x

Elon Musk

Iklan

Elin Sri Handayani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 Februari 2024

Selasa, 12 Maret 2024 19:13 WIB

Maksud Elon Musk tentang With Artificial Intelligence, We Are Summoning the Demon

Kelahiran AI memang sangat mempermudah manusia di tengah kehidupan. Namun, ternyata perlu direnungkan serius dampak buruk dari penggunaan AI.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pada zaman menjamurnya teknologi pasti sudah tidak asing dengan AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan. AI pertama kali diperkenalkan pada tahun 1956 oleh seorang Ilmuwan Komputer Amerika, John McCarthy di pertemuan Dartmouth. AI sendiri adalah simulasi kecerdasan manusia berupa program komputer yang diterapkan ke dalam sistem komputer atau mesin tertentu.

AI mampu meniru kemampuan intelektual manusia serta bisa menyelesaikan tugas-tugas komplek dengan cepat dan efisien. Beberapa contoh penerapan AI yaitu pada aplikasi Chat GPT, Google Assistant, Canva, Grammarly dan masih banyak lagi. Pembaca esai ini pasti sudah pernah menggunakan aplikasi tersebut, kan?

Kelahiran AI memang sangat mempermudah manusia di tengah kehidupan. Namun, ternyata perlu direnungkan serius dampak buruk dari penggunaan AI. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kepala eksekutif Tesla, Elon Musk, telah memperingatkan tentang kecerdasan buatan yang mana bisa lebih berbahaya daripada senjata nuklir. “With Artificial Intelligence, we are summoning the demon,” pernyataan Elon dalam wawancara eksklusif pada 24 Oktober 2014  yang diadakan oleh MIT Aeronautics and Astronautics Department. 

Jika dimaknai, pernyataan Elon Musk adalah sebuah ketakutan akan masa depan yang buruk akibat dari dampak negatif atau bahaya AI. Berikut kita kupas kemungkinan bahaya AI.

Lonjakan Pengangguran

Dari beberapa analisis dalam Goldman sachs yang diberi judul “The Potentially Large Effects of Artificial Intelligence on Economic Growth” memprediksi bahwa AI berpotensi menggantikan 300 juta pekerjaan manusia. 

Bisa kita lihat sekarang, bagaimana dengan mudahnya membuat berbagai desain poster, presentasi, video, dan desain lainnya menggunakan AI dalam Canva. Kemudian sebuah ilustrasi yang bisa dengan mudah dibuat menggunakan AI Animation Maker. Hal ini bisa saja melengserkan seorang desainer dan ilustrator dari pekerjaanya. 

AI Tidak Dapat Dikendalikan

AI hanyalah sebuah teknologi yang mana dalam penerapannya terjadi eror. Misalnya diterapkan pada robot, bisa saja ketika terjadi eror robot tersebut membahayakan pemiliknya. Ada lagi yaitu sebuah kendaraan mampu melaju sendiri tanpa bantuan manusia, sebenarnya ini capaian terbaik pengembangan AI yang disebut sistem self-drive. Tapi, bisakah mobil berbasis AI memutuskan ketika harus menghitung resiko rendah dalam situasi lalu lintas yang berbahaya?

Ledakan Hoaks 

CEO Open AI, Sam Altman, dalam sebuah kesempatan memberi peringatan mengenai penggunaan AI. Kemungkinan AI digunakan oleh penyebar informasi hoaks dalam bentuk teks, foto, suara, dan video yang sulit diterka. Contohnya isu rekaman Anies Baswedan yang dimarahi oleh Surya Paloh. Pelaku pembuatan informasi hoaks menggunakan AI untuk memodifikasi suara Anies Baswedan dan Surya Paloh. 

Intinya AI adalah simulasi kecerdasan manusia berupa program komputer yang diterapkan ke dalam sistem komputer atau mesin tertentu. Tentunya untuk mempermudah manusia dalam menjalankan pekerjaan bukan menggantikan manusia dalam melakukan pekerjaan. 

Segala hal pasti memiliki dampak positif dan negatif, termasuk AI. Sederhananya beberapa dampak positif AI bisa menyelesaikan tugas dengan cepat, menjawab segala pertanyaan, dan membaca history. Dampak negatif AI mempermudah produksi konten hoaks, lonjakan pengangguran, dan AI tidak dapat dikendalikan atau mengembangkan diri sendiri.

Perlu ada pengawasan dari pemerintah terkait penggunaan AI. Penegasan, bukan hanya rentetan peraturan. Pengguna pun harus bijak pada diri sendiri dalam menggunakan AI. Jangan sampai AI memangkas kreativitas apalagi membunuh skil dalam diri. 

*) Artikel ini adalah tugas dari mata kuliah Komunikasi Digital yang diampu Rachma Tri Widuri, S.Sos., M.Si.
Penulis adalah mahasiswa semester 4 pada Prodi Produksi Media, Politeknik Tempo.

 

Ikuti tulisan menarik Elin Sri Handayani lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler