x

Salah satu sudut Kota Baubau, Buton. Foto: tangkapan layar dari chanel ButonizenID di Youtube.

Iklan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Sabtu, 16 Maret 2024 15:17 WIB

Aspal Buton, Harta Karun di Depan Pelupuk Mata

Pada pemerintahan pak Jokowi sekarang ini, kandungan bitumen harta karun aspal Buton adalah 100%, karena menggunakan Teknologi ekstraksi aspal Buton yang handal, ekonomis, dan ramah lingkungan. Tetapi sungguh sangat disayangkan sekali, bahwa pak Jokowi tidak mampu melihat harta karun aspal Buton yang sudah berada di depan pelupuk mata ini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Harta karun biasanya ditemukan di dasar samudera, di pulau-pulau terpencil, di pedalaman hutan dan rimba, di dalam bumi, dan di tempat-tempat bersejarah peninggalan kerajaan-kerajaan dan peradaban-peradaban pada zaman dulu. Dan biasanya harta karun ini ditemukan tanpa disengaja, seperti apa yang telah terjadi di Jepang. Selama proyek pembangunan pabrik di utara Tokyo, Jepang, para pekerja telah menemukan harta karun sekitar 100.000 koin emas yang terkubur di lokasi tersebut.

Di era modern sekarang ini, ada profesi baru yang bernama pemburu harta karun. Pemburu harta karun bukan dongeng semata, tetapi sudah menjadi mata pencarian. Mereka benar ada dan banyak di antaranya yang sukses kaya raya dari upaya itu. Salah satu orang yang telah berhasil menjadi pemburu harta karun adalah Michael Hatcher dari Belanda. Pada tahun 1986, Hatcher berhasil melakukan penemuan Kapal VOC, Geldermalsen yang tenggelam di perairan Karang Heliputan, Riau. Dia berhasil mendapatkan 100 emas batang dan 20.000 porselin China dari dinasti Ming dan Qing senilai US$ 15 juta.

Dari 2 buah kisah nyata di atas, apa yang dapat kita ambil hikmahnya. Hikmahnya adalah orang-orang yang telah menemukan harta karun itu adalah orang-orang yang sangat beruntung. Seandainya orang-orang tersebut bekerja keras selama hidupnya, belum tentu mereka akan sekaya ketika mereka mendapatkan harta karun. Harta karun adalah rezeki nomplok yang diberikan kepada orang-orang yang sangat beruntung. Dan mendapatkan harta karun adalah impian setiap orang. Tetapi hanya sedikit sekali orang yang memperolehnya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Di Indonesia, ada fenomena aneh, dimana harta karun tersebut telah diabaikan dan tidak dipedulikan sama sekali oleh pemerintah. Harta karun itu bernama aspal Buton. Aspal Buton adalah aspal alam yang terdapat di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Jumlah deposit aspal alam ini diyakini sebagai jumlah deposit aspal alam yang terbesar di dunia. Tetapi meskipun Indonesia sudah 78 tahun merdeka. Dan sudah 7 kali berganti presiden. Harta karun aspal Buton ini masih dianggap sebagai onggok batu-batuan hitam yang tidak bernilai sama sekali. Padahal di dalam pori-pori batuan hitam tersebut mengandung emas hitam atau aspal Buton.

Melihat fakta yang tidak terbantahkan ini, rakyat bertanya-tanya. Apakah ada yang salah dengan aspal Buton? Sehingga pemerintah mengabaikannya dan tidak peduli sama sekali?. Apakah pemerintah tidak pernah membaca sejarah, bahwa pada tahun 1924, ketika untuk pertama kalinya aspal Buton ditemukan oleh seorang Geolog Belanda, yang bernama W.H. Hetzel, dua tahun berikutnya aspal Buton sudah langsung diproduksi di bawah bendera perusahaan N.V. Mijnbouw en Cultuur Maschappij?

Pemerintah Belanda paham sekali bahwa apa yang ditemukan oleh Hetzel tersebut adalah sebuah harta karun aspal Buton. Oleh karena itu, hanya dalam waktu 2 tahun, aspal Buton itu sudah langsung diproduksi cepat-cepat. Dan melalui pelabuhan Banabungi dan Lawele, aspal Buton tersebut diekspor ke luar negeri. Perusahaan Belanda ini stop berproduksi ketika pecah perang pacific di tahun 1945. Tetapi kita dapat membayangkan sudah berapa banyak emas hitam aspal Buton yang sudah mereka jual dengan harga yang mahal selama 21 tahun berproduksi. Adapun emas hitam aspal Buton yang diekspor tersebut adalah aspal Buton yang paling tinggi kualitas kandungan bitumennya. Dan rata-rata kandungan bitumennya adalah sekitar 40%. Sedangkan kandungan bitumen aspal Buton rata-rata pada saat ini adalah hanya tinggal 20% saja.

Seharusnya pemerintah merasa malu kepada rakyat, karena tidak mampu berbuat sesuatu untuk aspal Buton, seperti apa yang sudah dilaksanakan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1924. Hanya dalam kurun waktu 2 tahun saja setelah harta karun aspal Buton untuk pertama kali ditemukan, Belanda langsung memberikan penguasaan konsesi kawasan penambangan aspal Buton selama 30 tahun kepada seorang pengusaha Belanda bernama A. Volker. Bagaimana dengan pemerintah Indonesia? Indonesia sudah 78 tahun merdeka, tetapi aspal Buton masih belum juga mampu dimanfaatkan dan diolah untuk mensubstitusi aspal impor.

Kita merasa sangat heran dan bertanya-tanya. Apakah aspal Buton yang diproduksi pada zaman penjajahan Belanda berbeda dengan aspal Buton pada zaman pemerintahan pak Jokowi sekarang ini?. Pada zaman penjajahan Belanda penemuan aspal Buton merupakan penemuan harta karun. Tetapi pada zaman pemerintahan pak Jokowi, harta karun aspal Buton penemuan Belanda itu sudah tidak ada lagi. Apakah harta karun aspal Buton itu dibawa pulang oleh Belanda ke negerinya? Sebagian harta karun aspal Buton sudah dibawa ke negeri Belanda untuk membangun jalan-jalan di Belanda. Tetapi sebagian besar harta karun aspal Buton masih berada di bumi Ibu Pertiwi. Tetapi mengapa pemerintah sudah tidak mampu melihat lagi besar nilai dari harga karun aspal Buton ini?

Sejatinya, aspal Buton di zaman penjajahan Belanda, masih sama dengan aspal Buton di zaman pemerintahan pak Jokowi. Yang membedakannya adalah kandungan rata-rata bitumen pada zaman penjajahan Belanda adalah sekitar 40%, sedangkan pada pemerintahan pak Jokowi tinggal 20% saja. Apakah dengan adanya penurunan kandungan raya-rata bitumen ini, maka aspal Buton dianggap sudah bukan merupakan harta karun lagi?. Ini adalah anggapan yang sangat keliru. Karena sekali aspal Buton adalah sebuah harta karun, maka akan selalu menjadi harta karun. Meskipun kandungan bitumennya sudah menurun.

Harta karun adalah rezeki nomplok yang dianugerahi Allah SWT kepada manusia. Kalau kita bersyukur mengenai nikmat harta karun aspal Buton ini, maka Allah SWT akan menambah nikmatnya. Bagaimana cara Allah SWT menambahkan nikmat harta karun aspal Buton kepada rakyat Indonesia? Kalau pada zaman Belanda kandungan rata-rata bitumen harta karun aspal Buton adalah 40%, maka pada zaman pemerintahan pak Jokowi kandungan rata-rata bitumen harta karun aspal Buton adalah 100%. Lho, kok bisa, dan malah naik kandungan bitumennya? Itulah hebatnya Allah SWT dalam memberikan nikmat kepada hambanya yang pandai bersyukur.

Pada pemerintahan pak Jokowi sekarang ini, kandungan bitumen harta karun aspal Buton adalah 100%, karena menggunakan Teknologi ekstraksi aspal Buton yang handal, ekonomis, dan ramah lingkungan. Tetapi sungguh sangat disayangkan sekali, bahwa pak Jokowi tidak mampu melihat harta karun aspal Buton yang sudah berada di depan pelupuk mata ini.

Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan