x

Kolase Foto Tempo.com

Iklan

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB

Numerik

Panorama cerpen, imaji mengurai sel-sel otak agar tetap sehat walafiat. Tak ada pembaca tak ada seni susastra. Jelajah imajinasi.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

DONGENG LANGIT.
Sentir layar terkembang cahaya pembuka.
Musik: Metal symphony adegan berkisah.

Bhisma gugur, di arena kejayaan perang Kurusetra. Duryudana, setuju usul, Karna.; Mahasenapati Durna, resmi memimpin bala tentara gabungan pangeran-satria Kurawa, lanjut adu sakti dengan pasukan gabungan pangeran-satria Pandawa. Apakah bumi bakalan terguncang 'perang' selama usianya.

Serat kitab langit, menulis takdir lakon akhir kehidupan para planet. Tak satupun mampu menduga kuasa semesta. Kapan bakal terjadi dua kutub di bawah langit bumi berubah jadi bunga sahara. Matahari meledak bulan tabrakan; bergantung sumber kemuliaan hidup penuh kasih atau tidak-menjaga bumi semesta lestari.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Hidup tak sekadar 
menulis risalah kata-kata
di permukaan air, sirna 
menggelombang.

Tak guna mengelabui air
sebab air penjaga bumi.

Gelas isi air berbanding gelas kosong sama dengan kosong. Gelas isi air kuadrat berbanding sama, menguap, kembali pada kosong, perbandingan kuadrat gugur; antikepangkatan terjalin akibat kamuflase antar dua titik kulminasi. Bertemu kesetaraan negatif berbanding sama, tak sebanding positif sekalipun jungkir balik.

Keterbalikan dari daya dorong di ranah daya berat; kosong tanpa daya apapun ketika gelas sekalipun isi tak menemukan kekuatan daya berat, meskipun setelan sistem energi tersusun apik di siklus sel-sel numeral. Tak pasti mampu mencapai keserupaan seolah-olah kesempurnaan, apapun, ketika terhempas kosong; eror-stagnan.

Destarata, memeluk kaki, Resi Maitreya, memohon membatalkan kutukannya untuk Duryudana, karena menolak nasihat, Resi Maitreya, agar Duryudana mengedepankan kasih sayang, mau berdamai dengan Pandawa, semakin kuat didukung pula oleh Krishna bareng Drupada raja Pancala.

Keseimbangan daya bertemu alternatif. Sekalipun kerlip gemintang kasat mata. Sains terbalik ataupun dijungkirbalikan agar tampak gaib serupa antifrekuensi setara vertikal-horizontal. Persejajaran diferensial daya tarik menarik diperlakukan gugur pada saat diferensial semantis. 

Terlihat, benda berkilatan, senjata perang beterbangan, berpindah-pindah bolak balik tak henti-henti. "Haarch!" Menggeram. "Haarch!" Mengaum. "Haarch!" Amuk, gema tak mencapai frekuensi apapun sebatas pencapaian anonim. Kosong bermain dibalik ranah polarisasi logika berbanding tanwujud. Kurusetra terlanjur banjir darah.

Pengendalian metafisika tak mampu merubah kosong-pada siklus inti daya putaran waktu. Pergerakan benda padat pada kosong tak mampu eksis supermasif di ruang realitas pemilik ruang tanpa daya, hampa. Kecepatan suara tak sebanding kecepatan waktu cahaya. Logika berpola terbolak-balik terperosok kumparan kosong.

Mahasenapati Durna, tak lama memimpin bala tentara Kurawa, beberapa hari saja, ia kehilangan kekuatan tempur akibat kabar burung. Durna, gugur dipenggal kepalanya oleh, Drestadyumna, panglima laskar Pandawa, ketika Durna tengah bertafakur. Jabatan Durna, dilanjutkan Karna, sebagai panglima laskar Kurawa.

Seni peran telah ditentukan di panggung bumi; makhluk berinteligensi wajib menjaga siklus kesadaran sains; eksak-noneksak, di kumparan spirit kehidupan resmi telah diberkati. 

"Perbandingan."
"Tak sebanding." 
"Gundulmu."
"Secepat waktu?"

"Secepat suarapun tak mampu merubah nilai kenisbian."
"Jenis sains pemangsa langka sekalipun tampak pandir."
"Autoritas fisik tak mampu mendukung kecepatan neutron."
"Akibat sifat numerik tak mampu melawan alternatif desakan ion."

"Tenggat waktu akan melemahkan."
"Oke. Sebagai asumsi."
"Nonlogis terpana secara neuritis digital."
"Sifat esensi terpecah."

"Pada ketepatan waktu tempuh."
"Masih praduga." Sembari bersalaman.

Semesta gebyar-gebyar gemintang. Para wayang menyimpan cerita di laci-laci. Kalau tidak jujur, celaka. Bahaya laten siklus sangkala kronis membayangi kemanapun melangkah. Duryudana, bergegas membawa kesombongannya, setelah kutukan Resi Maitreya, terucap. Gada pusaka Bimasena menghantam, Duryudana gugur. 

Blep! Lampu mati
Mau ngumpet?
Dalam gelap? 
Di kolong langit?

Ada siapa 
di urat nadimu.

***

Jakarta Indonesiana, February 23, 2024.
Salam NKRI Pancasila. Banyak kebaikan setiap hari.

Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler