air Untuk Sesama) untuk PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)’ di Desa Ban Karangasem.

 

 

Program ini didirikan Reza bersama dengan Pro Bali Ambasssador Angkatan 2020 yang langsung dinaungi oleh Yayasan Ria Asteria Mahawidia, sebauh Yayasan yang bergerak untuk Pembangunan Bali pada tahun 2016.

 

Reza dan tim lantas melakukan investigasi ke Ban Karangasem pada 2018. Tantangan awal yang muncul adalah medan yang ditempuhnya. Sulitnya akses menuju desa Ban Karangasem. Reza dan tim harus memakan waktu cukup lama untuk sampai ke sana.

 

Salah satu temuaannya adalah Desa Ban Karangasem di Bali kekurangan akses air bersih. Itu sebabnya, ketika diadakan kegiatan bedah rumah di desa ini, Reza dan tim membantu merancang program untuk memberikan akses air bersih dan edukasi PHBS.

 

Hambatan lain selama 3 tahun program, ini berjalan adalah Pandemi Covid-19 yg membuat sulitnya melakukan rapat atua pertemuan tatap muka sehingga edukasi pengembangan program ini kurang berjalan maksimal.

 

Sebagaimana khas pemuda yang berdedikasi dalam giat pengabdian, Reza dan tim tak patah arang. Mereka kemudian melakukan serangkaian kegiatan. Mereka melaksanakan pendekatan dengan tokoh masyarakat dan bermusyawarah, menganalisis AMDAL, merancang RAB, membuka open donation charity project melalui akun media social yaitu fundraising kitabisa.com.

 

Di samping itu Reza dan tim  juga bekerja sama dengan yayasan, pendekatan dan promosi media, pembelian produk bangunan di desa Ban (untuk meningkatkan usaha-usaha ekonomi mikro masyarakat desa Ban Karangasem), investigasi ke sumber air yang dituju untuk dijadikan sumber dari Bak Penampungan Air, pembangunan bak penampungan air, kampanye PHBS, water crisis, dan cara perawatan Bak Penampungan secara berkeberlanjutan di Desa Ban Karangasem hingga peresmian pada Januari 2020.

 

Pembagian donasi sembako kepada warga setempat juga dilakukan, evaluasi program, monitoring, presentasi keilmuwan kampanye water crisis dan PHBS di beberapa lembaga untuk meningkatkan motivasi masyarakat luar membantu pembangunan program ini dan keberlanjutan program.

 

Selain itu juga dilakukan kampanye PHBS perilaku hidup bersih dan sehat, penghematan penggunaan air, management water crisis dan pembuatan bak penampungan air untuk masyarakat yang memiliki kesulitan akses air bersih di desa Ban Karangasem. Bak penampungan air bersih dari sumber mata air pegunungan ini menjadi usaha milik desa sehingga dapat dijadikan sebagai sarana usaha milik desa untuk menjaga perawatan bak tersebut dan membuat bak bak baru untuk mengaliri dusun dusun yang lebih jauh lagi, dengan target masyarakat dapat mengembangkan usaha tersebut menjadi usaha Air Mineral kemasan dan Tirta Pancoran (tempat suci untuk tradisi pembersihan diri di Bali).

 

Sahabat #SATU Indonesia Awards, kalian tertarik ingin berbagi kepada sesama sebagaimana yang dilakukan Reza dan timnya? Silakan mengikuti program ini dan catat syaratnya lewat tautan https://bisnis.tempo.co/read/1699190/astra-buka-pendaftaran-satu-indonesia-awards-2023-simak-syarat-dan-ketentuannya ***

 

 

 

#SATU Indonesia Awards (SIA)   #Kita SATU Indonesia  #satuIndonesia  #Indonesiana

#Slamet Samsoerizal

 

Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu