x

Iklan

Irfansyah Masrin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 Januari 2020

Rabu, 3 April 2024 05:51 WIB

Hikmah Puasa Ramadhan dalam Mencapai Kedisiplinan di Sekolah.

Implementasi puasa Ramadhan tidak hanya bernilai spiritual, tapi juga kebermaknaannya menyeluruh hampir dalam segala aspek kemanusiaan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bulan Ramadhan adalah bulan pelaksanaan ibadah puasa bagi umat Islam. Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan umat. Implementasi puasa Ramadhan tidak hanya bernilai spiritual, tapi juga kebermaknaannya menyeluruh hampir dalam segala aspek kemanusiaan. Aspek sosial, aspek emosional, aspek kognitif, aspek behavior dan sebagainya.

Tentu aspek-aspek yang dimaksud adalah aspek yang membentuk karakter baik pada diri manusia, menghidupkan potensi positif dan membangun kesadaran naluriah terhadap makna kehidupan yang lebih baik. Semua hal itu tidak akan terbentuk tanpa kesadaran penuh terhadap segala kehidupan yang dijalani, sudah sejauh mana kebaikan yang dilakukan? Sudah seberapa besar ketaatan yang terlaksana? Seberapa banyak keburukan yang dilakukan dan kapan akan dimulai perubahan yang lebih baik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu akan muncul pada tiap-tiap orang yang akan melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadhan. Karenanya ramadhan adalah momentum terbaik bagi kita dalam merubah pola pikir dan pola perilaku menjadi lebih baik. Ramadhan menjadi bulan pendidikan dalam upaya mendidik diri kita menjadi lebih baik di bulan-bulan selanjutnya. Menjadi bulan latihan dalam ikhtiar keras kita melatih diri kita lebih baik dari sebelumnya. Membentuk kebiasaan baik yang lebih baik, membentuk karakter baru yang lebih baik dan sebagainya. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Lalu bagaimana implementasi makna Ramadhan dalam disiplin di sekolah?

Tentu banyak aspek lain yang menjadi pondasi terbentuknya nilai disiplin di sekolah. Hanya saja beberapa hal mendasar yang perlu kita pahami dalam upaya mencapai semua itu dengan memaknai disiplin Ramadhan. 

Pertama, puasa Ramadhan dilaksanakan berdasarkan pada nilai ketaatan kepada Allah. Taat bermakna tunduk dengan segala perintah Allah dan berupaya meninggalkan segala hal yang Allah larang. Artinya ada seperangkat aturan Allah yang mesti kita ikuti dan taati terlepas dari suka atau tidak suka dengan aturan tersebut. Demikian dengan makna kedisiplinan di sekolah adalah sebagai seperangkat aturan yang dibuat dan disepakati untuk ditaati oleh seluruh masyarakat sekolah, baik pendidik maupun peserta didik. 

Yakni menaati dan melaksanakan aturan-aturan positif dan meninggalkan segala hal yang melanggar nilai kedisiplinan di sekolah. Dengan demikian akan tercipta masyarakat sekolah yang tertib dengan segala aturan yang diberlakukan di sekolah. Siswa dan guru yang tepat waktu ke sekolah, tepat waktu masuk kelas, tepat waktu menyelesaikan tugas, tampil lebih rapi dan sopan serta berefek pada satu circle sekolah yang kompak, karena mampu bekerja sama dalam menaati aturan yang sama secara baik.

Kedua, self Control. Puasa Ramadhan melatih tiap-tiap pribadi kita untuk menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa. Menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang bahkan untuk sesuatu yang halal sekali pun. Makan minum itu halal, tapi menjadi haram jika kita makan dan minum pada siang hari di bulan Ramadhan. Karena sudah menjadi aturan Allah yang mau tidak mau, suka atau tidak suka kita harus mentaatinya. Jadi harus dilatih diri kita untuk sabar dalam segala hal, tidak hanya pada persoalan makan minum. Tapi juga pada hal-hal yang dilarang lainnya. menahan diri untuk bicara yang buruk, tidak berkata kotor dan kasar, menahan diri untuk membuli sesama dan sebagainya. Maka dengan demikian makna puasa dapat kita rasakan secara baik dan ibadah puasa tidak menjadi sia-sia.

Begitu pula penerapan nilai disiplin di sekolah tidak terlepas dari upaya kita mengontrol diri. Mengontrol diri untuk tidak melakukan hal-hal yang yang melanggar aturan sekolah. Menahan diri untuk tidak berbuat hal-hal yang buruk di sekolah. Menahan diri untuk tidak membuli sesama teman, baik siswa atau guru. Menahan diri untuk tidak menghina sesama, dan berkata yang kotor. Menahan diri untuk tidak pacaran, tidak membuka aurat, tidak berkelahi dan sebagainya. 

Sebagaimana orang yang berpuasa ramadhan yang di awal puasa mungkin tidak terbiasa menahan diri dari lapar dan dahaga serta dari perbuatan yang buruk. Tapi saat ia memaksakan diri menahan diri demi ketaatan kepada perintah Allah, maka hal tersebut menjadi terbiasa baginya, dan tentu perilaku dan kebiasaan baik bertambah juga padanya. Demikian pula siswa dan guru yang berusaha menahan diri untuk tidak melakukan segala hal yang melanggar aturan sekolah, ia mungkin akan sulit menaatinya dan berjalan waktu akan terbiasa dengan aturan tersebut jika ia komitmen dan konsisten dengan segala aturan sekolah. Pada akhirnya akan terbentuk pribadi yang disiplin dengan di sekolah, baik guru maupun siswa.

Ketiga, puasa Ramadhan menjadikan kita sebagai pribadi yang lebih anggun dan berakhlak mulia. Buah daripada ketaatan kepada Allah adalah terciptanya pribadi yang berakhlak mulia, bertambah baik ibadah di bulan selanjutnya dan bertambah banyak hal-hal baik yang dilakukan. Pun demikian dengan dampak baik dari upaya masyarakat sekolah yang senantiasa taat dan disiplin pada aturan sekolah, ia akan terbentuk menjadi masyarakat sekolah yang lebih baik, lebih dihargai, lebih dihormati dan lebih banyak menciptakan prestasi. 

Ada siswa yang lebih sering tidak disiplin di sekolah, maka saat ia berubah menjadi lebih disiplin, tentu perubahannya akan berefek pada hal-hal baik yang akan didapatkan oleh siswa tersebut. Ia akan lebih banyak dihargai teman, lebih banyak dipuji guru-gurunya, lebih banyak berkesempatan untuk bisa berprestasi dan banyak efek positif lainnya. Begitu juga dengan guru yang disiplin di sekolah akan terbentuk karakter baru yang lebih baik yang berdampak pada guru tersebut menjadi guru teladan, guru insipiratif, guru yang berprestasi dan tentu akan sefrekuensi dengan reward yang didapat oleh guru tersebut, baik reward langsung atau tidak langsung, berupa materi atau penghormatan dan sebagainya. 

Sebagai kesimpulan bahwa implementasi makna puasa ramadhan dalam mencapai kedisiplinan di sekolah terealisasi tidak hanya pada bulan Ramadhan saja. Namun harus terpatri pada diri tiap-tiap pribadi masyarakat sekolah, baik oleh guru maupun siswa. Pada akhirnya semua itu tidak akan tercapai secara baik tanpa menyatukan pikiran yang sama, perasaan yang sama dan ketaatan yang sama terhadap aturan yang berlaku di sekolah.

 

Semoga bermanfaat.

 

Dasana Indah, Blok RE/Castel Afista

Ikuti tulisan menarik Irfansyah Masrin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler