x

Pustaka Bergerak Kehilangan Sosok Nirwan Ahmad Arsuka

Iklan

Muhammad Assegaf

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 Agustus 2023

Senin, 7 Agustus 2023 19:46 WIB

Pustaka Bergerak Kehilangan Sosok Nirwan Ahmad Arsuka

Pustaka Bergerak adalah cita-cita Nirwan yang sudah terwujud. Usia Nirwan akan lebih panjang dari usia hidupnya di dunia ini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oleh : Muhammad Assegaf

Nirwan Ahmad Arsuka yang dikenal sebagai penggagas pustaka bergerak meninggal pada 7 Agustus 2023 di RSCM Jakarta. Ini duka mendalam bagi dunia literasi di Indonesia. Ia selama ini telah menghimpun penggerak pustaka bergerak dari Sabang sampai Merauke, Nirwan, pencinta kuda, telah menginisiasi cara mengantar bacaan untuk anak-anak di daerah terpencil seraya menghidupkan budaya yang hampir punah.

Seorang lelaki menunggang kudanya, jenis unggul dari persilangan sandel Sumba dan Thoroughbred, untuk menempuh perjalanan dari Pamulang di Banten sampai Parongpong di Jawa Barat. Mereka kerap menyusuri jalan-jalan setapak, dari bulan Agustus hingga September 2014.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

"Mereka antusias membantu saya mencari rumput untuk kuda. Anak-anak ini memberitahu saya tentang kondisi setempat, nama ataupun letak lokasi yang sedang saya cari,” kenang Nirwan Ahmad Arsuka. Lelaki ini juga dikenal sebagai penulis dan penggiat di bidang kebudayaan.

Kuda 

Ketika ia mengakhiri perjalanan berkuda kali itu, lembaga tempatnya bekerja, Freedom Institute, telah dibekukan. Alih-alih memikirkan diri sendiri, ia malah mengkhawatirkan kondisi anak-anak di kampung tadi. Ia bertekad membuat perpustakaan bergerak dengan memanfaatkan sebagian uang pesangon. “Buku- buku harus mendatangi anak-anak dan harus dengan cara yang menarik. Kuda itu salah satu binatang yang selalu menarik perhatian anak-anak,” katanya (dari buku Semesta Manusia, karya Nirwan)

Kuda dan buku, dua kata penting bagi Nirwan. Pertama kali mengenal kuda, ia masih kanak-kanak. Kakeknya dari pihak ibu memelihara 780 ekor. Jika tidak pergi bersama ke sungai untuk menangkap ikan, ia diajak kakeknya naik kuda menyusuri bukit-bukit. Pengalaman itu amat membekas.

Namun, kecintaan Nirwan terhadap buku tidak berakar dari kebiasaan dalam keluarga. Buku-buku pertamanya adalah pinjaman dari para mahasiswa yang tinggal di rumah orangtuanya dan para tetangga. Buku-buku tentang alam semesta menjadi favorit. “Mungkin karena pola asuhan yang dilakukan Kakek. Dari kenangan yang indah tentang sungai, gunung dan bintang-bintang, jaraknya sudah sangat dekat dengan apresiasi terhadap alam semesta. Saya kira, semua anak yang sehat pasti punya keterpukauan pada langit, laut, dan obyek-obyek alam yang memang memukau ini.” Gairahnya terhadap alam semesta tersebut berlanjut hingga ia dewasa.

Bagi Nirwan, jagat raya tak lain dari sekumpulan narasi. Tidak asing atau berjarak, melainkan bagian dari eksistensi manusia. Ia berharap, “Suatu saat orang bisa memahami black hole atau bintang sebagaimana orang membangun hubungan dengan bunga atau kucing, atau kuda.”

Namun, pengetahuan ilmiah seringkali berbenturan dengan pandangan yang konservatif, sempit, dan tertutup. Kali ini ia memihak pemikiran Karl Popper, filsuf Inggris kelahiran Austria, “Dia menganjurkan open society. Keterbukaan dan demokrasi itu penting, agar kebenaran bisa diperiksa bersama."

Pustaka Bergerak 

Pustaka Bergerak memang tidak berfungsi untuk mengumpulkan buku sebanyak-banyaknya, namun mengumpulkan pembaca sebanyak-banyaknya. Kini Pustaka Bergerak memiliki belasan lini di berbagai pelosok tanah air. Mulai Kuda Pustaka, Sepeda Pustaka, Pedati Pustaka, Noken Pustaka, Bemo Pustaka, Motor Pustaka, Jamu Pustaka, Serabi Pustaka, Motor Tahu Pustaka, dan masih banyak lainnya. Semua gurita Pustaka Bergerak tersebut memang melakoni tugas sesuai dengan namanya. Bahkan, jumlah tersebut terus bertambah seiring dengan banyaknya kepedulian masyarakat dan tersebarnya pemberitaan soal Pustaka Bergerak.

Semangat dalam berburu pembaca bersama kawan-kawan timbul dari persoalan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) atau UNESCO menyatakan masyarakat Indonesia paling rendah kedua di dunia dalam hal minat baca. Nirwan Ahmad Arsuka tidak sepakat penuh hasil survei itu. Data itu berdasarkan survei minat baca di 61 negara. Hasilnya,minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen atau menempati peringkat kedua dari negara yang disurvei. Pendiri Pustaka Bergerak, Nirwan Ahmad Arsuka sudah membuktikan jika buku masih sangat diperlukan anak-anak di luar kota besar seperti Jakarta

Minat Baca 

Di daerah terpencil dan kekurangan bacaan, buku-buku bekas yang tiba adalah hadiah yang tidak ternilai. Anak-anak pun berebut buku dan menangis jika tidak mendapat bagian. Di tempat lain, anak-anak akhirnya mencuri buku. Begitu besarnya rasa lapar mereka pada ilmu, mereka sampai melanggar larangan Tuhan dan pura-pura lupa mengembalikan buku-buku itu ke tempatnya.

Jarak yang jauh dan medan yang berat tidak menghalangi anak-anak untuk selalu mengunjungi simpul pustaka yang siap menerima mereka. Jika dikaji lebih jauh, bukan buku itu benar yang membuat anak-anak berkerumun. Anak-anak selalu gembira terutama pada kegiatan baca tersebut, baru kemudian pada bacaan itu sendiri. Buku hanya alat bantu. Yang membuat mereka tersenyum lebar adalah kehadiran orang-orang yang bersedia mendatangi mereka, menyapa secara bersahabat dan meladeni rasa ingin tahu mereka.

Kedatangan sukarelawan itu menciptakan peristiwa yang memicu kemunculan rentetan peristiwa lainnya. Peristiwa yang berlangsung inilah kunci sebenarnya. Jika peristiwa tidak lagi seru, anak-anak tidak akan tertarik datang.

Fakta menarik dari berbagai pelosok dibuktikan dengan hadir sukarelawan dari berbagai daerah, bahwa sebenarnya minat baca buku itu tidaklah rendah. Hal yang menjadi minat baca rendah itu dikarenakan karena akses baca yang sulit untuk disalurkan. Jika buku benar-benar ada dihadapannya akan mungkin buku yang tersedia itu habis dibaca dalam jangka 1 bulan.

Sumbangsih 

Sejak 2017 lalu pada tanggal 2 Mei di Istana Kepresidenan Jakarta, kehadiran Pustaka Bergerak yang dikomandoi oleh Nirwan Ahmad Arsuka ini membawakan efek amat luar biasa dari hadirnya Free Cargo Literacy bekerjasama dengan PT POS. Pengeriman buku gratis itu berjalan sekitar dua tahun, dan aktif pengerimannya setiap tanggal 17.

Hal tersebut dirasakan bagi sejumlah Relawan Keluarga Literasi Cirebon (KLC) yang memanfaatkan FCL ini keseluruh penjuru di tanah air. Bermula dari peristiwa Donggala di Sulawesi, peristiwa tsunami selat sunda di Banten yang di mana pada saat memakan 3 korban Band personel Seventeen saat konser, dan daerah-daerah lain.

Nirwan Ahmad Arsuka memiliki banyak sekali harapan yang keuntungannya disumbangsihkan untuk Pustaka Bergerak. Berawal membangun kerjasama dengan Kominfo, Kantor Staf Presiden, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Sygma Daya Insani, Rotary Club, 1001 Buku, Kompas.id, Dana Indosiana, LPDP, dan masih banyak lagi.

Sebagai sosok penggagas Pustaka Bergerak beliau juga telah banyak membangun jaringan yang disisi lain ada feed back yang diberikan kepada relawan di tanah air.

Kehilangan Besar 

Kabar duka selalu membawa sebuah kenangan, suara-suara dari setiap lembaran menjelma pada sel darah merah yang mengalir ke seluruh tubuh. Semangat yang terus menerus menjadi virus, memberikan dampak baik untuk menjawab berbagai persoalan khususnya soal pernyataan minat baca rendah. Perkawanan akan selalu terlihat abadi, dan suatu kabar akan tetap hidup.

Kharismatik beliau dianugerahi Tuhan sebagai orang yang penuh dengan ilmu pengetahuan. Kesederhanaan panutan hidup, dapat diambil hikmahnya. Kabar duka adalah sebuah kabar bahwa beliau dipanggil untuk menghadap Tuhan. Tangis, haru, kini sudah kami ikhlaskan. Kehadiran Pustaka Bergerak adalah bentuk cita-cita yang sudah terwujud “kini usiamu akan lebih panjang, lebih panjang dari usiamu hidup di dunia ini”.

Selamat jalan Nirwan Ahmad Arsuka “jasamu abadi dalam jasaku”. Semoga di dalam pertemuan dari berbagai episode, selaku relawan kami akan selalu menceritakan sebuah ide atau gagasan yang sangatlah gamblang bagi semesta dan generasi bangsa yang ingin hidup seelayaknya. Dengan baitul hikmah bergerak, kami telah suguhkan dengan berbagai sumber ilmu pengetahuan, serta doa yang terus mengalir.

 

Ikuti tulisan menarik Muhammad Assegaf lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler