x

seminar pendidikan politik yang diadakan oleh Bijak Memilih dan LKKP. Tema kegiatannya Anak Muda untuk Politik, Siapakah Kamu?

Iklan

Andika Nugraha Firmansyah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 April 2022

Rabu, 8 November 2023 19:58 WIB

Pendidikan Rizhomatik: Memunculkan Imunitas Kognitif di Masyarakat Menjelang Pemilu

Berbagai permasalahan muncul di massyarakat menjelang pemilu yang menuai respon anak muda.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Akhir-akhir ini, di sekitar saya, mungkin juga di sekitar Anda, ada saja orang yang tiba-tiba berbuat baik. Menawarkan bantuan ini dan itu. Mungkin tawarannya akan lebih besar jika Anda memiliki banyak teman, memiliki pengaruh atau bisa mendatangkan sekumpulan orang. Namun, jangan kaget jika suatu saat orang yang menawarkan bantuan itu ternyata wajah dan namanya bisa Anda temui di perempatan jalan, di belakang angkot, di pohon-pohon pinggir jalan, jembatan atau di tiang listrik yang biasanya ditempeli iklan sedot wc itu.

Bukannya tidak bersyukur karena mereka mau berbuat baik, tapi kok ya kenapa nongol tiba-tiba dan lima tahunan sekali? Sangat disayangkan sekali. Andai saja orang-orang ini munculnya tiap hari, masyarakat pasti akan senang sekali dan banya masalah yang bisa diselesaikan bersama. Tapi tak apa, masyarakat juga sudah paham dan senang juga. Momen pemilu seperti ini, mumpung ada yang mau shodaqoh.

Pernah suatu saat saya berdebat dengan ibu-ibu yang sedang mengumpulkan KTP untuk disetorkan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sak KTP saiki piro ke, Bu?”

“Seket Le. Piye nduwe KTP piro? Kene setorke neng nggonku.”

“Ya Allah, seket nggo limang tahun yo. Setahun sepuluh ewu berarti.”

“Yo kui jaremu. Seket ewu nggo cah nom ke paling sedelok tok. Entuk kopi karo kentang goreng neng kafe. Lha nggo ibu-ibu kui blonjo seminggu. Nggo mangan sak omah. Nggo nyambung urip seminggu. Cah nom mono, ora ngerti rekosone nggolek duit nggo makani anak!”

Saya hanya diam setelahnya. Kemudian pamit undur diri. Percakapan yang singkat padat dengan kesan mendalam yang ditinggalkan.

Dilain kesempatan, sebagai founder sebuah komunitas belajar gratis yang bergerak di pendidikan masyarakat, Saya menerima undangan seminar pendidikan politik yang diadakan oleh Bijak Memilih dan LKKP. Tema kegiatannya Anak Muda untuk Politik, Siapakah Kamu? Ketika melihat daftar undangan, saya cukup kaget karena undangan lainnya ditujukan kepada Universitas, beberapa aktifis mahasiswa dan kami.

Apalah komunitas kami ini, komunitas kecil dan rutinitasnya ngemong anak-anak paud, sinau bareng melalui bimbel gratis untuk anak SD-SMP dan utbk untuk anak SMA hingga mulang ngaji untuk ibu-ibu di kampung-kampung. Hingga kini ada 7 kampung yang menjadi titik kantung belajar yang semuanya dikelola oleh relawan yang bekerja tanpa digaji sepeserpun. Yang Alhamdulillah, sudah berjalan 4 tahun. Jika ditanya kenapa masih bisa hidup dan berjalan, tentu kami juga tidak tahu jawaban persisnya, tapi yang kami rasakan adalah belas kasih Allah SWT. Mungkin inilah yang disebut berkah.

Komunitas kami diminta mengirimkan 20 delegasi untuk menghadiri acara tersebut. Maka saya mendelegasikan relawan yang sudah termasuk pemilih pada pemilu 2024 nanti. Harapan saya, ilmu yang diperoleh nantinya bisa disebarluaskan kepada relawan lain atau masyarakat yang bersinggungan langsung dengan mereka.

Tujuan acara ini bagus, setidaknya ada tiga poin yang disebutkan dalam lampiran undangan. Pertama, menimbulkan sense of urgency pada orang muda untuk memilih dengan lebih baik. Kedua, menstimulasi orang muda untuk mengkritisi isu-isu yang menjadi fokus mereka. Ketiga, mengajak orang muda untuk berpartisipasi dalam gerakan Bijak Memilih. Untuk mencapai tujuan itu, dihadirkan 4 pemateri mulai dari direktur dan dewan pakar organisasi, dosen hokum dan influencer perempuan. Masing-masing mengangkat isu yang berbeda. Ada isu politik dan anak muda, good governance, pendidikan dan isu perempuan dalam politik.

Melihat data yang disampaikan Mas Fahri dari Bijak Memilih, pemilih muda di pemilu 2024 ini memang terhitung banyak, dan juga dapat menjadi penentu kemenangan calon. Jumlahnya sekitar 52% atau 107 juta. Dimana muncul stigma bahwa anak muda cenderung apatis terhadap politik. 70% diantaranya khawatir terhadap isu-isu korupsi, lingkungan, penegakan hukum, pendidikan dan lainnya. 68 % menganggap pemerintah tidak efektif dan hanya 8% yang teridentifikasi tertarik terjun ke politik.

Masih dari Mas Fahri, Beliau menyampaikan perlu adanya jembatan pengetahuan antara kecemasan yang dialami anak muda untuk diubah menjadi kecemasan produktif. Saat Beliau menyampaikan ini, rasanya komunitas kami memiliki kawan baru lagi. Anak muda yang peduli, cemas, dan tandang untuk melakukan sesuatu sesuai dengan bidang ketertarikan masing-masing. Tentu setelah acara ini selesai kami akan membantu untuk membuat jembatan pengetahuan yang dalam bahasa kami adalah imunitas kognitif. Daya imun kognitif yang muncul di masyarakat ini penting. Supaya memiliki daya tahan untuk menghindar dan menyaring informasi dari buzzer yang bertebaran di sosial media, atau bahkan godaan untuk menerima shodaqoh dengan mengumpulkan KTP.  Dengan menggunakan konsep pendidikan rhizomatik atau model akar yang sudah tersebar diberbagai kampong, kami akan coba membangun imunitas kognitif di masyarakat. Semampu kami, sebisa-bisanya dengan segala keterbatasan yang ada.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh ketua DPRD. Beliau dianggap yang mencerminkan anak muda yang mampu duduk di parlemen mewakili rakyat. Beliau datang dengan istrinya. Duduk di kursi depan dan memberikan sambutan. Sambutan yang luar biasa dengan topik berpikir kritis dengan menyinggung peran pemuda untuk menyongsong Indonesia Emas 2045 diawal sambutannya. Beliau perpesan kepada anak muda untuk terus menyuarakan gagasannya supaya didengar dan dapat direalisasikan. Namun sangat disayangkan. Setelah sambutan disampaikan, Beliau pulang tanpa sempat mendengar isu-isu penting yang disampaikan pemateri dan peserta yang semuanya anak muda. Serta mengikuti diskusi yang berlangsung setelahnya.

Diakhir acara, pesertra dibagi beberapa kelompok untuk melakukan diskusi untuk kemudian menyuarakan aspirasinya melalui link yang telah disiapkan panitia. Di dalamnya tertulis pesan yang ingin disampaikan untuk capres/ cawapres, caleg dan/ calon pemimpin local yang akan dipilih di pemilu 2024 terkait dengan isu. Kami melakukannya, baik diskusi dan mengisikan pertanyaan dalam link. Kami berpesan, “kamu jangan sombong, semoga sehat selalu, istiqomah dalam kebaikan. Aamiin.”

Ikuti tulisan menarik Andika Nugraha Firmansyah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu