x

Iklan

Agus Sutisna

Penulis Indonesiana | Dosen | Pegiat Sosial
Bergabung Sejak: 6 September 2023

Jumat, 12 April 2024 19:41 WIB

Hakikat Idul Fitri dan Fungsi Sosialnya

Bagi umat Islam, Idul Fitri merupakan momentum kebahagiaan. Bahagia karena dua hal sebagaimana hadits Nabi SAW: “Orang yang berpuasa akan meraih dua kebahagiaan, yakni kegembiaran ketika berbuka puasa (berhari raya) dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya.” (HR Muslim).

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Suasana Idul Fitri masih terasa hingga hari ini dan nampaknya masih akan berlanjut dalam beberapa hari kedepan. Terutama aura kebahagiaan umat Islam yang tercermin dalam berbagai bentuk ekspresi. Mulai dari semangat berbagi, ghiroh silaturahmi dan saling mengunjungi sambil bernostalgia dengan keluarga, kerabat dan sahabat, serta tentu saja saling memaafkan. Masif dan terasa dimana-mana.

Bagi umat Islam, Idul Fitri memang merupakan momentum kebahagiaan. Bahagia karena dua hal sebagaimana hadits Nabi SAW: “Orang yang berpuasa akan meraih dua kebahagiaan, yakni kegembiaran ketika berbuka puasa (berhari raya) dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya.” (HR Muslim).

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kembali Berbuka dan Kembali Suci

Istilah Idul Fitri memiliki dua makna yang berbeda. Pertama, “kembali berbuka puasa” (kembali makan minum) berdasarkan kata “Id” dari akar kata “aada-yauudu” yang artinya kembali. Dan “Fithri” dari akar kata “ifthar, afthario-yufthiru” yang artinya berbuka puasa.

Secara syar’’i makna itu didasarkan antara lain pada hadits tersebut diatas dan hadits lain yang diriwayatkan Anas bin Malik, “Tidak sekali pun Nabi Muhammad SAW pergi (untuk shalat) pada Hari Raya Idul Fithri tanpa makan beberapa kurma sebelumnya.”

Ringkasnya, Idul Fitri adalah Hari Raya dimana umat Islam kembali berbuka (makan dan minum) sebagaimana sebelum datang Ramadhan. Dan pada hari itu yang jatuh pada tanggal 1 Syawal puasa bahkan diharamkan.

Kedua, “kembali pada fitrah”. Fitrah disini berasal dari akar kata “fathoro-yafthiru” yang artinya suci, bersih dari dosa dan keburukan. Secara syar’i makna ini didasarkan antara lain pada hadits Nabi SAW, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq’alayh).

Dengan demikian, dalam konteks teologis ini Idul Fitri berarti kembali pada keadaan suci (fitrah), atau bebas dari segala dosa karena mendapatkan pengampunan Allah SWT setelah proses “penyucian” melalui ibadah puasa dan berbagai bentuk amalan-amalan lainnya di sepanjang Ramadhan. 

Kedua makna tersebut terkoneksi dengan tujuan teologis ibadah puasa yakni untuk meraih derajat Taqwa sebagaimana firman Allah dalam Al Quran surat Al Baqoroh ayat 183: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

 

Fungsi Sosial
Selain makna teologis sebagaimana dijelaskan tadi, sebagai momentum perayaan, yakni  merayakan kebahagiaan dan rasa syukur telah berhasil menunaikan kewajiban berpuasa (menahan diri dari lapar, haus dan hasrat biologis serta berbagai nafsu buruk) selama Ramadhan, Idul Fitri sejatinya juga memiliki fungsi-fungsi sosial yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Bukan saja dalam ruanglingkup umat Islam, melainkan juga dalam skala yang lebih luas, yakni ruanglingkup kehidupan berbangsa dan berkemanusiaan.

Pertama, bahwa capaian kembali pada fitrah (suci) sebagai salah satu makna Idul Fitri yang diperoleh umat Islam mestinya akan tercermin secara masif dalam perilaku setiap individu muslim dan dalam interaksi kehidupan sosial-masyarakat. Mulai dari sikap sabar dan ikhlas, peduli dan empati pada sesama, hingga toleran dan moderat dalam cara menjalankan agama.

Kedua, secara khusus selama Ramadhan umat Islam disyariatkan untuk melaksanakan amalan-amalan yang dimensi sosialnya sangat kental, yakni zakat, sedekah dan ibadah-ibadah berjamaah baik dalam sholat fardlu maupun sholat tarawih.

Pada momen Idul Fitri substansi amalan-amalan berdimensi sosial itu juga diekspresikan dalam bentuk saling membantu minimal keluarga, kerabat atau tetangga yang kurang beruntung secara ekonomi. Sehingga Idul Fitri sebagai momen kebahagiaan sebagaimana hadits diatas tadi benar-benar dapat diwujudkan dan dirasakan bersama-sama oleh seluruh umat Islam. 

Ketiga, sebagaimana lazimnya tradisi dalam masyarakat selama ini, Idul Fitri juga menjadi momen untuk menghidupkan serta menjaga bangunan silaturahmi (termasuk silatul-ukhuwah di dalamnya) didalam masyarakat. Silaturahmi ini penting bahkan termasuk syariat sebagaimana hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim.”

Keempat, Idul Fitri juga menjadi momen untuk saling memaafkan atas berbagai salah dan khilaf baik di kalangan kaum muslimin sendiri maupun dengan sesama komponen bangsa.

Sebagaimana keharusan silaturahmi, saling memaafkan juga termasuk yang disyariatkan dalam Islam sebagaimana antara lain hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, At Tirmidzi, dan Ibnu Majah, “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan (saling memaafkan) melainkan keduanya akan diampuni (dosanya) sebelum mereka berpisah.”

Akhirnya, Taqabbalallaahu minnaa wa minkum, taqabbal yaa kariim. Wa ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidin wal faaiziin wal maqbuulin” Semoga Allah menerima (amal ibadah Ramadlan) kami dan kamu, terimalah ya Allah. Dan semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang serta diterima (amal ibadah).”

Ikuti tulisan menarik Agus Sutisna lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler