x

Iklan

Antonius Satria Hadi
Bergabung Sejak: 17 Maret 2024

Jumat, 12 April 2024 05:59 WIB

UWM Menjadi Saksi Kembalinya Tradisi Masa Lampau di Ndalem Mangkubumen

Tradisi Hajad Dalem Garebeg Sawal Keraton Yogyakarta kembali digelar pada Kamis (11/04/2024) mulai pukul 09.00 WIB.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tahun ini, terdapat beberapa penyesuaian penting dalam pelaksanaan Garebeg Sawal, salah satunya adalah penambahan satu lokasi untuk pembagian pareden ubarampe gunungan, yaitu Ndalem Mangkubumen yang bertujuan mengembalikan tradisi masa lampau. Kampus 1 Universitas Widya Mataram (UWM) yang berlokasi di dalam lingkungan Ndalem Mangkubumen menjadi saksi kembalinya tradisi masa lampau tersebut.

Hadir dalam acara ini adalah GKR Mangkubumi, GKR Maduretno, dan GKR Hayu yang menerima dan membagikan gunungan di Ndalem Mangkubumen. Kehadiran para putri Sri Sultan Hamengku Buwono X tersebut memberikan nuansa istimewa pada acara tersebut. Tak hanya itu, Rektor UWM Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. dan dosen Prodi Arsitektur UWM yang juga seorang kandidat doktor dari bidang ilmu arsitektur budaya Padmana Grady Prabasmara, S.T., M.Sc. juga turut hadir untuk menyaksikan acara tersebut

Sebanyak 50 pareden gunungan di Ndalem Mangkubumen diterima secara langsung oleh putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Mangkubumi. Adapun prosesi pembagian pareden di Ndalem Mangkubumen tersebut tidak dibuka untuk umum. “Pareden gunungan yang dibagikan di sini (Ndalem Mangkubumen) merupakan bagian dari enam gunungan yang dibawa di Masjid Gedhe. Dan sudah didoakan terlebih dulu oleh Abdi Dalem Pengulon,” ucap GKR Mangkubumi

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Garebeg Sawal merupakan perwujudan rasa syukur akan datangnya Idul Fitri. Makna dan simbolisasi dalam upacara gunungan pun menjadi sorotan. Ndalem Mangkubumen, yang kini berfungsi sebagai Kampus 1 UWM, tetap mampu memelihara fungsinya sebagai simbol kebudayaan. “Tradisi harus terus berlanjut dan UWM adalah bagian integral dari Keraton Yogyakarta yang memelihara tradisi kultural”, ucap Prof. Edy yang juga mantan Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) ini.

Grady menambahkan bahwa Ndalem Mangkubumen memiliki nilai tinggi, baik dari segi sejarah maupun fisiknya yang menyerupai keraton. Nilai-nilai fisik bangunan Ndalem Mangkubumen tetap memiliki makna yang kuat, meskipun sekarang berfungsi sebagai bangunan pendidikan. “Dengan adanya acara gunungan ini, Ndalem Mangkubumen sekali lagi menegaskan perannya sebagai museum hidup kebudayaan”, ujar Grady.

Ikuti tulisan menarik lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler