x

Iklan

Mukhotib MD

Pekerja sosial, jurnalis, fasilitator pendidikan kritis
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 16 Juli 2023 19:30 WIB

Kalanaya; Monolog Cinta (2)

Kalanaya; Monolog Cinta, sebuah kumpulan puisi tentang petunjuk jalan pulang menuju Allah, dari lisan perempuan yang meratapi cintanya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Jalan Zikir

2/

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Saya, Kalanaya

perempuan suku asli di pulau Sumatra bagian selatan

tubuhku sangat bagus, kulitku bersih

setidaknya begitulah kekasihku bilang

saya tak percaya

tetapi ia selalu mengatakannya

berkali-kali

dan hampir tak berkesudahan

sering saya malah merasa bosan

meski akhirnya menerima sebagai kebenaran.

 

Kekasihku bilang

ia lebih suka kecerdasanku

ketimbang kecantikanku

itu yang membuatnya jatuh cinta

sampai kepentut-pentut

tahan puasa tujuh hari

hanya berbuka nasi putih segenggaman

katanya untuk membuat hatiku menjadi luluh.

 

Selama berpuasa

selalu ia membaca surah Yusuf

tiga kali setelah salat Magrib, Subuh, dan Zuhur

membaca Asma Allah

ya Latif ya Latif ya Latif

ya Fatah, ya Fatah, ya Fatah.

 

Saya menuduhnya sedang amalkan ilmu mahabbah

ia menggeleng

lalu pergi begitu saja

menghilang di tikungan bulan pendar

berbelok kanan di depan rumah Kiai Mundzir

pengasuh Pesantren tempatku nyantri.

 

Kekasihku tak pernah bicara soal tubuhku

jujur saja ya, saya bisikkan kepadamu

tubuhku padat berisi

saya merawatnya sebaik mungkin

rutin minum ramuan pembuat glowing dari Mbok Yem

bakul jamu gendong

seminggu sekali

ia datang ke asrama putri

wajahku menjadi bersinar

pipiku menu-menul

kemambung.

 

Kata nenekku

tubuh memang harus diurus

agar tak menjadi lemah

tak berdaya

kumuh seperti gombalan

tergeletak

terlempar dari jemuran

kusut.

 

Kalau tubuh sudah tak sehat

sakit-sakitan

akan memengaruhi jiwa

hati menjadi rapuh

banyak penyakit masuk

menakhodai jalan hidup.

 

Saya Kalanaya

perempuan berhati welas

ingat benar saat mengaji

kiai bercerita entah apa dalilnya

tubuh akan sehat dengan cukup gizi dan protein

jiwa bisa menjadi kuat saat diajak zikir.

 

Allah, Allah, Allah

meluncur lafaz

dari bibirku yang selalu memanggul senyum tiada henti

karena katanya senyum ibadah

saya terus berzikir

suara mengayun naik dan turun

mengikuti derai angin

dalam dekapan malam yang terus melarut

pekat tak ada yang terlihat

hanya samar bayang kekasihku berkelebat.***

Ikuti tulisan menarik Mukhotib MD lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB