Untuk Mengukur Minat Baca, Taman Bacaan di Bogor Gunakan Kartu Baca bukan Kartu Anggota

Kamis, 30 November 2023 12:07 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Luar biasa, TBM Lentera Pustaka di Bogor terapkan kartu baca bukan kartu anggota. Untuk mengukur seberapa anak-anak rajin membaca tiap minggunya?

Di banyak tempat baca, taman bacaan, atau perpustakaan. Biasanya untuk bisa membaca justru disuruh mendaftar menjadi anggota. Lalu dibuatkanlah "kartu anggota" sebagai syarat untuk bisa masuk dan membaca. Walau tidak tahu, bila sudah jadi anggota akhirnya membaca atau tidak? Asal anggota bisa masuk walau belum tentu membaca, begitulah faktanya.

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Berbeda dengan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Justru setiap anak atau warga mana pun, tidak perlu mendaftar jadi anggota. Tapi setiap anak dan warga yang membaca pasti punya "kartu baca" (bukan kartu anggota). Melalui kartu baca, bisa dicek anak yang rajin atau tidak membaca buku. Setiap anak pasti punya "kartu baca". Karena tidak boleh anak mengambil buku baru sebelum tuntas membaca satu buku dan kartu bacanya diparaf oleh wali baca/relawan. Kartu baca adalah alat kontrol tentang membaca atau tidak. Begitulah fungsi "kartu baca" di TBM Lentera Pustaka. Dari membaca 1 buku per minggu, hingga kini ada yang anak yang bisa membaca 10-20 buku per minggu. Agar terukur minat baca sekaligus kegemaran membaca anak.

 

Kartu baca, memang hanya hal kecil. Tapi dari kartu baca itu, bisa terlihat 1) seberapa intensif anak datang ke taman bacaan, 2) perilaku membaca buku, dan 3) jadi bukti dokumen tentang aktivitas membaca anak. Dan mau tidak mau, wali baca/relawan pun harus memparaf aktivitas baca anak, selain membimbing anak saat membaca buku. Karena tanpa kartu baca, bagaimana kita bisa tahu anak-anak itu membaca atau tidak?

 

Taman bacaan itu hanya soal membiasakan hal-hal kecil yang baik dan positif. Membaca buku itu bukan untuk jadi pintar atau hebat. Tapi membiasakan melakukan hal-hal kecil tapi efektif. Selalu memberi salam saat datang ke TBM, melatih cium tangan kepada yang lebih tua, menemani anak yang membaca, memparaf kartu baca, mengajarkan buta huruf, melatih adab dengan antre, membiasakan menabung, membuang sampah di tempatnya, dan lainnya. Itu semua hal-hal kecil yang ada di TBM Lentera Pustaka. Untuk apa mengejar hal-hal yang besar, tanpa mau menghargai hal-hal kecil? Untuk apa "jago" membaca buku tapi tidak bisa menghargai hal yang kecil?

 

Maka siapapun yang ada di TBM Lentera Pustaka, pasti terus belajar. Bahwa hidup itu tidak melulu mendambakan hal-hal yang besar. Mengejar harta, pangkat, jabatan, kepandaian atau ketenaran. Tapi cukup dengan membiasakan hal-hal yang kecil yang positif. Karena hidup tidak selalu dinilai dari “untung-rugi”. Tapi cukup dinilai dari “seberapa manfaat untuk orang lain”. Dari kartu baca, siapapun bisa belajar. Seberapa besar kita mau membaca dan mau memperhatikan hal yang kecil?

 

Mulailah membaca dari yang kecil-kecil. Karena sesuatu yang baik dan bermanfaat di taman bacaan, hanya dimulai dari yang kecil, yang sederhana, dan mau dilakukan secara berulang-ulang. Salam literasi #KartuBaca #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka

Bagikan Artikel Ini
img-content
Lentera Pustaka

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler