Menuju Terang Literasi

Jumat, 5 Januari 2024 18:46 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Buku ini memuat kiat-kiat membuat anak gemar membaca di sekolah hasil pengamatan di sekolah di Bali.

Judul: Menuju Terang Literasi

Penulis: Alifah Fawzia, dkk.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Editor: Iqbal Aji Daryono

Tahun Terbit: 2023

Penerbit: INOVASI

Tebal: xviii + 121

ISBN:

 

Saya salut dengan Iqbal Aji Daryono. Iqbal berhasil membut orang-orang yang tak berpengalaman menulis poluler mampu menghasilkan sebuah karya yang menginspirasi. Keberhasilan Iqbal dan para penulis ini sedikit banyak mengobati kekecewaan saya kepada banyaknya kegiatan pendampingan menulis yang abal-abal. Para penulis buku ini, dengan bimbingan dari Iqbal mampu mentransformasi data dan informasi teknis menjadi sesuatu yang mudah dipahami oleh para pembaca awam. Bahkan mampu mengiilhami.

Saya sedih saat mengetahui bahwa proyek penulisan buku hanya dipakai sebagai bisnis jangka pendek untuk membuat guru bisa naik pangkat tanpa mempedulikan kualitas karya si guru tersebut. “Yang penting ada ISBN-nya” sehingga bisa dipakai untuk naik pangkat. Praktik semacam ini menjamur beberapa tahun terakhir ini. Praktik membimbing guru untuk bisa menghasilkan karya tulis yang sesungguhnya mulia ini telah terjerumus kepada bisnis instan yang memalukan.

Tidak demikian dengan proyek penulisan buku yang dilakukan oleh para penulis buku yang dijuduli “Menuju Terang Literasi” ini. Iqbal berhasil membuat para penulis yang tidak mempunyai latar belakang menulis populer mampu menghasilkan karya yang renyah.

Buku ini berawal dari sebuah kegiatan pengamatan di sekolah di Bali. Para pengamat adalah dari divisi Monitoring, Evaluation, Research and Learning (MERL) sebuah proyek pendidikan. Jika selama ini hasil pengamatan dituangkan menjadi tulisan ilmiah – atau setidaknya dalam bentuk tulisan yang hanya dipahami oleh rekan kerja, kali ini mereka ingin hasil pengamatan tersebut bermanfaat bagi orang yang awam tentang disiplin ilmu monitoring evaluasi.

Saya tahu bahwa para penulis buku ini berasal dari disiplin ilmu monitoring dan evaluasi. Banyak dari para penulis buku ini memang terbiasa menulis. Tapi mereka biasanya menulis karya ilmiah. Jarang dari mereka yang menulis dengan gaya populer. Bahkan beberapa dari mereka masih sangat yunior dan belum punya pengalaman menulis sama sekali. Namun ternyata semua tulisan mereka bernas dan mudah dicerna oleh mereka yang awam.

Topik yang dibahas dalam buku ini adalah tentang bagaimana sekolah memfasilitasi budaya baca di kelas. Bagaimana membuat anak-anak bahagia saat membaca. Sehingga anak tidak takut dan bosan belajar membaca.

Di tengah trend pelajaran membaca di sekolah yang diarahkan kepada membaca untuk mencari ilmu, membaca untuk memperbaiki akhlak dan sebagainya, Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLAI) mengembangkan pendekatan yang berbeda. YLAI mengenalkan pendekatan bagaimana membuat anak senang membaca. Bagaimana membuat proses membaca adalah sebuah proses yang asyik, sehingga anak-anak suka membaca.

Banyak informasi yang dikumpulkan dari pengamatan kelas dan sekolah yang disajikan. Hasil pengamatan tersebut diperkuat dengan wawancara kepada guru dan kepala sekolah. Semua hasil pengamatan dan wawancara tersebut disajikan dalam artikel-artikel yang menarik. Istilah kerennya disajikan dalam bentuk story telling. Penyajian dengan gaya story telling membuat yang membaca menjadi seakan-akan ikut dalam perjalanan pengamatan dan wawancara tersebut.

Pemilihan judul-judul artikel juga sangat menarik. Beberapa judul merangsang pihak pembaca untuk mempelajari dan mencoba. Misalnya: Siasat Kepala Sekolah dan Guru Tingkatkan Minat Baca Anak, Buku yang Membuat Siswa Mau Membaca, Kelas yang Tidak Biasa, dan sebagainya.

Selain kiat-kiat umum yang ditulis, saya menemukan satu artikel yang sangat menarik. Artikel tersebut berjudul “Bangku Spesial Untuk Lala.” Artikel yang ditulis oleh Alifah Fawzia ini menceritakan bagaimana guru memberikan perhatian khusus kepada anak yang berkebutuhan khusus. Alifah menuturkan bagaimana Bu Herawati memberikan perlakuan khusus kepada Lala yang tidak bisa belajar bersama dengan teman-temannya di kelas. Bu Herawati membuat bangku khusus untuk Lala. Di bangku khusus itulah Bu Herawati membimbing Lala sampai akhirnya bisa membaca.

Selamat kepada para penulis. Dan selamat kepada Iqbal Aji Daryono sang pembimbing. 809

Bagikan Artikel Ini
img-content
Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua