x

Aspal. Ilustrasi Pembangunan Jalan

Iklan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Jumat, 11 Agustus 2023 18:05 WIB

Mengapa Indonesia Tidak Mau Mewujudkan Hilirisasi Aspal Buton?

Mana yang lebih keren, mengimpor 1,2 juta ton aspal per tahun atau memproduksi aspal Buton ekstraksi sebesar 1 juta ton per tahun?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Indonesia merupakan salah satu negara importir aspal terbesar di dunia. Pada saat ini, Indonesia mengimpor aspal sebesar 1,2 juta ton per tahun. Atau senilai US$ 900 juta per tahun. Disamping itu, Indonesia sudah mengimpor aspal sejak tahun 1980an. Jadi sampai sekarang ini, Indonesia sudah mengimpor aspal selama 43 tahun lebih. Keren, bukan?

Di sisi lain, Indonesia memiliki deposit aspal alam di pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Indonesia merupakan negara yang memiliki deposit aspal alam terbesar di dunia. Diperkirakan jumlah deposit aspal alam ini berjumlah 662 juta ton. Dan seandainya saja deposit aspal alam ini akan diproduksi sebesar 5 juta ton per tahun, maka deposit aspal alam ini baru akan habis setelah 130 tahun. Keren, bukan?

Dengan asumsi kandungan rata-rata bitumen di dalam batuan aspal alam Buton adalah 20%, maka apabila akan diolah dan diekstraksi dari 5 juta ton per tahun batuan aspal alam Buton, maka akan dapat diperoleh 1 juta ton per tahun aspal Buton ekstraksi, yang setara dengan aspal minyak impor. Dengan asumsi harga aspal minyak sekarang adalah Rp 15.000 per kg, maka untuk 1 juta ton per tahun, aspal Buton ekstraksi nilainya adalah Rp 15.000.000.000.000, atau Rp 15 triliun. Keren, bukan?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sekarang apabila kita bandingkan antara mengimpor aspal sebesar 1,2 juta ton per tahun, dengan memproduksi aspal Buton ekstraksi sebesar 1 juta ton per tahun di dalam negeri, mana yang lebih keren untuk bangsa dan negara Indonesia? Kita semua setuju untuk mengatakan dengan suara bulat, bahwa memproduksi aspal Buton ekstraksi 1 juta ton per tahun adalah sangat luar biasa keren bagi bangsa dan negara Indonesia.

Apabila dalam 1 tahun, 1 juta ton aspal Buton ekstraksi nilainya adalah Rp 15 triliun. Maka dalam 130 tahun, maka total potensi nilai aspal Buton ekstraksi ini adalah sebesar Rp 1.950 triliun. Hitung-hitungan kasar ini sangat menggiurkan, bukan? Tetapi mengapa tidak ada satupun pengusaha swasta dan Investor, baik lokal, maupun asing, yang merasa tertarik dan mau berinvestasi di bidang hilirisasi aspal Buton? Para ahli dan konsultan ekonomi dan bisnis yang terkenal sekalipun pasti akan merasa sangat kebingungan mengamati fenomena unik aspal Buton ini. Mengapa keuntungan yang luar biasa besarnya ini tidak ada satupun pengusaha swasta dan Investor yang tertarik mau menggarapnya?

Dan yang lebih sangat mengherankan lagi adalah apabila kita asumsikan hitung-hitungan ini adalah benar, mengapa tidak ada satupun perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang merasa tertarik dan berminat untuk mengolah dan memproduksi aspal Buton ekstraksi untuk mengsubstitusi aspal impor?. Padahal hal ini sudah jelas-jelas tercantum dan sesuai dengan UUD’45, Pasal 33, Ayat 3. Jadi apa sebenarnya masalah aspal Buton? Sehingga pemerintah lebih suka dan antusias untuk impor aspal? Daripada mau memanfaatkan aspal Buton? Apakah mungkin karena kalau kita impor aspal itu adalah lebih keren?

Indonesia sudah mengimpor aspal selama 43 tahun lebih. Dengan asumsi selama 43 tahun lebih ini, setiap tahunnya rata-rata Indonesia mengimpor aspal 800 ribu ton per tahun, atau senilai US$ 500 juta per tahun. Jadi selama 43 tahun, devisa negara yang sudah dikeluarkan untuk impor aspal adalah sebesar US$ 21,5 milyard. Atau Rp 322,5 triliun. Padahal Indonesia memiliki deposit aspal alam sebesar 662 juta ton. Dan kalau diproduksi 5 juta ton per tahun, maka Indonesia akan mampu mengsubstitusi aspal impor selama 130 tahun. Kesimpulannya, dari data-data dan fakta-fakta ini, pertanyaan rakyat hanya satu: “Mengapa Indonesia tidak mau mewujudkan hilirisasi aspal Buton?”.

Ini adalah pertanyaan yang wajib ditanyakan kepada Calon-calon Presiden yang akan mengikuti kontestasi pemilu pada tahun 2024 nanti. Mungkin akan ada salah satu dari para Calon Presiden tersebut yang akan balas bertanya: “Apakah rakyat ingin melanjutkan, atau perubahan?”. Tentu saja rakyat ingin mewujudkan hilirisasi aspal Buton demi untuk menyejahterakan rakyat. Apakah hilirisasi aspal Buton akan dapat terwujud, hanya apabila akan ada perubahan?. Tetapi sejatinya bukan pertanyaan itu yang rakyat harapkan, yang akan keluar dari mulut Calon Presiden. Tetapi rakyat mengharapkan sebuah jawaban yang jujur dari Calon Presiden mengenai pertanyaan: “Mengapa Indonesia tidak mau mewujudkan hilirisasi aspal Buton?”.

Mungkin salah satu dari Calon Presiden yang ditanya, akan menjawab pertanyaan rakyat tersebut, sebagai berikut: “Banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Oleh karena itu setiap 5 tahun sekali akan diadakan pemilihan umum untuk memilih presiden yang baru. Apabila presiden yang lama telah berhasil menyejahterakan rakyatnya, maka pilihlah beliau kembali. Tetapi apabila beliau masih belum mampu menyejahterakan rakyatnya. Maka pilihlah presiden baru, yang akan mampu untuk menyejahterakan rakyatnya. Aspal Buton adalah aset bangsa dan negara Indonesia. Oleh karena itu wajib dikelola dan dimanfaatkan oleh negara untuk menyejahterakan rakyatnya, sesuai dengan UUD’45, Pasal 33, Ayat 3. Jadi sudah jelas dan terang sekarang, bahwa aspal Buton wajib dikelola oleh sebuah perusahaan BUMN demi untuk menyejahterakan rakyat. Dan kalau Indonesia tidak mau mewujudkan hilirisasi aspal Buton, berarti Indonesia tidak mau menyejahterakan rakyatnya. Dan itu berarti Indonesia masih belum merdeka”.

Meskipun rakyat masih merasa bingung dan galau dengan jawaban dari salah satu Calon Presiden tersebut, tetapi keterangannya sudah cukup lugas, tegas, dan jelas. Aspal Buton sebagai sumber daya alam Indonesia wajib dikelola oleh negara, dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Jadi pertanyaan dari rakyat berikutnya adalah: “Kapan hilirisasi aspal Buton akan mulai segera diwujudkan?”. Mungkin pertanyaan ini sebaiknya ditunda dulu. Dan seyogyanya akan ditanyakan, apabila Calon Prsiden tersebut sudah terpilih menjadi Presiden yang baru.

Pemilihan umum masih beberapa bulan lagi. Tetapi rakyat merasa sudah tidak sabar lagi untuk mencoblos gambar Calon Presiden idaman hatinya. Siapakah Calon Presiden idaman hati rakyat? Calon Presiden pilihan rakyat adalah sosok yang akan mampu menjawab pertanyaan rakyat: “Mengapa Indonesia tidak mau mewujudkan hilirisasi aspal Buton?”. Rakyat bertanya kepada para Calon Presiden, bukan karena rakyat tidak tahu apa jawaban dari pertanyaan ini. Tetapi karena rakyat ingin menguji kepribadian Calon Presiden. Apakah Calon Presiden tersebut akan berpihak kepada rakyat, atau berpihak kepada oligarki.

Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler