x

Iklan

Tarno Harto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 September 2023

Sabtu, 21 Oktober 2023 14:13 WIB

Membangun Jatidiri dan Etos Kerja Berbasis Konsep Illahiah

Menjalani hidup dan kehidupaan di era internet dan serba cepet ini dibutuhkan jatidiri dan etos kerja yang berbasis konsep illahiyah sebagai kendalihidup, ukuran sukses hidup,dan kontribusi hidup dalam kehidupan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Individual discovery diterjemahkan dalam bahasa indonesia menjadi penemuan jatidiri. Ada pertanyaan mendasar, apakah jatidiri selama ini pernah ada dan dipakai lalu hilang atau setidaknya pernah hilang, terselip dan tidak tahu rimbanya. Apakah peran jatidiri sebegitu penting sehingga perlu diupayakan sampai dapat ditemukan kembali.  Jawabannya adalah ya, karena jatidiri adalah cermin dan potret diri pribadi yang asli dan bukan artificial atau buatan yang dapat dipengaruhi kondisi internal dan eksternal. Manipulasi Jatidiri dapat menguntungkan maupun merugikan diri sendiri maupun orang lain dan bahkan lingkungan.

Jatidiri sebagai sumber inspirasi, instrospeksi, motivasi, energi, dan sekaligus kendalihidup untuk dapat lebih memaknai hakekat hidup dan kehidupan mulai dari asal mula hidup (sankanparaning dumadi), tugas hidup, pedoman hidup, pegangan hidup, teladan hidup, dengan segala konskwensinya. Dengan demikian, jatidiri akan dapat digunakan untuk memperbaiki persepsi dan paradigma dalam menentukan visi dan misi hidup. Ketidak hadiran jatidiri karena adanya cahaya Illahi yang terhalang oleh kuatnya penghambaan diri terhadap kebendaan berupa harta, tahta dan wanita tanpa mempedulikan etika dan aturan baku dalam mencapai sebuah ukuran sukses.  Penghambaan ini merupakan harapan dan cita-cita bagi sebagian besar dan ternyata dalam banyak hal hanya menghasilkan fotomorgana semata yang melahirkan ketidakpuasan yang bermuara timbulnya fustrasi dan tindakan destruktif.

Paradigma yang terbentuk dalam diri seseorang akan dipengaruhi pengetahuan, pengalaman, logika dan kesadaran yang akan melahirkan kesan, sikap, perilaku, respon terhadap suatu interaksi baik sesama dan lingkungan dalam konteks dan kepentingan tertentu. Menjalani peran berarti berinteraksi dengan sesama dan lingkungan dalam rangka menjalani tugas hidup. Interaksi dengan sesama dan lingkungan berarti mengintegrasikan dan mensinergikan energi dalam memperbaiki kualitas  tugas hidup.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sarana dan prasarana dalam menjalani tugas hidup yang tidak menghamba pada kebendaan semata. Karena itu, kalibrasi senantiasa dilakukan untuk mengendalikan agar senantiasa dalam rel yang lurus dan menjalani tugas hidup. Kalibrasi dalam islam yaitu mengawali dengan percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan qodah dan kodarNya. Setiap akan melakukan kegiatan mengawali dengan bacaan basmallah, dan mengakhiri setiap pekerjaan dengan ucapan alhamdulillah, dan lainnya. Selain dalam bentuk ucapan, juga tindakan nyata seperti 5 kali sholat wajib dan ditambah sholat surat dalam sehari, melaksanakan sholat jumat sekali dalam seminggu, menjalani shaum dan sholat tarawih sebulan dalam setahun, dan melaksanakan ibadah haji sekali dalam seumur hidup.

Kalibrasi dalam termonologi diartikan sebagai verifikasi dan validasi untuk memastikan bahwa kondisi masih dapat dan mampu memenuhi tuntutan persyaratan yang telah ditetapkan sebagai pedoman, pegangan, teladan hidup. Kalibrasi dalam menjalani tugas hidup  berarti mengkondisikan diri untuk tetap tunduk dan patuh terhadap pedoman hidup, pegangan hidup dan teladan hidup sebagai prasyarat menjadi seorang hamba yang sukses paripurna /kaffah.

Jatidiri artifisial akan dipengaruhi oleh dan merupakan resultante dari intelektual, emosional, dan spiritual. Tatkala intelektualnya tinggi, dengan emosioal tinggi, maka setidaknya patut diduga bahwa sesorang itu kering, banyak dipengaruhi oleh nafsu yang menghamba pada kebendaan semata, lupa akan tujuan hidup, pedoman hidup, tugas hidup, dan contoh hidup.

Menjalani peran hidup dan kehidupan dengan jatidiri yang berbasis keseimbangan  itelektual, emosional dan dilandasi leh spiritual akan menghasilkan seseorang menjadi seorang hamba yang paripurna atau kaffah. Menjalani hidup yang kafah dalam konteks peran akan selalu memberikan kontribusi dan kemaslakatan kepada diri sendiri, sesama, masyarakat, dan lingkungannya. Inilah puncak dari segala kemenangan, kesuksesan dan kemandirian seseorang dalam menjalani tugas  hidup yang bermuara kepada sikap menerima  semua kondisi yang terjadi dengan penuh kepasarahan dan istiqomah yang dinamakan  takwa.

Seiring dengan banyaknya peran artifisial, tentunya kalibrasi menjadi perlu dan penting yang dapat menyeimbangkan dan mengendalikan diri dari rel pedoman, pegangan dan tatanan serta teladan hidup. Kalibrasi akan senantiasa dilakukan sebelum dan sesudah, berjangka mulai dari harian, mingguan, tahunan dan selama dalam kehidupan.

Ikuti tulisan menarik Tarno Harto lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler