x

Photo by Aron Visuals on Unsplash

Iklan

Nadya Khennis Rozana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 Maret 2023

Kamis, 7 Desember 2023 21:42 WIB

Melankolis Kematian Bahasa

Proses kematian bahasa tidak hanya ditandai oleh kemerosotan penggunaan sehari-hari, tetapi juga oleh tergusurnya bahasa oleh dominasi globalisasi. Bahasa lokal yang kaya dan indah terdesak oleh bahasa internasional yang sering kali lebih fungsional dan praktis.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Di dalam gelapnya perpustakaan sejarah, terdapat kematian yang lambat dan tak terlihat: kematian bahasa. Bahasa-bahasa yang pernah hidup dan bernyanyi, kini merosot dalam keheningan, menyisakan kenangan yang semakin pudar di lorong-lorong waktu.

Setiap bahasa memiliki ceritanya sendiri. Ada yang lahir di desa kecil, tumbuh subur di bibir sungai, dan berkembang menjadi bahasa yang digunakan dalam doa dan nyanyian. Namun, bagaikan pepohonan tua yang tak tahan menahan usia, bahasa-bahasa itu kini semakin terpojokkan dan terpinggirkan.

Pertama-tama, kita menyaksikan perubahan lambat: kata-kata yang digantikan oleh bentuk baru yang lebih sederhana, kosakata khusus yang hanya dipahami oleh kelompok tertentu. Dan akhirnya, kata-kata itu menjadi terlupakan. Generasi baru mungkin bahkan tak pernah mendengar suara indah kata-kata itu diucapkan.

Kematian Bahasa dan Identitas Budaya

Proses kematian bahasa tidak hanya ditandai oleh kemerosotan penggunaan sehari-hari, tetapi juga oleh tergusurnya bahasa oleh dominasi globalisasi. Bahasa lokal yang kaya dan indah terdesak oleh bahasa internasional yang sering kali lebih fungsional dan praktis. Sayangnya, kehilangan bahasa tidak hanya berarti kehilangan kata-kata, tetapi juga kehilangan identitas dan kekayaan budaya.

David Crystal dalam bukunya, Language Death, menulis bahwa sistem pendidikan, media massa, dan ekosistem politik turut berandil dalam kepunahan bahasa. Sama halnya dengan kehilangan kekasih, kehilangan bahasa begitu menyedihkan.

Seiring waktu, suara-suara yang pernah merdu di kampung halaman menjadi samar dan hilang di antara deru globalisasi. Anak muda lebih memilih untuk berbicara dalam bahasa yang lebih umum, dan kata yang digunakan oleh leluhur terperangkap dalam buku yang jarang dibuka. Kematian bahasa bukan hanya akhir dari struktur kata, tetapi juga akhir dari cara kita menggambarkan dunia.

Meskipun begitu, ada usaha kecil di seluruh dunia untuk membangkitkan kembali bahasa-bahasa yang hampir padam. Inisiatif lokal dan komunitas yang peduli berusaha menyelamatkan kata-kata yang terancam punah. Di balik kekhawatiran akan kematian bahasa, terdapat harapan yang tumbuh subur, menyala seperti api kecil di tengah malam.

Kita mungkin tidak dapat menghentikan sepenuhnya kematian bahasa, tetapi kita memiliki kemampuan untuk merayakan dan memelihara keindahan yang tersisa. Setiap kata yang hilang adalah sebuah cerita yang terkubur. Tetapi setiap usaha untuk merawat bahasa adalah sebuah kemenangan kecil dalam memerangi kelupaan. Dengan menghormati dan merayakan keberagaman bahasa, kita merawat warisan lisan dan menunda kematian bahasa hingga keheningan yang tidak dapat dihindari.

Ikuti tulisan menarik Nadya Khennis Rozana lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu