Kajian Ramadhan #18: Nuzulul Quran dan Faedah Memperingatinya

Senin, 1 April 2024 08:04 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dengan mentadaburi dan memahami isi kandungan Al Quran akan mendorong seseorang untuk semakin menyelaraskan cara hidup, beraktifitas, dan berinteraksi baik dalam area private maupun sosial dan lingkungan alam dengan kaidah dan pesan-pesan syar’i yang tertuang dalam Al Quran.

Tujuhbelas Ramadhan kemarin kaum muslimin memperingati Nuzulul Quran, salah satu peristiwa penting dan strategis dalam lanskap sejarah dan peradaban Islam. Yakni peristiwa diturunkannya Al Quran sebagai wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

Para Ulama berbeda pandangan mengenai waktu terjadinya peristiwa Nuzulul Quran ini. Sebagian ada yang berpendapat peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 24 Ramadhan. Namun pandangan yang paling masyhur Nuzulul Quran terjadi pada tanggal 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum hijrah bertepatan dengan bulan Juli tahun 610 Masehi (Syekh Muhammad al-Khudlari Bik, Nur al-Yaqin Fi Sirati Sayyid al-Mursalin).

Al Quran merekam peristiwa Nuzulul Quran ini dalam beberapa surat, antara lain surat Al Baqarah ayat 185, Ad Dukhan ayat 2-3, dan Al Qadr ayat 1.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Di dalam surat Al Baqoroh ayat 185 Allah menjelaskan: "Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil….”

Kemudian didalam surat Ad Dukhan ayat 2 dan 3, Allah berfirman: “Demi Kitab (Al Quran) yang jelas. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan”. Dan didalam surat Al Qadr ayat 1: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan.”.

 

Tahap dan Proses Turunnya Al Quran

Istilah Nuzulul Qur’an terdiri dari kata, “Nuzul dan Al-Qur’an”. Nuzul artinya turun. Namun penting difahami, penggunaan kata nuzul dalam istilah nuzulul Qur’an (turunnya Al-Quran) harus pahami secara majazi, bukan hakiki. Yakni pemahaman bukan berdasarkan makna denotatif teksnya karena ada hubungan (alaqoh) dan indikator (qarinah) tertentu yang mengalihkan dari makna aslinya.  

Dalam konteks ini, Al Quran yang dimaksud bukanlah obyek berbentuk fisik berupa buku tercetak atau tertulis. Melainkan Al Quran sebagai al-kalâm an-nafsi yang terdapat dalam zat Allah. Jadi, Al Quran tidak lain merupakan bagian dari zat Allah SWT, karena itu secara semantik an-nuzûl tidak tepat difahami secara hakiki (sesuai teksnya).

Berdasarkan kaidah tersebut, maka As-Suyuthi (1951) memaknai Nuzulul Quran sebagai peristiwa penyampaian wahyu (informasi) kepada Nabi Muhammad dari alam ghaib ke alam nyata melalui perantara malaikar Jibril ‘alaihissalam.

Al Quran sebagaimana makna majazi itu diturunkan dalam tiga tahap. Pertama, Al Quran Allah turunkan ke Lauhil Mahfudz. Suatu tempat yang di dalamnya tersimpan segala hal yang berhubungan dengan qada dan qadar Allah SWT, kejadian masa lalu dan peristiwa yang akan datang. Pemahaman para Ulama ini berdasarkan Al Quran surat Al Buruj ayat 21-22: "Bahkan, (yang didustakan itu) Al-Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam (tempat) yang terjadi (Lauhul Mahfudz)."


Menurut sebagian besar Ulama bentuk Al Quran kala masih tersimpan di Lauhil Mahfudz. adalah berupa hafalan para Malaikat dalam Bahasa Arab. Jadi tidak dalam wujud benda kogkret yang dapat dipegang, melainkan berupa esensi yang dihafal oleh para Malaikat.

Kedua, Al Quran diturunkan dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah, langit paling bawah atau lazim disebut sebagai langit dunia. Pada tahap kedua ini, proses penurunan Al-Quran terjadi dalam waktu satu malam saja, yang kemudian dikenal sebagai Laylatul Qodar, malam yang diberkahi.

Pendapat para Ulama ini didasarkan pada Al Quran surat Al Qadr ayat 1: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada Lailatul Qadar." Dan juga surat Ad Dukhan ayat 3 sebagimana telah disebutkan diatas : Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.”

Ketiga, dari Baitul Izzah Al Quran kemudian diturunkan sebagai wahyu kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Pada tahap ketiga ini proses pewahyuan Al Quran berlangsung secara berangsur-angsur sesuai kebutuhan. Sementara teks pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah ayat 1-5 surat Al Alaq. Berikut ini terjemahan ayatnya:

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."

Dalam konteks sejarah peradaban Islam, atau secara lebih spesifik lagi dalam sejarah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW baik sebagai Nabi dan Rosul maupun sebagai pemimpin (sosial, politik) umat, peritsiwan turunnya Al Quran ini memiliki makna penting dan strategis. Setidaknya karena dua alasan berikut.

Pertama, bahwa diturunkannya Al Quran menjadi penanda pengangkatan Muhammad sebagai Nabi, yang tidak lama kemudian akan diikuti dengan penugasan beliau sebagai Rosulullah.

Dalam literatur teologi Islam, Nabi adalah orang yang Allah pilih untuk menerima wahyu namun tidak diwajibkan menyampaikannya kepada manusia. Sedangkan Rasul menerima wahyu Allah sekaligus berkewajiban menyampaikannya kepada umat manusia.

Kedua, memperteguh keyakinan umat Islam kala itu tentang status kenabian dan kerasulan Muhammad SAW, sekaligus mengonsolidasikan semangat gerakan dakwah di kalangan para Sahabat Nabi.

 

Hikmah Memperingati Nuzulul Quran

Bagi umat Islam saat ini, selain berbuah pahala, turut serta memperingati dan menyimak dengan sungguh-sungguh peristiwa Nuzulul Quran mengandung banyak hikmah atau faedah, baik dalam konteks pribadi maupun sosial dan keumatan. Beberapa diantaranya adalah berikut ini.

Pertama, dapat lebih menghidupkan rasa cinta dan ta’dzim kepada Al Quran. Dua situasi bathin atau ruhaniyah yang bisa mendorong seseorang untuk lebih intens berinteraksi dengan Al Quran, dan tidak hanya berlangsung di sepanjang Ramadhan saja. Dan tidak sekadar bahan bacaan, melainkan menjadi bahan kajian.

Kedua, dapat lebih menumbuhkan semangat untuk mentadaburi (merenungi, kontemplasi ilahiyah) seputar Al Quran secara komprehensif. Mulai dari Al Quran sebagai kalam (perkataan) Allah, yang berarti narasi dan esensinya merupakan bagian dari dzat Sang Adikodrati. Kemudian Al Quran sebagai petunjuk atau pedoman hidup (hudan). Al Quran sebagai mukjizat paling fenomenal karena ia terus hidup melintasi ruang dan waktu meski Rosulullah sebagai pembawan amanahnya telah wafat lebih dari empatbelas abad silam dan seterusnya.

Ketiga, memperingati atau menyimak dengan sungguh-sungguh peristiwa Nuzulul Quran juga dapat memotivasi seseorang untuk mempelajari isi kandungan Al Quran dengan lebih serius. Tidak berhenti sampai pada menderas teks atau membaca terjemahannya. Melainkan juga mempelajari dan membandingkan kitab-kitab tafsirnya yang ditulis oleh para Ulama terdahulu maupun para cendekiawan muslim kontemporer.

Keempat, dengan mentadaburi dan memahami isi kandungan Al Quran akan mendorong seseorang untuk semakin menyelaraskan cara hidup, beraktifitas, dan berinteraksi baik dalam area private maupun sosial dan lingkungan alam dengan kaidah dan pesan-pesan syar’i yang tertuang dalam Al Quran. Baik yang eksplisit dan tidak membutuhkan tafsir, maupun yang implisit dan karenanya memerlukan tafsir para Ulama.

Wallahu’alam Bishowab

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Agus Sutisna

Penulis Indonesiana | Dosen | Pegiat Sosial

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua