x

Sumber: dream.co.id

Iklan

Harsa Permata

Alumni Filsafat UGM, Dosen di berbagai universitas di Yogyakarta
Bergabung Sejak: 4 Oktober 2023

Kamis, 23 Mei 2024 08:20 WIB

Kalau Mudah, Bukan Berjuang Namanya

Sebuah cerpen tentang pergolakan dalam diri seorang pemuda, yang juga aktivis mahasiswa.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Hari sudah sore, langit tampak berwarna kelabu dari balik jendela dengan jeruji besi di rumah bertingkat itu. Sudah lima hari laki-laki muda itu tak keluar rumah, semenjak terakhir pergi ke pasar membeli koran, semenjak itulah ia tidak pernah lagi keluar rumah. Ternyata situasi di pasar yang menyambutnya membuat ia tidak berkenan lagi untuk ke luar ke pasar lagi.

Situasi yang membuat dia bertemu dengan dua orang teman lamanya, seorang pedagang beras, di tingkat dua pasar itu. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba terjadi perdebatan tentang kenaikan harga. Ia mengatakan bahwa kenaikan harga itu adalah kesalahan pemerintah yang sewenang-wenang menaikkan harga, yang berakibat pada pembunuhan secara halus terhadap rakyat banyak.

Temannya yang satunya lagi, yaitu seorang lulusan universitas negeri di Padang tapi sampai saat ini belum menemukan pekerjaan alias masih jadi pengangguran, membenarkan pendapatnya. Tapi si pedagang beras, temannya, tidak menerima pendapat itu dan mengatakan bahwa sudah sewajarnya hal itu terjadi. Jika dibanding harga internasional maka harga minyak di sini sudah tergolong murah. Dengan penjelasan bahwa pendapatan rakyat masih rendah, laki-laki muda itu mencoba untuk memberikan bukti kebenaran argumennya. Tapi dasar si toke beras itu yang ndableg dan terkesan oportunis, sampai ia, si pedagang beras itu, mengeluarkan argumen:

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Biar saja rakyat mati! Aku tidak perduli! Seharusnya negara ini diperintah oleh militer! Biar keadaan tenang dan tidak ada lagi orang-orang malas yang protes!”.

Usman, begitu nama si laki-laki muda itu dan Abu Bakar, nama mahasiswa pengangguran itu, tidak setuju dengan hal itu. Hingga kemudian perdebatan itu berakhir dengan tidak ada kesimpulan sama sekali. Si pedagang beras pergi dan kemudian diikuti oleh Usman yang ingin pulang ke rumahnya.

Semenjak itulah ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke pasar lagi. Perdebatan itu mengingatkannya pada pengorganisiran yang sudah-sudah dilakukannya pada mahasiswa-mahasiswa lainnya. Sementara, ia tidak ingin lagi untuk kembali ke dunia pergerakan yang melelahkan itu. Masih jelas di ingatannya bagaimana ia dan beberapa temannya harus tidur sampai larut malam, karena harus menyelesaikan materi propaganda dan harus bangun pagi untuk memfotokopi dan memberikan pada organiser untuk didistribusikan. Belum lagi siangnya ia harus menghadiri diskusi di mana ia jadi pembicara sekaligus yang mengumpulkan mahasiswa lainnya. Beberapa mahasiswa yang malas, kadang tidak mau walaupun hanya sekedar berhadir pada diskusi itu. Mereka berargumen,

“Untuk apa harus hadir pada diskusi, inikan adalah pilihan politikku!”.

Inilah yang membuat dia kadang-kadang merasa capek luar biasa, akumulasi dari itulah yang membuat ia meninggalkan pergerakan setelah ia meninggalkan beberapa tugas yang harus diselesaikannya. Sambil tak lupa untuk berpamitan pada salah seorang temannya yang masih aktif dan menitipkan presensi kehadiran kuliah pada salah seorang temannya yang lain.

Pergilah ia ke daratan Sumatera untuk sementara, mencoba menghilangkan semua pikiran dan praktik tentang pergerakan, yang pernah dikecapnya. Dengan kereta sore ia berangkat ke Jakarta, yang dilanjutkan dengan bus menuju Sumatera selama dua hari perjalanan.

Setibanya di terminal kota kecil ini, di mana ia menghabiskan masa kecilnya hingga dewasa. Dicegatnya mikrolet yang menuju ke rumahnya, tak beberapa lama kemudian sampailah ia di depan rumahnya, dibayarnya ongkos mikrolet, dilangkahkannya kaki menuju ke rumah tingkat orang tuanya.

Di tingkat dua ditemuinya ibunya sedang berbincang-bincang dengan 3 orang tamu.

“Ini anak, saya yang kuliah di Jawa”.

“Oh, ini ya”.

Disalaminya tiga orang tamu ibunya, sambil tak lupa untuk tersenyum ramah untuk sekedar berbasa-basi. Kemudian ia bergerak menuju kamarnya. Dilemparkannya tas ransel kepunyaannya, ke lantai dekat lemari. Dibaringkannya tubuhnya diatas tempat tidur, beberapa saat kemudian tertidurlah ia karena kelelahan.

***

Setelah tiga hari berada di rumah, barulah ibunya bertanya :

 “Ada apa gerangan kau pulang ke Sumatera anakku ?”

“Ah, aku lagi pusing bu, bingung aku, semua orang di daerah tempat kuliahku ribut melulu. Semua orang! Mulai dari pedagang, pekerja, pejabat, mahasiswa & dosen, semua ribut memperebutkan sesuatu”.

“Kira-kira apa yang mereka perebutkan  Uangkah atau kekuasaankah? Nak, kau jangan sekali-kali terlibat hal itu, kau jalankan tugasmu sebagai mahasiswa, belajarlah, tuntutlah ilmu setinggi apapun kelak akan datang juga kesempatan untuk mu”.

“Iya bu, karena itulah aku datang kesini, aku ingin menghilangkan diri sejenak dari semua itu”. Ucapnya.

Masih jelas di ingatannya bagaimana pengkhianatan dari dalam oleh orang yang dianggapnya kawan, karena uang dan rokok daun jagung ditelikunglah dirinya.

“Sialan! Aku tak akan membiarkan para pengkhianat itu untuk mempengaruhiku lagi sewaktu-waktu”. Tekadnya.

“Sudahlah nak, tenangkan fikiranmu, susun kembali apa yang kacau, jangan terburu-buru, kau kan lama di sini?”

“Dua minggu saja bu”.

“Ya sudah tidak apa-apa, bertenanglah, aku mau ke dapur sebentar”.

Ditinggalkannya kamar oleh ibunya dan pergilah ia ke dapur. Sementara Usman tinggal sendirian termenung di kamarnya. Dikuncinya kamar dan dibukanya tas ranselnya yang berisikan banyak sekali buku.

Diambilnya satu yang agak tebal dan dibacanyalah buku itu, sebentar saja ia sudah terhanyut dalam buku itu. Usman memang senang membaca, ia rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk melahap bacaan-bacaan yang disukainya.

Buku yang dibacanya kali ini adalah, buku yang mengisahkan tentang perlawanan buruh Perancis, tepatnya buru tambang di Deux-cent-quarrante Perancis sana. Kondisi kehidupan mereka yang teramat parahlah yang membuat para buruh berontak dibawah pimpinan si buruh Etienne Lantier. Di buku itu semua kondisi itu terdeskripsikan dengan jelas, sehingga ia benar-benar seperti ada di sana melihat dengan mata kepala.

Berjam-jam dicernanya buku itu sampai kemudian ia beranjak lapar dan bangkitlah ia dari tempat tidur, dibukanya pintu, menuju ke arah lantai bawah dilangkahkannya kaki ke sebuah warung kecil yang menjadi langganannya.

“Minta mie rebus dan teh es,Uni”. Pinta Usman pada pemilik warung langganannya dan mengambil tempat duduk di pinggir warung dekat jendela, tempat favoritnya. Warung ini lumanyan kecil dengan dinding kayu yang belum dicat menutupi semua kedalamannya di setiap sisinya. Dengan dua buah meja dan empat bangku serta sebuah dapur kecil untuk menyiapkan makanan bagi para pembeli.

“Eh, Usman kapan datang ?”.

“Tiga hari yang lalu Uni”.

“Naik apa ?”.

“Kereta api bersambung bus, Uni”. Ucapnya datar.

Setelah itu Uni penunggu warung tidak mengajaknya bicara lagi, ia kelihatan sibuk mengurusi mi rebus pesanan Usman, limabelas menit kemudian, masakan itu disajikan hangat dengan aroma yang membuat air liur menetes, Es teh menyusul beberapa saat kemudian.

Dimakannya dengan lahap makanan yang tersaji di atas meja, setiap sendokannya buru-buru dimasukkannya ke mulut dan bersegera mengunyah serta menelannya. Tak seberapa lama kemudian ludeslah semua makanan dan minuman itu dari tempatnya, sebatang rokok disulutnya sebagaimana biasa kebiasaannya setelah bersantap.

Asap rokok kelihatan berkepul-kepul dari mulut dan hidungnya, sementara matanya melihat pada sekeliling warung. Sebuah kulkas dengan besar menengah putih warnanya berada tepat di setentang meja tempat duduknya.

Di dinding sebelah kiri terpajang foto Presiden Republik Indonesia.

Dalam politik Indonesia memang budaya paternalistik masih kuat, seorang tokoh tidak peduli salah atau betul perkataan dan tindakan yang dilakukannya, pendukungnya akan tetap membelanya sampai mati, pikirnya. Dan pikiran itu membuatnya tertawa dalam hati mengingat masa ketika yang memimpin Indonesia adalah seorang Jenderal yang selalu terlihat senyum di media, sementara rakyat yang menentangnya, akan ditangkap atau diculik. Para pendukung loyalnya, para intelektual salon dan artis layar kaca, bahkan membuat lagu puji-pujian untuknya.

“Ah, peduli setan lah dengan semua pejahat-penjahat politik itu!, Aku kesini bukan untuk memikirkan mereka lagi. Penenangan dirilah yang kubutuhkan di sini. Ketenangan, kedamaian, yang sulit kudapatkan di Jawa sana yang penuh intrik dan kemunafikan”. Makinya kembali dalam hati, yah, ia memang agak jarang mengungkapkan perkataannya secara terang-terangan, belum bisa dalam masyarakat seperti ini untuk berbicara lugas dan terang-terangan. Apabila tetap nekad berterus terang maka orang akan menghindar dan menjauh, musuh-musuh akan bermunculan dan tidak amanlah dirimu.

Suara-suara ribut, di samping warung membuatnya mengarahkan pandangan keluar jendela warung, rupanya lima orang anak sedang mendorong mobil sedan 80-an yang mogok. Seorang kakek duduk di belakang kemudi mobil mengendalikan dorongan tersebut.

“Layaknya para budak penarik batu saja”. Gumamnya pelan. Di pikirannya ia sedang melihat para budak menggerakkan batu demi pembangunan gedung penguasa pada zaman para raja.

“Ah, melayang ke mana kepalaku ini, ada-ada saja, memang liar otak ini kalau tidak dijaga. Ah, siapa peduli, biasanya keliaran pulalah yang membuat orang melakukan inovasi dan penemuan baru, karena otak yang liarlah maka Copernicus bisa mengetahui bentuk dunia seperti apa, karena liar pulalah maka Ilmu pengetahuan ditemukan oleh para filsuf Yunani. Begitulah kebebasan otak memang diperlukan untuk mengadakan suatu pembaruan”. Pikirnya.

Tak terasa, rokoknya sudah habis, dimatikannya rokok yang sudah puntung itu di atas piring bekas mie, kemudian bangkitlah ia dari tempat duduk.

“Berapa Uni?”.

“Delapan ribu saja Man”.

Diberikannya selembar uang lima ribu dan tiga lembar uang seribu pada Uni penunggu warung. Ditinggalkannya warung untuk menuju ke pasar, tepatnya ke tempat penjual koran di tengah pasar, di pinggir sebelah kanan jalan raya yang melintasi pasar dari arah rumahnya.

Dilewatinya sebuah dealer motor, ia tidak menoleh dan terus berjalan lurus dengan sebatang rokok di mulutnya. Bendi-bendi tiap sepuluh menit terlihat lewat di samping kanannya.

“Memang tidak mudah menjadi seorang “sadar”, renungnya, nyawa dan hartalah taruhannya. Apabila kita jangankan melawan arus, menyimpang sedikit dari arus, maka terbaliklah perahu itu. Apalagi melawan arus, bisa terbalik itu perahu. Sudah banyak orang-orang “sadar”, yang berani tapi kehilangan nyawanya. Marko, Tirto, bahkan seorang Sokrates & Copernicus sekalipun yang semuanya berani menentang arus tapi apa hasilnya? Nyawa mereka hilang untuk selamanya. Aku tidak tahu kehidupan apa yang mereka temui berikutnya, belum pernah aku mendatangi, bahkan menyinggahinya pun belum.

Tidak sedikit beban menjadi orang “sadar”, apabila tidak memberi tahu orang maka kepala ini rasanya sakit. Jika memberitahu, maka keselamatan diri terancam”. Saat itu ia teringat kata-katanya yang teramat merdu, ketika berdiskusi kecil dengan seseorang.

“Jika tidak mudah, maka bukan berjuanglah namanya. Tidur mudah dan makan mudah tapi apakah perlu perjuangan?”.

“Ah, jadi ingat lagi deh”. Sesalnya.

“Padahal tujuanku ke sini adalah untuk menyegarkan otak, bukan untuk membebani otak. Ah, biarkanlah mengalir saja, tidak usah diatur”. Batinnya.

Di depan kios koran, ditelitinya beberapa koran, beritanya dirasanya biasa saja, belum ada yang semenggemparkan seperti berita penembakan mahasiswa trisakti dan kejatuhan Suharto 1998 dulu.

Saat itu ia serasa melambung tinggi dan merasa berada di ambang kehidupan baru yang dinamis. Demonstrasi mahasiswa dan rakyat di mana-mana dilihatnya di televisi, seakan kuasa sudah berada di tangan mahasiswa dan rakyat yang bersatu padu. Kejatuhan Suharto terjadi setelah itu.

Walaupun ketika ia menjadi mahasiswa beberapa bulan kemudian dan mengasingkan diri dari kehidupan mahasiswa itu sendiri karena dirasakannya keangkuhan mahasiswa yang ditemui dan ditontonnya. Mengakibatkan kepindahannya ke Universitas lain berkali-kali.

Ajakan terlibat pergerakanpun awalnya tidak digubrisnya bahkan ditolaknya dengan makian.

“Buat apa aku ikut kalian! Dasar pemberontak kapiran!”.

Tapi siapa yang tahu, dunia memang berputar, seminggu kemudian ia mendatangi sekretariat pergerakan rakyat untuk kemudian menyatakan diri bergabung. Semua orang di sana terheran-heran melihat perubahan sikapnya. Hanya ia seorang yang tahu apa yang melanda kepalanya.

“Apa berita menarik hari ini Fin ?” tanyanya pada si Arifin penjual koran.

“Oh Usman, kapan datang” sambut si penjual koran bertubuh pendek gemuk dan berambut cepak itu”.

“Tiga hari yang lalu, kenapa ?”.

“Ah cuma bertanya saja, jauh sekali kamu sekarang, kata-katamu tidak seakrab dulu”.

“Ah siapa bilang? Aku masih tetap Usman yang dulu”.

Disalaminya kawan lamanya itu dengan mengumbar senyum ramah padanya. Dibelinya dua helai koran, yang kedua-duanya berisikan berita unjuk rasa. Duduk-duduk sebentar melepas kangen, lalu pergilah ia, sambil tak lupa berpamitan pada si Arifin.

“Main-mainlah ke rumah Man”. Ajak si Arifin dengan ramah.

“Kapan-kapan aku ke sana, yuk, pergi dulu”.

Dalam perjalanan pulang, ia berpikir. “Seharusnya aku tidak berlama-lama dengan keadaan seperti ini. Semakin begini, semakin hilang kewarasan yang ada dalam otakku. Ah, siapa takut gila?”. Bantahnya pada pikirannya sendiri.

“Menjadi orang gila, semua hal seakan tiada beban, selayaknya anjing liar yang bebas lepas. Tiada yang perduli, tiada yang menyapa. Aku pernah mengalaminya, setahun lamanya aku seperti itu, hingga kubaca Nietzsche dan aku merasa senasib dengannya. Tapi akhirnya aku juga yang paling keras menentang para Nihilis”. Kenangnya.

.***

Malamnya setelah semua keluarganya tertidur lelap, ia menonton televisi sendirian, acara yang sedang berlangsung adalah berita dunia. Peperangan tak henti-hentinya, di setiap sudut dunia. Negara-negara adikuasa dan negara sokongannya terus-menerus melebarkan sayapnya dengan senjata. Palestina diserang oleh Israel yang didukung Amerika. Berbagai RUU baru diusulkan untuk menguntungkan pihak yang berkuasa, sementara, rakyat banyak masih tetap kesulitan, bahkan untuk sekedar membeli kebutuhan hidup mereka.

Ia tiba-tiba teringat percakapan dengan temannya beberapa waktu sebelum ia meninggalkan Jawa:

“Jon, kondisi kehidupan sudah semakin parah ya?”. Usman bertanya sekaligus mengemukakan pendapatnya, pada temannya si Jono, sesama pejuang.

“Benar, saat ini tidak ada pilihan lain, Negara adikuasa pun sekarang lebih menonjolkan perang untuk perbaikan ekonomi mereka”.

“Hanya ada dua pilihan, dikalahkan perang atau membangun negara mandiri dan berdikari seperti idaman Soekarno dulu”.

“Yah, begitulah. Tapi itu tidak mudah”.

“Yah memang tidak mudah Jon”. Ucapnya sendiri di depan TV kali ini.

“Karena kalau mudah bukan perjuangan namanya”.

Ikuti tulisan menarik Harsa Permata lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler