Review Buku Mencetak Guru Abad 21: Dibutuhkan Guru yang Profesional dan Kreatif

Minggu, 10 Maret 2024 16:55 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Guru harus kreatif dan profesional dibutuhkan di abad 21. Tanpa kreativitas, sulit menerapkan pembelajaran dalam kurikulum merdeka

Guru sebuah pekerjaan yang mulia. Kata-katanya digugu dan tingkah lakunya ditiru. Persis seperti ungkapan guru itu digugu dan ditiru.

Banyaknya kasus yang menyeret guru ke ranah hukum, membuat profesi guru kian berat. Bahkan cenderung sulit. Kok bisa ya?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Guru bekerja mendidik generasi muda, mulai anak-anak hingga dewasa. Pendidikan yang ada di negeri ini sungguh menyusahkan. Guru harus mengerjakan PMM, mengajar dan menyelesaikan berbagai macam administrasi. Hingga memunculkan istilah pagi mengajar, siang mengerjakan pmm dan malam webinar. Seolah tidak ada waktu untuk istirahat dan bersama keluarga.

Guru di abad 21 ini sangat berat tuntutannya. Selain harus profesional karena mendapat tunjangan profesi, juga diiri oleh ASN lain. Padahal jika mengetahui beban kerja guru sungguh berat. Saya mengatakan itu, karena saya bekerja sebagai pendidik.

Kasus-kasus di dunia pendidikan yang melibatkan guru, sebenarnya bukan selamanya kesalahan guru. Cobalah kita renungkan diri kita sendiri. 

Anak-anak kita adalah cerminan diri kita sendiri. Tak percaya? Perhatikanlah wajah, warna rambut dan kulit serta perilaku mereka. Itu seperti fotokopi diri kita.

Anak-anak kita dididik sedemikian rupa menjadi anak yang baik. Namun, kadang dalam keluarga tidak demikian.

Sebagai contoh kecil, anak kita berbicara dengan menyebutkan kata-kata pisuhan atau umpatan berupa nama-nama binatang. Seolah mulut mereka itu kebun binatang. Adakah kita sebagai orang tua pernah mengingatkan bahwa itu tidak baik? Saya yakin jika banyak orang tua yang tidak mengingatkan anak-anak mereka. 

Hal itu pernah saya tanyakan pada anak didik saya. Ternyata jawabannya membuat saya geleng kepala. Bapak ibu saya saja tidak melarang, lha kok pak guru melarang. Waduh. Ini dia kesalahan kita sebagai orang tua.

Jika guru menegur mereka, apakah orang tuanya mau menerima? Kebanyakan mereka justru melaporkan guru ke polisi dan memperkarakan sebagai tindakan bullying atau kekerasan pada anak. Padahal fungsi guru itu mendidik agar anak menjadi lebih baik. Kenyataannya banyak guru dipolisikan orang tua siswa karena menegur siswanya. Ini yang salah guru atau orang tua yang tidak paham pendidikan.

Menghadapi permasalahan pendidikan yang kian rumit, buku Mencetak Guru Abad 21 cocok untuk dibaca.

Buku karya Endang Sri Wahyuni ini membahas banyak hal tentang guru dan pendidikan di abad 21. Seperti paradigma pendidikan abad 21, kompetensi profesional guru, karakteristik guru dan tantangan guru abad 21, kecakapan hidup yang diperlukan di abad 21 dan proses pembelajaran yang dilakukan unruk mewujudkan generasi yang handal untuk menghadapi globalisasi di abad modern ini.

Guru diharapkan memiliki kecakapan utama yaitu akuntabilitas dan kemamouan beradaptasi, kecakapan berkomunikasi, kreativitas dan keingintahuan intelektual, berpikir kritis dan berpikir dalam sistem, kecakapan melek informasi dan media, kecakapan hubungan pribadi dan kerjasama, identifikasi masalah, penjabaran dan solusi serta pengarahan pribadi dan tanggung jawab sosial.

Buku setebal 84 halaman ini cocok dibaca dan saya rekomendasikan untuk dipelajari sehingga para guru mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan kecepatan informasi.

Demikian review buku mencetak guru abad 21, semoga bermanfaat. Terima kasih.

Sumber: Endang Sri Wahyuni, 2023, Mencetak Guru Abad 21, Pati: Nikrusmedia.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Rusdi Ngarpan

Penulis Indonesiana/ Alumnus UNNES Semarang, berkarya di SMP

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua