x

Membuat kebun cabe dengan pertanian organik akan menjaga alam secara berkelanjutan (sumber:tatkala.co)

Iklan

Dewi puspa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 1 Juli 2023 10:16 WIB

Gerakan Pertanian Organik untuk Menjaga Lingkungan

Penggunaan pupuk kimia di kalangan petani makin meluas. Pemakaian pupuk kimia yang berkepanjangan bisa merusak kandungan unsur hara dalam tanah dan merusak akar tanaman. Belakangan muncul gerakan pertanian organik, seperti yang digagas I Komang Edi Juliana. 

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Penggunaan pupuk kimia di kalangan petani makin meluas. Pupuk kimia memang punya kelebihan yaitu harga yang murah, mudah digunakan, dan kandungan di dalamnya juga bisa diperiksa. Namun pemakaian pupuk kimia yang berkepanjangan bisa merusak kandungan unsur hara dalam tanah dan merusak akar tanaman. Selain itu mikroorganisme yang membantu proses penguraian juga bisa musnah. Oleh karenanya belakangan muncul gerakan pertanian organik, seperti yang digagas oleh I Komang Edi Juliana. 

Gerakan pertanian organik yang digagas oleh kelompok Amerta Giri Lesung alias Taring yang digagas dan diketuai oleh Komang Edi Juliana ini berlokasi di Lereng Bukit Lesung, Banjar Tamblingan, Munduk. Kelompok ini memiliki tujuan agar para petani bisa mengurangi ketergantungan akan pupuk kimia dan pestisida. Tujuan jangka panjangnya tentunya untuk menjaga lingkungan Bali dan mewujudkan Bali sebagai pulau organik.


Para petani di sekitarnya banyak yang mengeluh akan harga pupuk kimia yang terus menanjak. Keluhan juga mencakup penyakit tanaman dan penggunaan pestisida yang dalam jangka panjang juga bisa menganggu ekosistem. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

I Komang Edi Juliana adalah pemuda asal Desa Munduk, Banjar, Buleleng, Bali. Ia tergabung dengan kelompok petani muda keren dan petani milenial. Ia juga dikenal sebagai petani petualang karena ia sering berkeliling ke berbagai pelosok dan daerah di Bali, bertemu petani, mengobrol dengannya tentang pertanian dan berbagai masalahnya,serta mengedukasi cara mengelola pertanian terutama cara mengelola pertanian organik.


Pemuda kelahiran 9 Juli 1999 ini pernah menempuh studi pertanian saat menimba ilmu di SMKN 1 Petang. Lantas pada tahun 2016 ia mendirikan Amerta Giri Lesung sembari mengenalkan teknologi terbarukan dan menjadi wadah mencari solusi atas masalah-masalah yang dialami oleh para petani. Edi punya keyakinan bahwa pupuk kompos akan menjadi salah satu solusi membantu para petani yang mulai tergantung akan pupuk kimia.


Ia bersama 12 anggota kelompok tak serta-merta berhasil membujuk petani untuk beralih ke pupuk kompos. Sembari melakukan edukasi, ia bersama Taring memproduksi pupuk dari limbah budidaya tanaman seperti cengkeh, kopi, dan aneka sayuran. Selanjutnya ia perkenalkan pupuk kompos produksinya dengan harga murah. Pupuk kompos dengan harga Rp40 ribu ini diyakininya berkualitas tinggi. Tak ada campuran tanah, murni kompos.


Namun meski diperkenalkan dengan intensif dan Edi Juliana tak putus asa menyadarkan bahayanya penggunaan pupuk kimia secara berlebihan, namun tetap saja tak banyak petani yang menggunakan produknya. Untuk itu, ia dan anggota Taring harus bersabar. Mereka terus rajin untuk melakukan sosialisasi, mencoba sendiri pupuk tersebut, dan memberikan bantuan subsidi demi merebut kepercayaan para petani.


Lambat laun para petani mulai tergerak menggunakan pupuk kompos buatan Taring. Total ada 50 petani yang kini menjadi pelanggan pupuk komposnya. Dengan menggunakan pupuk kompos maka modal untuk bertani menjadi lebih rendah jika dibandingkan sebelumnya. Alhasil mereka mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari harga jual saat panen dibandingkan sebelumnya.


Taring sendiri tak hanya mengolah limbah tanaman budidaya untuk diolah menjadi pupuk kompos. Ia juga mengolahnya menjadi pakan ternak. Kini Taring punya empat divisi utama, yakni unit budidaya tanaman, unit pupuk kompos, unik ternak dan pengolahan limbah ternak, dan juga unit pengolahan pasca panen dan pemasaran. Edi Juliana juga sedang mencoba memproduksi bio pestisida sehingga nantinya di Bali terwujud pertanian organik yang lebih ramah lingkungan.


Atas jerih payahnya I Komang Edi Juliana meraih penghargaan dari Astra Indonesia berupa SATU Indonesia Awards. Ini adalah penghargaan yang prestis diberikan oleh Astra untuk para penggiat lingkungan dan juga penggiat lainnya di bidang pendidikan, wirausaha, teknologi, dan kesehatan. Kalian juga bisa menjadi seperti mereka. Yuk berikan kontribusi ke lingkungan sekitar dan daftarkan diri kalian ke ajang Satu Indonesia Awards 2023.

Ikuti tulisan menarik Dewi puspa lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu