Anak-anak Suka Mencuri Permen

Jumat, 22 September 2023 06:48 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sutopo sering mencuri permen di kios Haji Sanip. Bersama tiga teman, Sutopo selalu gemilang mencuri permen yang sebenarnya sanggup mereka beli. Kadang anak 10 tahun itu heran, mengapa Haji Sanip yang mantan polisi tak sanggup menjaga hartanya sendiri?

Sutopo sering mencuri permen di kios Haji Sanip. Bersama tiga teman, Sutopo selalu gemilang mencuri permen yang sebenarnya sanggup mereka beli. Kadang anak 10 tahun itu heran, mengapa Haji Sanip yang mantan polisi tak sanggup menjaga hartanya sendiri?

Meski sejauh ini aman, kadang Sutopo resah membayangkan dirinya tertangkap, diarak warga ke kantor polisi. Bukankah ada pepatah: sepandai-pandai tupai melompat suatu saat akan jatuh jua. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kadang langkah anak kelas 4 SD itu terasa berat bila teman-teman mengajaknya beraksi.

“Kamu takut?” pancing Harsono, teman yang mengajarinya mencuri permen.

“Tidak! Aku berani. Sendiri pun aku berani,” sahut Sutopo.

“Coba buktikan,” tukas Harsono.

“Baik. Kalian tunggu di sini!”

Sutopo celingak-celinguk di depan etalase kios Haji Sanip. Ada tiga etalase alumunium di kios itu. Dua etalase masing-masing panjang sekitar 1,5 meter berada dekat dinding barat dan dinding timur kios.

Satu etalase utama sepanjang sekitar 2,5 meter sebagai pembatas pembeli dengan pemilik kios. Di bagian atas etalase utama inilah letak berderet stoples berisi permen aneka rasa, biskuit, dan jajanan lain. 

Di atas etalase utama ada kawat melintang tempat menggantungkan rencengan-rencengan kopi, susu, minuman serbuk, dan aneka jajanan dalam kemasan saset. Rencengan-rencengan itu kadang menghalangi keberadaan Haji Sanip. Sering lelaki tua itu muncul mendadak dari balik rencengan-rencengan. 

Sutopo mengamati sebuah stoples di bagian atas etalase utama yang penuh permen aneka rasa. Tatapannya penuh waspada, memperhitungkan dengan cermat berapa permen yang akan mampu diraupnya.

“Mau beli apa?” Haji Sanip muncul tiba-tiba dari balik rencengan-rencengan minuman serbuk. Haji Sanip bertubuh tinggi besar dan memiliki sepasang mata besar seperti melotot.

Haji Sanip tinggal sebatang kara di rumah itu. Isterinya telah wafat, anak-anaknya merantau ke berbagai daerah. Konon, semasa masih aktif sebagai polisi, Haji Sanip pernah bertugas di Aceh, Papua, dan daerah konflik lainnya, hidup berhari-hari di hutan-hutan, sehingga kini hidup sebatang kara di rumah bukan masalah baginya.

Konon, kios itu semula adalah kamar, lalu Haji Sanip mengubahnya menjadi kios. 

“A-anu, Pak Haji. Ada es batu?” Sutopo tergagap, bertanya.

“Ada. Berapa? Satu? Tunggu sebentar.”

Haji Sanip melangkah ke ruangan lain tempat lemari es berada. Entahlah, mengapa Haji Sanip menempatkan lemari es di ruangan lain? Tetapi itu malah menguntungkan bagi pencuri cilik macam Sutopo dan teman-teman. Itu waktu yang cukup bagi Sutopo untuk sigap memutar penutup stoples, mengambil beberapa permen, lalu menutup kembali stoples seperti semula.

“Apa lagi?” Haji Sanip kembali membawa satu bungkus es batu.

“Itu saja. Berapa, Pak Haji?”

“Ah, bawa saja.”

“Terima kasih, Pak Haji.”

Sutopo berlari riang meninggalkan kios Haji Sanip. Mengeluarkan permen dari kantung celana pendek, menaruhnya di tanah lalu menghitungnya. Aha, ada lima permen rasa kopi!

“Hebat! Kamu sudah profesional,” kata Harsono.

Sutopo tersenyum lebar. Ia sudah profesional, sudah mahir mencuri sendirian. Lima permen curian itu pun mereka bagi. Harsono, Untung, Bejo masing-masing mendapat satu permen. Untuk Sutopo, karena sudah profesional, mendapat jatah dua permen. Mengertilah Sutopo, mencuri punya sensasi tersendiri.
***
Hari Minggu ini sedari pagi hingga sore Sutopo, ayah, dan ibu beres-beres rumah. Mereka memindahkan dan mengemas barang-barang agar siap angkut. Besok, barang-barang itu akan diangkut truk. 

Ayah mengatakan bahwa mereka akan pindah rumah, karena pemilik rumah yang sekarang akan mengubah rumah itu menjadi minimarket. Itu kabar yang mengejutkan, karena ayah telah menyewa rumah itu selama bertahun-tahun, bahkan sebelum Sutopo lahir.

Ayah Sutopo seorang pedagang pakaian, punya toko pakaian di pasar kecamatan. Konon, sejak muda ayah gemar merantau ke berbagai daerah, sampai akhirnya menetap di kampung yang sekarang. 

Ayah duduk di ranjang kayu yang telah dipindah dari kamar tidur ke ruang tengah. Ayah tampak lelah setelah seharian bersama ibu dan Sutopo memindah barang-barang.

“Topo, tolong belikan kopi hitam,” perintah ayah.

Sutopo segera menuju kios Haji Sanip. Langkahnya lesu. Sebentar lagi magrib. Mungkin ini adalah kali terakhir ia belanja di kios Haji Sanip. 

“Kopi hitam ukuran sedang satu, Pak Haji,” kata Sutopo lirih.

Haji Sanip memandangnya heran, menyerahkan sebungkus kopi hitam dan bertanya, “Benar keluargamu akan pindah besok?”

“Ya, Pak Haji,” jawab Sutopo lirih, menyerahkan uang, lalu hendak beranjak pulang.

“Sutopo, tunggu!” seru Haji Sanip.

Sutopo membalikkan badan.

“Ya, Pak Haji?”

“Kemarilah.” 

Lelaki tua itu membuka sebuah stoples berisi permen aneka rasa, lalu menuangkan seluruh permen itu ke plastik hitam.

“Untuk kamu,” kata Haji Sanip tersenyum.

Sutopo membelalak.

“Untuk saya, Pak Haji? Semua?”

“Ya,” senyum Haji Sanip semakin lebar. “Anak-anak selalu suka permen. Ini, terimalah.”

Tubuh Sutopo bergetar melihat mantan polisi di depannya itu tersenyum tulus. Napas Sutopo terasa sesak, lalu  ia cium tangan Haji Sanip.

“Terima kasih, Pak Haji. Terima kasih.”

Sutopo merasakan sepasang mata mungilnya menghangat.
***
Rumah kontrakan mereka yang baru berada di kampung lain. Jarak rumah itu dengan pasar kecamatan sekitar setengah jam naik motor. Sutopo pindah sekolah pula. Sutopo tak lagi bertemu Harsono dan kawan-kawan untuk beberapa lama. 

Suatu siang di hari Minggu sekira pukul 10 ketika berada di toko pakaian ayah, Sutopo melihat Harsono melintas. Girang sekali mereka bersua, saling memukul ringan lengan. Mereka duduk di emperan toko, saling bertanya kabar. Tak lupa Sutopo bertanya kabar Haji Sanip dan kiosnya.

“Kamu masih suka mencuri permen di sana?” Sutopo berbisik, takut terdengar ayah dan ibu di dalam toko.

Harsono menggeleng.

“Mengapa? Kamu ketahuan?” tanya Sutopo.

“Sejak kamu pindah, Haji Sanip memindahkan semua stoples ke meja di tengah kios. Tak ada lagi stoples di etalase,” kata Harsono.

“Sejak aku pindah? Mengapa begitu?” tanya Sutopo.

“Mana aku tahu?” Harsono mengangkat bahu. Kawan lama itu beranjak dari emperan toko ketika melihat ibunya muncul dari dalam pasar.

Sebelum pergi, Harsono berbisik yang membuat dada Sutopo berdebur, “Mungkin saja Haji Sanip tahu kalau anak-anak suka mencuri permen!”
***
Bertahun-tahun kemudian Sutopo telah lulus kuliah Manajemen, membuka toko kelontong, menikah, lalu mengontrak rumah sederhana. Masih dalam suasana pengantin baru, Sutopo dan istri beberes rumah.

Sang istri menemukan koper usang, lalu meminta izin Sutopo untuk membukanya.

“Silakan. Isinya hanya setumpuk pakaian masa kecilku dan benda lain yang tak penting,” jawab Sutopo.

Sang istri membuka koper usang itu. Benar, ia menemukan beberapa celana pendek, hem, kaus berukuran kecil, dan .... apa ini?

Sepasang mata sang istri menyipit ketika membuka plastik hitam di pojok koper.

“Permen siapa ini, Mas Topo?”
***SELESAI***

Bagikan Artikel Ini
img-content
Sulistiyo Suparno

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Menari Bersama Bidadari

Sabtu, 21 Oktober 2023 13:57 WIB
img-content

Jangan Pacari Kakakku

Senin, 16 Oktober 2023 09:43 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua