x

Kupu Kupu

Iklan

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 3 Desember 2023 18:58 WIB

Kupu Kupu

Perjodohan perempuan Tionghoa dengan lelaki Batak yang tak mudah.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Judul: Kupu-Kupu

Penulis: Meiliana K. Tansri

Tahun Terbit: 2002

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 139

ISBN: 979-686-965-9

 

Persoalan pernikahan antara etis Tionghoa tidak hanya terjadi dengan etnis Jawa. Pernikahan etnis Tionghoa juga terjadi dengan etnis lain. Pernikahan antara etnis Tionghoa dengan etnis Tionghoa biasanya terhalang karena faktor budaya dan agama. Penikahan antara etnis Tionghoa dengan etnis yang agamanya sama pun masih terhalang budaya. Novel “Kupu-Kupu” karya Meiliana K. Tansri ini adalah contohnya.

Meiliana membahas percintaan antara perempuan Tionghoa dengan pemuda Batak dengan latar belakang Jambi. Tokoh utamanya Katrin dan Bungaran tidak mempunyai halangan dalam hal agama. Tetapi percintaan mereka terhalang perbedaan budaya. Prinsip bahwa tabu memberikan anak perempuan kepada suku lain, budaya balas budi dan konsep tentang kesejahteraan yang berbeda membuat percintaan Katrin dan Bungaran menghadapi liku.

Katrin dibesarkan dalam sebuah keluarga Tionghoa yang cukup mapan secara ekonomi. Katrin, adik-adiknya dan ibunya tinggal bersama sang paman karena ayahnya meninggal muda. Katrin tumbuh menjadi seorang gadis yang cerdas dan mempunyai wawasan kemanusiaan yang tinggi. Katrin adalah seorang penulis muda. Ia tidak suka berdagang. Ia bercita-cita menjadi penulis.

Pertemuan Katrin dengan Bungaran melalui sebuah kegiatan gereja. Kegiatan paduan suara membuat keduanya saling bertemu dan akhirnya menjalin hubungan yang lebih serius. Namun hubungannya menghadapi rintangan karena sang paman menjodohkannya dengan seorang pemuda kaya.

Di titik inilah Meiliana mengungkapkan perbedaan konsep tentang kemapanan. Baik paman maupun sang ibu ingin menjodohkan Katrin dengan seorang pemuda Tionghoa yang kaya karena dengan demikian Katrin akan terjamin hidupnya. Mapan bagi keluarga Tionghoa berarti tidak kekurangan harta. Sedangkan bagi Bungaran dan keluarganya – yang adalah keluarga Batak, kemapanan adalah kalau si lelaki sudah memiliki pekerjaan tetap. Bagi orang Tionghoa, pekerjaan tetap yang tidak menghasilkan kekayaan tidak layak disebut sebagai sebuah pekerjaan.

Konsep kedua yang ditonjolkan oleh Meiliana dalam novel ini adalah tentang balas budi. Orng Tionghoa tidak bisa berhutang budi. Mereka akan membalas budi yang sudah diberikan oleh orang lain. Demikian juga dengan ibu Katrin. Merasa bahwa hidupnya sangat tergantung kepada adik suaminya, ibu Katrin tak bisa menolak keinginan adik iparnya untuk menjodohkan Katrin dengan pemuda kaya beretnis Tionghoa. Meski sesungguhnya ibu Katrin bisa mengerti percintaan Katrin dengan Bungaran, namun karena rasa hutang budi, maka sang ibu terpaksa merestui kehendak sang paman.

Katrin yang nekat untuk menikah dengan Bungaran, bahkan memilih untuk kawin lari harus berakhir sebagai gadis pingit. Katrin dikurung di rumah sang paman.

Keluarga Bungaran tidak tinggal diam. Secara jantan ayah, ibu Bungaran datang ke rumah paman Katrin untuk melamar. Tentu saja mereka ditolak. Penolakan ini membuat keluarga Bungaran menyetujui Bungaran dan Katrin kawin lari. Mereka merancang perlairan Katrin dari Jambi ke Sumatra Utara. Namun upaya ini pun ketahuan. Maka penjagaan terhadap Katrin menjadi semakin kuat.

Katrin yang sudah berputus asa akhirnya menyerah. Ia tidak mau makan. Akibatnya kesehatannya dengan cepat menurun. Dalam keputusasaannya Katrin menulis sebuah catatan harian. Ia ingin berhenti menulis tetapi tidak bisa. Bahkan ketika ia mengiris sendiri jarinya dengan pecahan gelas. Ia tetap menulis meski tubuhnya lemah dan jarinya luka karena pecahan gelas.

Saat ia menuju ke pernikahannya, mobil yang ditumpanginya ditabrak truk. Katrin mengalami luka yang serius dan harus dirawat di rumah sakit. Katrin sempat mengalami koma. Tapi Katrin merasakan selalu bersama dengan Bungaran dan kupu-kupu.

Atas upaya Bungaran, tulisan karya Katrin berhasil diterbitkan. Bungaran sempat memberitahukan kepada Katrin yang sudah sangat lemah. Katrin menghebuskan nafas terakhir dan ayah Bungaran memberinya ulos untuk menutupi jasad Katrin. Pemberian ulos ini menjadi perlambang bahwa Katrin telah secara resmin menjadi menantunya.

Meiliana menggunakan kupu-kupu sebagai perlambang cinta yang tak terpisahkan. Bahkan kupu-kupu dijadikan judul karyanya. Kupu-kupu memang menjadi lambing cinta abadi dalam tradisi Tionghoa, seperti dalam kisah Sampek Engtay. Berbeda dengan kisah percintaan Sampek Engtay yang keduanya meninggal, kisah Katrin dan Bungaran hanya Katrin yang meninggal. 798

Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu