x

Foto Tempo.com

Iklan

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Selasa, 7 November 2023 19:14 WIB

Alegoris (Part 2)

Alegoris (Part 2). Puisi, transendental jernih jiwa. Tentang kini ataupun telah lalu. Sederhana saja.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Alegoris (4)

Syair Dini Hari.

Ya Rabana ...
Engkau ijinkan hamba menjadi sebulir embun bagi kehidupan khidmah tetumbuhan di alam raya. Hanya engkau, menghidupkan, mematikan segala hal ihwal ciptaan-Mu

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ya Rabana ... 
Hamba bersujud.


Alegoris (5)

Pistol Koboi Cengeng.
(Syair anti korupsi)

Waktu lampau ataupun kini, tak mengubah api menjadi air. Klips gambar menawan mata, mengapa tak keren pula.

Melodi hipokrisi menggubah lagu nan lama jadi kekinian, namun tak seelok nian harapan nurani sang semesta.

Berjuta kereta kuda berderap dari neraka melindas dirinya. Malah ia girang bukan main tampak pula ia menepuk dada.

Mengapa pula ia tak mati. Tak heran dirinya, karena takdir tak ingin ia mati, hidup sepanjang masa, janji amuk-dendam dirinya.

"Hai! Bestie! Bestie! Kalaulah aku mati, sang waktu khawatir planet bumi 'kan kehilangan model makhluk pandir terkini, macam aku kan, xixixi ..." Sembari memakan jantung dari rongga dadanya.

Kegilaan. Parodi gila-gilaan, memarodikan patgulipat sulapan hantu raksasa berwajah pepaya, namun tak serupa jambu, ups!

Kepiawaiannya berpikir culas. Pilihan jadi makhluk murka doyan segala sekalipun wajib memakan dirinya. "Okelah hai!"

Tuan hedonis gentayangan. Tapi hobi ngumpet di laci-laci bestie loh akyuu ... Manis-manis gitu deh. Akyuu ... Berpistol! Gertak sana sini, koboi cengeng kesiangan. Komplit lah hai ya yaa ...

Curang memainkan catur. Maki-maki atas nama moral.; Haa ha hahh ... Akyu si pandir pencuri triliun. Iyau! Berkelamin ganda bermuka jamak bangga berpura-pura berkalimah sembelit lidah tak bertulang berkelit melilit, lantas ngumpet di kolong meja.

"Puas tuan pandir?"
"Belumlah kiranya."

"Mau apa lagi tuan pandir?"
"Menjadi iblis bolehkah?"

"Hah!"
"Biasa aja kale."

"Sulit kali pintamu."
"Hah!"

"Hipokrit tak jua cukupkah?"
"Toplah kalau begitu." Keduanya bersalaman.

Alamak. Insaf lah wahai tuan. Kalaulah air di sumur tuan telah diberkati cukup melimpah. Janganlah tuan mengambil air di sumur tetangga.

"Iyau! Bodok amat!" Suaranya lantang dari neraka.

The End.

***

Jakarta Indonesiana, November 07, 2023.
Salam Cinta NKRI Pancasila.

Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.


Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu