x

Aspal. Ilustrasi Pembangunan Jalan

Iklan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Rabu, 30 Agustus 2023 16:03 WIB

Rakyat Buton Sakit Hati, Aspal Buton Hanya Menjadi Penonton di Negeri Sendiri

Pilihlah Presiden Republik Indonesia, Gubernur Sulawesi Tenggara, dan Bupati Buton, yang baru, yang akan mampu berempati dan turut merasakan betapa rasa sakit hatinya rakyat Buton, karena sudah selama 43 tahun lebih aspal Buton hanya menjadi penonton saja di negeri sendiri. Ayo, mulai dari saat ini juga, kita harus berani menentukan sikap untuk mau berubah. Dan menjadikan aspal Buton sebagai “Tuan Rumah” di negeri sendiri.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Alih-alih aspal Buton menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Mirisnya, sudah 43 tahun lebih aspal Buton hanya menjadi penonton saja di negeri sendiri. Apakah ada hal lain di dunia ini yang lebih menyedihkan dan menyakitkan hati daripada fenomena aspal Buton ini? Apa lagi tahun depan kita akan memperingati 1 abad aspal Buton. Rasanya sakit di hati yang paling dalam ini, bak diiris-iris oleh sembilu. Kemudian diberi asam cuka. Sungguh sangat-sangat menyakitkan sekali. Sakitnya bercampur antara perih, pedih, dan ngilu. Dan ditambah juga dengan rasa sakit hati, karena marah, geram, dan kecewa. Dan semua rasa itu bergejolak, meledak-ledak, dan bercampur aduk menjadi satu rasa di dalam rongga dada, sehingga menjadi sebuah pengalaman buruk yang traumatis.

Siapakah yang sedang merasakan sakit hati seperti ini? Tentunya rakyat Buton. Karena rakyat Buton adalah identik dengan aspal Buton. Tetapi apakah benar semua rakyat Buton merasakan traumatis dengan apa yang sekarang sedang terjadi dengan aspal Buton? Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa aspal Buton selalu saja diabaikan, direndahkan, dan dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Buktinya, pemerintah merasa lebih gandrung, nyaman, dan antusias untuk terus mengimpor aspal daripada mau mewujudkan hilirisasi aspal Buton. Padahal program untuk mewujudkan hilirisasi aspal Buton ini adalah program pemerintah sendiri yang sudah sesuai dengan UUD’45, Pasal 33, Ayat 3.

Mengutip berita dari fajar.co.id tanggal 21 Januari 2019, dengan judul Kecewa dengan Jokowi, Pemuda Buton Potong Tangan di Depan Istana, La Ode Tasrifin, salah satu pemuda asal Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, terpaksa harus melukai dirinya sendiri. Dengan menggunakan silet, Tasrifin memotong tangan kirinya sebagai bentuk kekecewaan terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi). Aksi tersebut dilakukan saat ia bersama dengan puluhan massa menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Negara. Massa  kecewa dengan janji Presiden Jokowi yang sampai saat ini masih belum direalisasikan. Janji yang dimaksud adalah terkait dengan pengelolaan aspal Buton.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Koordinator Pemuda Buton Karabakti, Yuliadin, mengatakan bahwa sampai sejauh ini sudah beberapa kali dilakukan studi hingga seminar terkait dengan aspal Buton. Tetapi sampai saat ini belum ada tindakan apapun yang dilakukan oleh pemerintah pusat. Padahal, jika pengelolaan aspal Buton langsung ditangani oleh pemerintah daerah, dapat dipastikan akan meningkatkan kesejahteraan di Buton khususnya.

Berita mengenai unjuk rasa dari pemuda Buton di depan Istana Negara yang menuntut janji pak Jokowi untuk mewujudkan hilirisasi aspal Buton merupakan aksi demo yang pertama, dan terakhir, mengenai aspal Buton di masa pemerintahan pak Jokowi. Pada tanggal 27 September 2022 yang lalu, ketika pak Jokowi datang berkunjung ke pulau Buton, Sulawesi Tenggara, ternyata keadaannya aman-aman saja. Tidak ada aksi unjuk rasa sama sekali dari para pemuda Buton. Mungkin hal ini disebabkan karena mereka menyangka bahwa kedatangan pak Jokowi ke pulau Buton tersebut adalah dalam rangka memenuhi janji beliau untuk mengembangkan industri hilirisasi aspal Buton, sebagai tindak lanjut dari hasil demo yang telah dilakukan oleh Yuliadin dan kawan-kawannya pada tahun 2019.

Tetapi sungguh sangat mengecewakan. Setelah hampir setahun berlalu dari kunjungan pak Jokowi ke pulau Buton tersebut, ternyata harapan rakyat Buton kepada pak Jokowi untuk mewujudkan industri hilirisasi aspal Buton itu masih nol besar. Masih belum ada sedikitpun aroma dari keseriusan pak Jokowi untuk menepati janji beliau yang tercium oleh rakyat Buton. Jadi sejatinya, apa sih tujuan kedatangan pak Jokowi ke pulau Buton? Apakah hanya untuk menyakiti hati rakyat Buton saja? Sakit hati rakyat Buton, karena aspal Buton hanya menjadi penonton di negeri sendiri, masih belum terobati. Dan pak Jokowi tega-teganya sudah datang ke pulau Buton hanya untuk menyakiti hati rakyat Buton lagi. Dan setelah itu pergi dan berlalu, tanpa ada sedikit rasa peduli lagi dengan rakyat Buton yang telah berharap banyak dari seorang presiden Republik Indonesia.

Aspal Buton menjadi “Tuan Rumah” di negeri sendiri adalah impian rakyat Buton. Mungkin impian ini sudah menjadi sebuah obsesi dari generasi ke generasi berikutnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, obsesi diartikan sebagai ide atau perasaan yang sangat merasuki pikiran. Mungkin perasaan seperti inilah yang telah merasuki pikiran seorang pemuda yang bernama Tasrifin. Ketika ia melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Negara, Tasrifin telah dengan nekad melukai lengannya sendiri dengan silet sebagai protes atas ketidak adilan di negeri ini. Obsesi aspal Buton menjadi “Tuan Rumah” di negeri sendiri, seharusnya sudah terwujud sejak tahun 2015. Karena pada tahun 2015, pak Jokowi sudah pernah menginstruksikan kepada semua jajaran kementerian-kementerian terkait untuk mengsubstitusi aspal impor dengan aspal Buton.

Mimpi dan obsesi rakyat Buton menjadi “Tuan Rumah” di negeri sendiri masih jauh dari realita. Mari kita sebagai rakyat Buton, khususnya para pemuda Buton, untuk dapat turut merasakan betapa sakit, perih, dan pedihnya, ketika Tasrifin melukai tangannya sendiri. Tasrifin ingin menunjukkan kepada pak Jokowi, bahwa seperti itulah rasa sakit hatinya rakyat Buton. Rasa sakitnya sama seperti rasa sakit yang dirasakan oleh Tasrifin ketika ia melukai tangannya sendiri. Luka berdarah di tangan Tasrifin itu bisa segera sembuh. Tetapi tidak dengan luka di dalam hati rakyat Buton. Luka di dalam hati rakyat Buton hanya bisa sembuh dengan upaya-upaya untuk menyejahterakan rakyat Buton melalui mewujudkan hilirisasi aspal Buton.

Sejarah mencatat bahwa aspal Buton sudah pernah diperjuangkan oleh para pemuda Buton dengan tetesan darah. Darah Tasrifin. Tetapi pemerintah tetap tidak peduli. Lalu rakyat Buton harus bertindak apa lagi? Kalau pak Jokowi memang sejatinya tidak mau menyejahterakan rakyat Buton itu adalah hak pak Jokowi. Oleh karena itu lupakanlah saja pak Jokowi. Tetapi perjuang untuk mewujudkan hilirisasi aspal Buton masih belum selesai. Ke depannya, tidak boleh ada tetesan darah lagi untuk memperjuangkan hilirisasi aspal Buton. Kita tidak perlu melakukan unjuk rasa atau demo lagi. Kita tidak perlu mencaci maki lagi. Kita tidak perlu merasa dendam dan marah lagi. Tetapi kita harus mau berdamai dengan hati kita sendiri. Semoga luka-luka di dalam hati rakyat Buton sedikit demi sedikit akan terobati. Dan mungkin juga justru karena adanya rasa perih dan pedih itulah yang telah membuat semangat dan asa diri kita semakin membaja, dan menjadi lebih kuat dan tabah dalam menghadapi semua tantangan zaman.

Sebentar lagi kita akan mengadakan Pemilihan Umum. Kita akan memilih Presiden Republik Indonesia, Gubernur Sulawesi Tenggara, dan Bupati Buton, yang baru. Selama hampir 1 abad ini rakyat Buton sudah banyak menderita. Karena berkah dari aspal Buton masih belum juga mampu menyejahterakan rakyat Buton. Sekarang sudah tiba saatnya bagi rakyat Buton untuk mulai berjuang bahu membahu, dan bersatu padu demi mewujudkan hilirisasi aspal Buton. Jangan biarkan perjuangan Yuliadin, Tasrifin, dan kawan-kawannya untuk mewujudkan hilirisasi aspal Buton akan menjadi sia-sia dan percuma. Karena sejatinya hanya dengan persatuan rakyat Buton, mimpi dan obsesi rakyat Buton agar aspal Buton menjadi “Tuan Rumah” di negeri sendiri akan segera terwujud.

Wahai rakyat Buton, yakin dan percayalah. Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum, apabila ia tidak ingin atau mau merubah nasibnya sendiri (QS. Ar-Radu’: 11). Janganlah hidup di dalam ketakutan terhadap ketidak-mungkinan. Hiduplah di dalam harapan baik dan optimisme terhadap yang mungkin. Kegagalan hanya terjadi bila kita menyerah. Pilihlah Presiden Republik Indonesia, Gubernur Sulawesi Tenggara, dan Bupati Buton, yang baru, yang akan mampu berempati dan turut merasakan betapa rasa sakit hatinya rakyat Buton, karena sudah selama 43 tahun lebih aspal Buton hanya menjadi penonton saja di negeri sendiri.  Ayo, mulai dari saat ini juga, kita harus berani menentukan sikap untuk mau berubah. Dan menjadikan aspal Buton sebagai “Tuan Rumah” di negeri sendiri.

Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler