x

Sumber foto: Pixabay.com, edit dengan Canva

Iklan

Sulistiyo Suparno

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 Juli 2023

Kamis, 10 Agustus 2023 16:39 WIB

Gadis Sampul

Mengapa Rio marah kalau bicara tentang gadis sampul?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sampul majalah itu pink dengan model seorang gadis berambut sebahu. Hidungnya mancung, bibir mungil merah merekah, dagu lancip, sepasang matanya bulat bening seperti bayi. Kulitnya putih bersih. Reyna iri memandangnya.

Lama Reyna memandangi cewek dalam sampul majalah itu. Pasti asyik jadi gadis sampul, punya banyak uang dan terkenal. Terbentang pula jalan menjadi bintang iklan atau bintang sinetron.

Reyna ingin menjadi gadis sampul. Tetapi, hidung Reyna melesak ke dalam, bibir agak tebal, mata lumayan sipit, mana mungkin jadi gadis sampul?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Angan Reyna yang melambung, mendarat kembali pada realita, ketika mobil Rio berhenti di halaman rumah. Reyna meletakkan majalah itu di meja teras dan bangkit dari kursi. Senyum gagah Rio seketika menyegarkan pikiran Reyna dari impian menjadi gadis sampul yang mustahil terwujud itu.

Rio duduk di samping Reyna. Reyna meraih majalah itu dari meja teras dan menunjukkannya pada Rio.

“Cantik sekali ya gadis ini, Rio?” kata Reyna.

Rio tertegun. 

“Yah, cantik,” jawab Rio tidak respek.

“Kalau aku jadi gadis sampul, kamu suka nggak?” tanya Reyna iseng. Cowok manapun pasti bangga kalau pacarnya jadi gadis sampul.

“Nggak. Aku nggak suka!”

“Mengapa?”

“Karena kamu akan terkenal, akan berubah, melupakanku.”

“Mungkin aku akan berubah, tapi aku akan selalu setia sama kamu, Rio.”

“Sudahlah,” Rio memotong. “Benar, kamu ingin jadi gadis sampul?”

“Nggak juga, sih. Aku cuma berkhayal.”

“Aku nggak suka khayalanmu!”

Reyna terhenyak. Tidak biasanya Rio segusar itu. 

“Oke, kita lupakan saja, ya?” Reyna mengalah. 

Mereka pergi ke bioskop di sebuah mal, ternyata loket belum dibuka. Pertunjukan ketiga masih setengah jam lagi. Biasanya, loket dibuka lima belas menit sebelum jam pertunjukan. Reyna mengajak Rio untuk jalan-jalan dulu, menikmati keramaian mal.

Ini malam Minggu. Mal penuh dengan anak muda. Wajah-wajah mereka ceria, dandanan mereka modis. Ganteng-ganteng, cantik-cantik. Hmm, di antara gadis cantik itu, adakah yang pernah menjadi gadis sampul?

Reyna melirik jam tangannya. Loket bioskop pasti sudah buka.

“Kita jadi nonton, kan, Rio?”

Rio hanya bergumam. Rio memang begitu. Dingin dan misterius. Setahun jadian sama Rio, Reyna belum mengenal pacarnya itu secara utuh. Meski begitu, Reyna mencoba tersenyum.

Ketika pintu theatre terbuka, mereka segera masuk. Seperti biasa, Reyna lebih banyak bicara menunggu film diputar. Rio hanya menanggapi dengan kalimat-kalimat pendek.

Kemudian lampu padam. Satu per satu film ekstra berlalu dari layar perak. Kemudian mulailah film utama. Astaga! Bayangan gadis sampul itu menyergap benak Reyna. Reyna membayangkan, kelak gadis sampul itu berakting di layar lebar. Bila itu terjadi, apa Rio mau menemani Reyna nonton film yang dibintangi gadis sampul itu?

Dua jam kemudian mereka sudah berada di pelataran parkir mal. Reyna melihat penjual topi anyaman rotan di trotoar depan mal. Kelihatanya bagus-bagus. Reyna menarik tangan Rio mendekat ke penjual itu. Reyna memilah-milah. Topinya unik-unik. Ada topi model pesulap, Reyna mencobanya.

“Beli topi pesulap ini ya, Rio?” kata Reyna agak merengek.

Rio tidak menjawab, tetapi segera membayar topi itu. Sepasang mata Reyna berbinar gembira dan ia memakai topi pesulap itu menuju mobil. Coba kalau gadis sampul itu memakai topi pesulap dari anyaman rotan, pasti lucu dan cute habis.

Dalam perjalanan, di dalam mobil, Reyna masih memakai topi itu.

“Cantik nggak, Rio?” tanya Reyna.

“Cantik,” sahut Rio melirik Reyna. Kali ini Rio mau tersenyum, meski tipis.

“Cantik mana sama gadis sampul itu?”

Ciiiittt.

Rio mengerem mendadak mobilnya. Tubuh Reyna terdorong ke depan. Bila saja Reyna lupa mengenakan seatbelt, wajah Reyna pasti sudah mencium dashboard.

“Kamu kenapa sih, Rio! Kamu hampir membunuhku, tahu!” akhirnya keluar juga kemarahan Reyna.

“Berapa kali harus kukatakan, jangan sebut-sebut lagi gadis sampul itu!”

“Kamu kenapa, sih, Rio? Kamu selalu sewot kalau aku bicara tentang gadis sampul itu.

Memangnya ada urusan apa kamu sama dia!”

“Karena dia mantan pacarku!” 
***SELESAI***
Sulistiyo Suparno, lahir di Batang, 9 Mei 1974. Karyanya tersebar di media lokal dan nasional. Bukunya yang telah terbit novel remaja Hah! Pacarku? (2006) serta antologi cerpen bersama Bahagia Tak Mesti dengan Manusia (2017) dan Sepasang Camar (2018). Bermukim di Limpung, Batang, Jawa Tengah.

Ikuti tulisan menarik Sulistiyo Suparno lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











Oleh: Lasman Tv

Senin, 12 Februari 2024 15:11 WIB

Bersaksi


Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB