Drama Politik Kaum Skeptis; Siapapun Presidenya Kita Cari Uang Sendiri

Kamis, 8 Februari 2024 19:07 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Masyarakat dibenturkan oleh permasalahan ”cari uang saja sudah susah, tambah susah mikirin politik”. Tanpa peduli apa yang terjadi dengan bangsanya. Padahal semua yang kita hadapi menyangkut politik, bahkan gaji yang kita nikmati sekalipun. Dianggapnya mencari uang itu cuma fenomena aksidentalia, tanpa latar belakang yang lebih substantif di kebijakan-kebijakan politik pemerintah. (Deni Kurniawan)

Siapapun presidenya kita, tetap cari uang sendiri, tetap cari makan sendiri, tetap cari kehidupan sendiri, jadi buat apa nyoblos? Pernahkah pertanyaan ini berlalu-lalang melalui media sosial Anda. Atau mungkin orang-orang sekitar Anda berpikiran seperti demikian.

Memang cukup ironis melihat orang-orang yang sudah terlanjur skeptis melihat politik dan menganggapnya tidak ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Mirisnya lagi, masyarakat dibentukan oleh permasalahan "Cari uang saja susah, tambah susah mikirin politik" anpa peduli apa yang terjadi dibangsanya. Padahal semua yang kita hadapi adalah menyangkut politik, bahkan gaji yang kita nikmati sekalipun.

Dianggapnya mencari uang itu cuma fenomena aksidentalia, tanpa latar belakang yang lebih substansif di kebijakan-kebijakan politik pemerintah.

Coba buka mata, lihatlah betapa sebenarnya kita semua ini pada hakikatnya pelaku politik, baik saintis yang sibuk di laboratorium, maupun teknisi yang sibuk merancang bangunan sekalipun. Jika kehidupan sebagai teknisi misalnya, tidak sejahtera, temuan tidak dihargai, kompetensi tidak ter-standarisasi dan lainnya. Apalagi yang bisa mengubahnya kalau bukan politik.

Bahkan berpartisipasi dalam memeprbaiki kehidupan warga di lingkungan sekitar kita juga sebenarnya sudah dikatakan berpolitik, jadi hampir semua aspek dan kehidupan kita ternayat dipengaruhi politik, entah disadari atau tidak.

Bertolt Brecht seorang penyair Jerman pernah mengatakan, "Buta terburuk adalah buta politik, Dia tidak mendengar, berbicara dan berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga sepatu, obat semua tergantung kepada keputusan politik."

Orang yang buta politik begitu bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahirnya pelacur, anak-anak terlantar dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional yang menguras kekayaan negeri.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Deni Kurniawan

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler