x

Ilustrasi Guru. Gambar oleh Peggy und Marco Lachmann-Anke dari Pixabay

Iklan

Johanes Marno Nigha

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 April 2022

Sabtu, 25 November 2023 17:50 WIB

Selamat Hari Guru Father Nani

Ia pengajar bahasa Inggris yang penuh warna, gaya mengajarnya tidak monoton. Kehadirannya dinanti-nantikan para siswa dengan kejutan-kejutan metode, strategi, dan model yang mengasikan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Romo Nani atau yang lebih kami kenal sebagai Father Nani. Nama ini cukup keramat di sekolah saya sejak SMP maupun SMA. Kami bersekolah di salah satu sekolah kecamatan di Golewa di daerah Mataloko kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Sekolah Para calon Pastor atau calon imam Katolik. Para Seminaris atau anak didik selalu mengidentifikasi dirinya dengan " Dari lembah Sasa, atau "Di bawah Naungan bukit Sasa". Ini penanda tempat, bahwa sekolah berada tepat dibawah kaki bukit Sasa/ Wolosasa.

Semua angkatan yang pernah menempuh pendidikan di Seminari St. Yohanes Berkhmans, Toda-Belu, Mataloko, antara tahun 1998 hingga kini pasti tahu sosok keramat ini.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ia pengajar bahasa Inggris, Seorang Imam yang menekuni Bahasa Inggris sebagai jalan dan sekaligus cara menghidupi panggilannya. Bagi saya tak mudah memang pada masa kini memilih secara sadar gaya hidup sebagai seorang imam Katolik  yang hidup selibat (tak menikah), sederhana dan sadar tentang tantangan untuk menjadi contoh hidup. Alasan lain, memilih cara hidup untuk tak menikah seumur hidup sekaligus setia dan konsekuen dengan apa yang telah dipilih bukan sebuah perkara mudah.

Ada cukup banyak calon pastor Katolik yang kemudian memilih mengundurkan diri. Satu dari sedikit yang bertahan dengan kualitas kesederhanaan, ketekunan dan konsekuensi menikmati panggilan hidup yang dipilihnya tentu saja adalah Father Nani.

Ia pengajar bahasa Inggris yang penuh warna, gaya mengajarnya tidak monoton. Ia bisa sangat "out of the Box". Kehadirannya dinanti-nantikan para siswa dengan kejutan-kejutan metode, strategi, dan model yang sungguh membuat momen "aha" keluar dari mulut para siswanya.

Pertama kali masuk ke kelas, ia begitu riang gembira, menyapa kami dengan "good morning" lalu menawarkan lagu-lagu bahasa inggris yang sedang gandrung kami sukai waktu itu. Kami bernyanyi, kami menterjemahkan lirik-lirik lagu, lalu menampilkannya di malam bahasa inggris.

Ia merancang acara English Night dengan seluruh materi yang diambil dari pengajaran di kelas. Para siswa diajar untuk mempersiapkan materi acara di panggung dengan sebaik-baiknya. Ia jeli melihat sisi psikologis para remaja yang sedang mencari jati diri. Ia kenal sejumlah samaran atau nama alias yang kami sematkan pada diri kami.

Di tahun pertama ia meminta kami untuk menghafal kosa kata bahasa Inggris. Ada satu buku saku dengan total 3000 kata. Saya kesulitan menghafal kata per kata, tapi menikmati saat sesi lagu, dan dialog tertentu dimainkan sebagai drama.

Betapa nikmatnya bisa berdialog bahasa Inggris dan tampil di panggung seminari yang dihadiri oleh banyak orang.  Pada akhirnya saya tidak paham apa isi dialog itu karena sekedar menghafal. Jika metode ini tidak mempan untuk sebagian siswa ia akan mencoba metode lain. kerap kali Father Nani mengundang orang asing yang kebetulan menginap di kompleks seminari agar kami merasakan pengalaman bercakap-cakap menggunakan bahasa Inggris. 

Beberapa sangat antusias dengan metode ini. Kami kemudian merasakan metode menghafal kosa kata, menghafal sejumlah dialog baku dan menerima respon saat sesi percakapan sederhana menjadi satu rumusan tertentu untuk memulai percakapan dengan orang asing.

Pada awal, pertengahan dan akhir kelas, Father Nani akan memainkan satu jenis permainan agar kami memilih pasangan bicara. Kosakata yang kami hafal Minggu sebelumnya akan dipakai dalam dialog-dialog itu. Semua berlomba-lomba berbicara. Lebih mudah cekikan menggunakan bahasa inggris dengan teman sendiri ketimbang diminta maju untuk bercerita di depan kelas. Kata-kata baru yang dihafal teman lain akan menjadi cadangan kosa kata baru di sesi dialog antar teman ini.

Kerap father Nani akan membawa pisang goreng, kue atau permen ke kelas kami. Belajar bahasa inggris  di tangan Father Nani adalah rekreasi itu sendiri. Kami cekikan, tertawa, bersorak-sorak bernyanyi, membaca, lompat-lompat, membuat suara bit musik rap dengan mengetuk meja sambil menghafal dialog"do you Know Merry"

Tidak puas dengan memilih pasangan dan bercakap-cakap di kelas, ia kadang membiarkan kami bercakap-cakap di lapangan, memilih pasangan bicara untuk 5 menit terakhir menuju toilet umum dan bicara bahasa inggris.

Saat itu saya menikmati sebagai pelajaran biasa yang enak ditangan seorang pengajar cerdik. Saya bukan siswa yang brilian di kelas  bahasa Inggris Father Nani apalagi siswa  peringkat sepuluh besar di kelas. Apabila nilai bahasa inggris dibagikan nilai saya akan bertahan di angka rata-rata 70 - 80. Ini nilai standar.

Lalu suatu pengalaman liburan ke rumah Ignas teman saya di Maumere menjadi titik balik melihat metode  bahasa Inggris Father Nani bekerja. Saat itu tahun 2002, saya kelas 1 SMA.

Rumah orang tua di Kabupaten Ngada di Bajawa harus menempuh 9 jam perjalanan menuju  Kabupaten Sikka di kota Maumere. Saat selesai liburan Bis yang saya tumpangi dinaiki oleh seorang bule muda. Ia duduk persis di samping saya. Hati saya dag Dig dug.

Seluruh bangunan  pengetahuan tentang dialog yang diajarkan Father Nani, seperti memaksa saya memulai percakapan itu. Kami larut dalam percakapan selama 9 jam diselingi waktu makan di Kabupaten Ende.

Saya merasa luar biasa heran, karena kami seperti sahabat lama yang bertemu. Saya menjelaskan tentang lanskap Flores yang saya ketahui, dan  sejarah kecilnya yang selalu saya baca di perpustakaan seminari. Atau menjelaskan perhentian dan tempat apa saja yang akan kami singgahi. Semuanya mengalir begitu saja. Saya seperti menjadi pemandu wisata dadakan saat itu.

Bule muda itu kemudian saya tahu berasal dari Perancis. Ia bercerita tentang sistem pendidikan di Perancis, apa saja yang Barat terima dan tidak tentang kaum mudanya dan saya mengimbangi si bule dengan analisis sederhana dari apa yang saya tangkap di sekolah dan  sistem pendidikan Indonesia.

Momen "aha" dan keheranan membuat saya takjub dengan apa yang Father Nani berikan. Kami berdiskusi layaknya minggu-minggu diskusi  akademik  di kamar makan asrama. Diskusi dan Debat yang selalu menjadi rutinitas akademik di sekolah saya saat itu.

Semua percakapan itu mengalir secara santai dan yang mengherankan semuanya dalam bahasa Inggris.

Saat tiba di Bajawa, saya hampir tidak bisa tidur sepanjang malam. Saya merasakan jiwa yang penuh dengan perasaan positif. Saya kemudian menjadi sangat ketagihan "menangkap" para bule yang berlibur ke Flores untuk sekedar bercakap-cakap dengan mereka.

Saat menjadi guru sudah tidak terhitung berapa bule yang saya bawa ke sekolah bahkan yang saya ajak nginap di rumah.

Saya kemudian sadar, Father Nani tidak hanya mengajari kami bisa bicara bahasa Inggris, tapi ia menyulap kami untuk bisa berdiskusi dalam bahasa Inggris.

Setahun Sebelum Covid, saya dan istri ditawari untuk kerjasama bisnis homestay. Seorang Bule yang kami ajak nginap di rumah, mempertemukan temannya yang menawarkan  untuk "sekedar" belajar berbisnis jasa. Ia menyiapkan skema bisnis itu. Lalu semua yang direncanakan buyar saat Covid 19 melanda.

jujur saya tidak paham bisnis, namun saya paham cara berdiskusi bahasa Inggris yang nyetrik dari pola Father Nani.

Saya mengingat, di sore hari ia menyiapkan kelas tambahan bahasa inggris, tak hanya bahasa inggris yang ia ajarkan tapi motivasi tentang hidup. Ia akan menunjukan video motivasi untuk membakar semangat muda kami, menyuntikan nasihat-nasihat, dan menyiapkan momen teduh, dengan musik klasik yang tenang dan membiarkan kami tenggelam dengan buku bergambar cerita bahasa Inggris.

Saya senang berada di ruangan itu. Kadang membolak balik buku bergambar dalam bahasa inggris yang percakapannya masih memuat sejumlah kosa kata yang sulit saya pahami. Namun suasana di kelas dan terlebih di laboratorium bahasa inggris (English Room) seperti situs spiritual bagi para siswa yang sedang belajar bahasa inggris.

Father Nani menyiapkan segalanya dan setotal-totalnnya agar bahasa inggris menjadi sarana sekaligus bangunan spiritual. Tempat  kami menemukan Tuhan dan alat yang bisa memicu motivasi dasar membangun relasi yang luas.

Bahasa inggris di tangan Father Nani adalah tentang merumuskan visi global yang humanis, tempat dunia bisa berjejaring dengan bahasa inggris sebagai alat untuk menjangkau lebih banyak orang. Meminjam Emanuel Levinas sang Filsuf bahwa manusia tidak bisa memahami orang lain apalagi orang yang asing hanya dengan konsep yang terbentuk di kepala melainkan perlu bertemu secara langsung, bercakap-cakap dan membiarkan 'dia' menunjukkan dirinya pada 'kita' (Abdy Bustan, "Emanuel Levinas: Wajah Dalam Relasi Etika", Kompasiana, 16 Agustus 2019)

Bahasa Inggris ala Father Nani kemudian saya sadari adalah salah satu alat menjembatani yang global itu.  Terimakasih Father Nani untuk semua dedikasi yang luar biasa, sehat terus, Selamat Hari Guru, Salam ke Lembah Sasa, Tuhan memberkati para guru.

 

 

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Johanes Marno Nigha lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu