Inspirasi Ken Arok Membangun Kekuasaan

Rabu, 29 November 2023 19:20 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Setelah menjadi raja Ken Arok membANGUN dinasti politiknya sendiri. tAPI Kekuasaan yang diperoleh dengan menumpahkan darah, berujung pada pergolakan politik anatar anggota dinasti. Kekuasaan memang memabukkan dan itu terjadi sepanjang jaman.

Ramai-ramai masyarakat Indonesia berbicara tentang politik dinasti. Hal tersebut ditujukan kepada Joko Widodo, Presiden ke-7 Republik Indonesia ini. Hal tersebut dikarenakan sang anak sulung, Gibran Rakabuming Raka dicalonkan sebagai cawapres dari capres Prabowo Subianto yang diusung beberapa partai politik. Sementara menantu Joko Widodo yaitu Bobby Nasution juga menjabat sebagai walikota Medan. Sang putra bungsu, Kaesang Pangarep menjadi ketua umum PSI. Hal yang wajar sebenarnya, anak-anak politisi juga berlomba mengikuti jejak orang tuanya dalam berpolitik.

 Jika kita mau jujur pada diri sendiri dan mau mengakui dengan berkaca, hal yang sama dilakukan orang-orang di dunia ini. Mereka yang menjadi pengusaha, berusaha anak keturunannya mengikuti jejak orang tuanya menjadi pengusaha. Mereka yang jadi pendidik, mendorong anaknya juga menjadi pendidik. Yang bekerja sebagai dokter juga menunjukkan jalan menuju profesi dokter. Yang tidak dilakukan adalah mereka yang menjadi koruptor dan pembunuh berusaha anak-anaknya tidak menjadi koruptor dan pembunuh. Namun, jika ada orang tua yang mendorong anaknya untuk berbuat kejahatan, perlulah dites tingkat kesakitan jiwanya.

Kembali ke politik dinasti yang ramai dibicarakan di berbagai media. Dinasti menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring ialah (1) keturunan raja-raja yang memerintah, (2) semuanya berasal dari satu keluarga. Politik dinasti sebenarnya sudah ada sejak dulu kala dan itu pun berlanjut hingga kini. Dinasti dalam politik Indonesia adalah hal yang biasa selama memiliki kemampuan dan tidak asal mewarisi kekuasaan keluarganya. Mulai dari tingkat pusat hingga desa.

Berkaca pada sejarah masa lalu, tiada kekuasaan yang tidak memabukkan. Tiada kursi gading bertahtakan emas permata yang diperoleh dengan mudah dan tanpa pengorbanan. Sayangnya, pengorbanan yang dilakukan kadang merugikan dan menghancurkan orang lain. Tiada kepedulian lagi terhadap kawan apalagi lawan. Jika menghalangi keinginan untuk mendapatkan kekuasaan, siapapun akan disingkirkan. Dan apapun dilakukan tanpa memandang itu benar menurut norma dan hukum yang berlaku di lingkungan masyarakat. Yang terpenting kekuasaan diperoleh.

Mungkin pembaca mengingat lakon cerita Ken Arok dengan beberapa nama yang disandangnya. Ada yang menyebutkan Ken Anggrok, Sang Amurwabhumi, Sri Ranggah Rajasa, pendiri Rajasa Wangsa dan pendiri Kerajaan Tumapel atau dikenal sebagai Singasari. Menurut cerita dari Pararaton, Ken Arok merupakan berandalan dari Tegal Lalateng yang diangkat sebagai siswa dari Begawan Lohgawe dan diajarkan tata cara hidup di lingkungan keraton. Selanjutnya, menjadi pengawal dari Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung yang memiliki istri cantik yaitu Ken Dedes.

Mengeahui kecantikan dan pesona Ken Dedes, dan demi meraih mimpi menjadi raja setidaknya akuwu, Ken Arok memesan pusaka pada Mpu Gandring. Dengan keris pusaka buatan Mpu Gandring, Ken Arok menghabisi Akuwu Tunggul Ametung dan memfitnah temannya sendiri yaitu Kebo Ijo sebagai pembunuh sang akuwu. Jadilah Ken Arok menjadi Akuwu Tumapel dan menikahi janda akuwu yaitu Ken Dedes sebagai pengakuan bahwa dirinya layak menjadi akuwu menggantikan tunggul Ametung. Selanjutnya kita tahu dari catatan sejarah, Ken Arok menjadi Raja Singasari setelah mengalahkan Kertajaya dari kerajaan Kediri dalam peperangan di Ganter.

Setelah menjadi raja dan memakai nama abhiseka Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi, Ken Arok membentuk kekuasaan dan dinasti politiknya sendiri. Kekuasaan yang diperoleh dengan mengorbankan darah, menjadikan terjadinya pergolakan politik dinasti sendiri di antara anggota keluarganya. Saling tikam dan saling berebut kekuasaan telah terjadi dalam wangsa atau dinasti Rajasa. Hal itu tiada akhir, sebab kekuasaan memang memabukkan dan membuat lupa siapa kawan dan siapa lawan.

Ternyata sifat haus kekuasaan juga terjadi pada setiap manusia di dunia ini. Ada keinginan untuk melanggengkan kekuasaan. Ada keinginan untuk menggantikan kekuasaan. Saling rebut pengaruh dan kekuasaan terjadi juga di negeri ini. Lihatlah bagaimana para politisi negeri ini saling serang dan menyebarkan banyak berita yang seolah benar. Padahal sebenarnya hanya menyerang dan berbuat kerusakan. Ingatlah bagaimana Ken Arok merebut kekuasaan dari Tunggul Ametung. Pertama ia mengabdi kepada sang akuwu. Kemudian membunuh akuwu dan memfitnah teman sendiri demi kekuasaan. Akankah kita yang hdiup di jaman modern katanya masih menggunakan cara-cara Ken Arok? Ataukah justru kelakuan Ken Arok dijadikan sebagai model oleh mereka yang haus kekuasaan?

Awalnya mengabdi pada pimpinan dan selanjutnya berusaha mencapai kekuasaan dengan menyebarkan berita hoaks, berita bohong. Menfitnah teman-teman sendiri yang karena bisa menggagalkan tujuan demi kekuasaan. Sebenarnya, kita ini bangsa yang beradab. Bangsa yang memiliki kebersamaan dan semangat gotong royong tinggi. Memiliki rasa solidaritas yang melekat dalam setiap jiwa warga negeri ini. Janganlah demi kekuasaan harus menghancurkan nilai-nilai luhur yang telah dianut dan dilestarikan bangsa ini. Janganlah karena terinspirasi kesuksesan Ken Arok membangun kekuasaan, menjadikan bangsa ini terpecah belah karena berbagai kebohongan. Ingatlah kita hidup di dunia modern yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai keberadaban dan kebersamaan hidup yang harmonis. Sejarah seharusnya membuat kita perlu mawas diri. Mawas diri untuk menjadi lebih baik.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Rusdi Ngarpan

Penulis Indonesiana/ Alumnus UNNES Semarang, berkarya di SMP

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler