x

ilustrasi seseorang berjalan di dalam terowongan (unsplash.com/\x40wilstewart3)\xd sumber : https://unsplash.com/photos/_XpHc4Qy-8k

Iklan

Harsa Permata

Alumni Filsafat UGM, Dosen Di berbagai perguruan tinggi Di Yogyakarta
Bergabung Sejak: 4 Oktober 2023

Minggu, 8 Oktober 2023 08:03 WIB

Tiga Penggal Kehidupan Usman

Puncaknya adalah saat Usman menghunus pisau dapur yang selalu di asahnya. Pisau itu ditancapkannya ke lantai, membuat Wilad dan anggota Dewan Mahasiswa lainnya bergegas meninggalkan kamar kos Usman. Mereka setengah ketakutan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ia pertama kali melihat wajah penyair  legendaris itu di sebuah majalah terbitan pers kampus tempat dia berkuliah pada tahun 1999. Pemuda gempal berkepala plontos ini bernama Usman, dia berasal dari Sumatera Barat, daerah yang memiliki berbagai panorama indah, dan budaya religius yang kental.

Sebagai seorang yang hari-hari remajanya jarang bersinggungan dengan politik kerakyatan, Usman sama sekali belum mengenal penyair itu. Ia hanya mengenal sosok Iwan Fals, seorang musisi yang kerap melantunkan lagu-lagu protes terhadap pemerintah orde baru.

Nama Wiji Thukul baru ia kenal ketika membaca majalah terbitan Pijar, pers Fakultas Filsafat UGM, tempat dia berkuliah. Stigmatisasi jelek terhadap orang-orang yang menganut politik kerakyatan, masih sangat kental di kepalanya. Sehingga ketika ia membaca dan melihat wajah Thukul, yang terjadi bukanlah sebuah perasaan simpati, akan tetapi, sebaliknya, perasaan takut menghinggapi dirinya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Wiji Thukul Baca Puisi

Yang paling diingatnya adalah wajah Thukul dengan gigi tonggosnya dengan rambut ikal keriting. Wajah itu kerap hadir dalam mimpi-mimpinya, yang membuatnya terkadang terbangun dengan gigilan dingin.

Waktu bergerak maju, Usman pun mulai mengakrabi berbagai bacaan kiri. Buku-buku seperti Madilog karya Tan Malaka, Manifesto Komunis karya Karl Marx, Novel “Bukan Pasar Malam” karya Pramoedya Ananta Toer, adalah bacaan sehari-hari baginya. Diskusi dengan berbagai mahasiswa dan pemuda progresif dalam forum studi Ideologila membuatnya semakin condong ke kiri.

Ada sebuah cerita lucu setelah Usman mulai kekiri-kirian. Usman berasal dari Sumatera Barat, tepatnya dari kota Solok, ia berteman akrab dengan seorang aktivis Dewan Mahasiswa bernama Wilad. Suatu kali Wilad mengajaknya mengikuti Latsar (Diklat Dasar) Dewan Mahasiswa (Dema) UGM di daerah Kaliurang atas dekat lereng Merapi, Yogyakarta. Usman yang tidak bisa menolak ajakan sahabatnya itu pada akhirnya mengikuti Latsar tersebut.

Hanya saja Usman datang dengan mengenakan kaos Partai Bintang Gerigi (PBG) yang garis politiknya sedikit berbeda dengan DEMA. Di pertengahan Latsar, Usman membuka jaket hitamnya, sehingga lambing bintang gerigi terlihat jelas di bagian punggungnya. Para peserta Latsar, termasuk pemberi materi Latsar terdiam sejenak, semua mata memelototi lambang Partai Bintang Gerigi di kaos Usman. Usman kemudian tersadar, dan merasa risih dengan hal itu, ia kemudian mengenakan jaketnya kembali. Setelah itu sesi Latsar tentang hukum dan keadilan itu dilanjutkan kembali.

Pada awal tahun 2000, seorang anggota PBG yang bernama Riar, rajin mendatangi kos Usman. Anggota PBG ini kebetulan adalah juga anggota forum studi Ideologila yang sering mengadakan diskusi di kampus Fakultas Filsafat UGM. Hampir tiap hari Riar datang mengajaknya diskusi tentang ideologi dan politik kerakyatan. Berkali-kali Riar diusir oleh Usman, hingga suatu saat Riar datang menyodorkan formulir Calon Anggota PBG, Usman dengan sukarela mengisi dan menandatanganinya. Hal ini terjadi setelah insiden pisau di kos Usman yang melibatkan Wilad dan para anggota DEMA lainnya.

Ceritanya begini, Usman minggu depan akan menghadapi ujian tengah semester. Ia tidak mau nilai bagus yang di dapatnya pada semester satu menjadi menurun. Keputusannya untuk kos awalnya tidak disetujui oleh orang tuanya. Sebelum kos Usman tinggal dengan om dan tantenya di daerah Umbul Harjo. Persetujuan itu diberikan dengan berat hati, dengan wanti-wanti bahwa Usman harus mempertahankan, kalau bisa meningkatkan nilai bagus yang di dapatnya pada semester satu. Usman yang tidak ingin gagal dalam ujian, kemudian belajar mati-matian.

Ketika Usman sedang serius belajar, datanglah Wilad dan anak-anak DEMA ke kost Usman. Usman yang tidak bisa menolak teman, membiarkan mereka masuk kamar kostnya. Usman yang masih memikirkan bahan ujian mulai gelisah ketika Wilad dan anak-anak DEMA mengajaknya berdiskusi topik selain ujiannya minggu depan. Sesekali ia melirik buku-bukunya di rak buku. Dalam batinnya terjadi pertentangan hebat. Puncaknya adalah Usman kemudian menghunus pisau dapur yang selalu di asahnya. Pisau itu lalu ditancapkannya ke lantai kosnya. Setelah itu Wilad dan anggota DEMA lainnya bergegas meninggalkan kamar kos Usman dengan setengah ketakutan.

***

Usman adalah seorang guru bahasa Indonesia di sebuah sekolah nasional plus di Jakarta. Sudah 5 tahun ia bekerja di sekolah itu. Ia menyenangi pekerjaannya, berdiri di depan kelas, menjelaskan Tata bahasa dan sastra Indonesia pada murid-muridnya, tidak peduli walaupun mereka masih mengantuk karena kurang tidur akibat main game semalaman, ataupun diharuskan les oleh orang tuanya sampai larut malam.

Guru Mengajar

Usman selalu punya cara untuk mengusir kantuk para murid-muridnya itu. Ada banyak cara untuk itu, dari mulai diberi pertanyaan, membaca puisi, sampai diminta untuk mencuci muka di kamar mandi. Usman adalah guru yang jarang marah, ia tidak mau murid-muridnya ketakutan dengan kemarahannya.

Usman sangat mencintai pekerjaannya ini, akan tetapi, semua itu berubah ketika istrinya, Tuti diangkat menjadi Manajer Operasional di sebuah perusahaan konsultan manajemen. Setelah itulah kehidupan berubah menjadi lebih berat bagi Usman.

Mereka pernah harus pulang jam 3 pagi ke rumah, Tuti harus menyelesaikan pekerjaan di kantornya. Usman yang khawatir akan keselamatan istrinya, memilih untuk menunggui sang istri menyelesaikan pekerjaan di kantornya. Padahal anak mereka yang baru berumur 3 tahun hanya ditemani pengasuhnya di rumah. Dilema inilah yang kerap kali mengganggu pikiran Usman dan istrinya.

***

Usman termenung di jendela flat, yang ditempatinya bersama istri dan anaknya. Sebuah kenyataan pahit baru saja dipahaminya. Ibunya telah ditipu ratusan juta, oleh seorang pengecut, yaitu salah seorang adik sepupu ibunya, yang dipercaya mengelola bisnisnya di Jakarta. Uang yang awalnya akan dikirim ke rekeningnya untuk tambahan biaya kuliahnya di Inggris, ternyata digondol si penipu. Celakanya, ternyata ibunya merasa bahwa uang itu telah dikirimkan padanya lewat transfer bank. Ia lah kemudian yang dipersalahkan karena dianggap menghambur-hamburkan uang ratusan juta, yang sama sekali tidak pernah diterimanya.

Rumah di UK

Anaknya sedang berada di sekolah, yang berjarak sekitar beberapa ratus meter dari flat tempat mereka tinggal. Kondisi trotoar di Inggris, yang sangat ramah untuk pejalan kaki dan kursi roda, membuat ia bisa mengantarkan anak satu-satunya itu berjalan kaki menuju sekolah, mengiringi anaknya yang mengendarai kursi roda listrik pinjaman dari pemerintah Inggris.

Banyak hal yang dipikirkan Usman pada saat ini, apa yang akan terjadi di Indonesia nanti? Di mana mereka akan tinggal? Bagaimana sekolah anaknya nanti? Bagaimana perasaan anak dan istrinya ketika harus dipaksa meninggalkan Inggris yang sudah demikian mereka cintai? Semua pertanyaan yang tak juga kunjung ditemukan jawabannya oleh Usman, setelah berpikir berhari-hari. Hanya satu kalimat yang selalu ada di pikirannya "Urip iki mung nglakoni".

Yogyakarta, 13 Februari 2022

Ikuti tulisan menarik Harsa Permata lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan