x

Jihn Lie

Iklan

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 19 April 2024 15:20 WIB

John Lie - Pahlawan Nasional Dari Etnis Tionghoa

Buku ini membahas proses pengangkatan John Lie sebagai Pahlawan Nasional dari Etnis Tionghoa.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Judul: John Lie Pahlawan Nasional

Penulis: Eddie Kusuma

Tahun Terbit: 2010

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Penerbit: Lembaga Pengkajian SAKTI

Tebal: xxxiv + 233

ISBN: 978-979-17532-3-4

 

Buku ini mengurai dengan sangat rinci proses pengajuan John Lie sebagai Pahlawan Nasional. Pengusulan John Lie sebagai Pahlawan Nasional dalam buku ini adalah dokumentasi dari upaya Lembaga Pengkajian (LPK) Indonesia Bersatu. LPK Indonesia Bersatu didirikan khusus untuk mengusulkan John Lie sebagai Pahlawan Nasional.

Kita semua tahu bahwa John Lie adalah Pahlawan Nasional pertama daeri etnis Tionghoa. Buku ini membahas lika-liku proses pengusulan John Lie sebagai Pahlawan Nasional, mulai dari ide sampai dengan keluarnya SK. Buku ini juga membuat sedikit informasi tentang siapa John Lie dan kontribusinya bagi Negara Republik Indonesia. Tentu saja informasi tersebut sangat sedikit, karena buku ini bukanlah buku biografi John Lie.

Setelah menyajikan informasi tentang tata cara pengusulan Pahlawan Nasional, Eddie Kusuma memuat berbagai rekomendasi kepada Pemerintah, melalui Kementerian Sosial untukmengangkat John Lie sebagai Pahlawan Nasional. Rekomendasi tersebut diantaranya dari Gubernur Sulawesi Utara, sebagai tempat asal John Lie, Gubernur DKI Jakarta karena John Lie banyak berkiprah di Jakarta, Gubernur Sumtara Utara yang menyampaikan perjuangan John Lie di wilayah Sumatra Utara, dari Angkatan Laut sebagai organisasi dimana John Lie bernaung dan dari Kerukunan Keluarga Kawanua karena John Lie memiliki darah Kawanua dari nenek buyutnya. Masih banyak rekomendasi dari berbagai pihk yang dimuat di bagian lampiran buku ini. Rekomendasi-rekomendasi dari berbagai pihak yang secara langsung mendapat manfaat dari perjuangan John Lie adalah sangat penting bagi Kementerian Sosial untuk memproses penetapan John Lie sebagai Pahlawan nasional.

Jahja Daniel Dharma (John Lie) dikenal sebagai seorang anggota Angkatan Laut yang gigih membela Indonesia pada masa Aksi Militer Belanda II tahun 1948. John Lie yang dikenal sebagai “The Great Smuggler with The Bible” adalah salah satu perwira yang ikut membentuk Angkatan Laut Daerah Aceh. Tujuan dari pembentukan Angkatan Laut Daerah Aceh adalah untuk menembus blokade Belanda terhadap wilayah RI.

Buku ini membuat kesaksian Laksamana Soedomo yang langsung bekerja bersama John Lie. Saat itu, John Lie masih sebagai nahkoda kapal PBB 58 LB yang mendapat tugas untuk menjual karet dari Tamiang – Aceh ke pasar Singapuran, Malaysia dan Thalinad. Pulangnya, John Lie menyelundupkan senjata yang dipakai oleh para pejuang Kemerdekaan. Karena kemampuannya lolos dari cegatan patrol Belanda itulah maka John Lie mendapatkan julukan sebagai Penyelundup yang Selalu bersama Alkitab. Selain berjasa di masa Aksi Militer, John Lie juga berjasa dalam penumpasan pemberontakan PRRI/Permesta pada tahun 1958.

Informasi tentang asal-usul John Lie, perjuangannya dan sedikit informasi tentang keluarganya menjadi salah satu bagian yang sangat penting dalam pengusulan John Lie sebagai Pahlawan nasional.

Ditetapkannya John Lie sebagai Pahlawan Nasional berkontribusi dalam perjuangan menghapus tigma negatif tentang orang Tionghoa. Ide pengusulan bermula dari kerisauan Asvi Warman Adam, seorang cendekiawan yang melihat tidak adanya wakil orang Tionghoa sebagai Pahlawan Nasional. Asvi sejak tahun 2002 sangat aktif memperjuangkan diangkatnya etnis Tionghoa sebagai Pahlawan nasional. Sebab banyak penelitian membuktikan bahwa etnis Tionghoa telah secara aktif berjuang bagi Kemerdekaan Indonesia bahkan sejak masa sebelum Indonesia Merdeka.

Selama Orde Baru, posisi orang Tionghoa dalam politik dan budaya telah dikesampingkan. Ada upaya-upaya sistematis untuk membangun pendapat bahwa orang Tionghoa itu tidak berjiwa nasionalis. Mereka hanya datang ke Indonesia untuk berdagang. Proses-proses penyingkiran orang Tionghoa dari sejarah Nasional ini telah berjalan secara masif. Dari sisi budaya, pelarangan penyelenggaraan budaya Tionghoa di ranah publik juga dilakukan. Bahkan Negara secara terang-terangan membuat program asimilasi yang memaksakan penghilangan identitas Tionghoa, seperti kebijakan ganti nama dan dorongan kuat untuk orang Tionghoa melakukan asimilasi melalui peleburan etnik.

Upaya-upaya seperti di atas ternyata gagal. Sedangkan cara yang lebih menonjolkan integrasi, yaitu upaya yang mengakui perbedaan etnis dan budaya justru membuat semua pihak mendapatkan tempat dalam berbangsa. Upaya untuk mengangkat John Lie sebagai seorang pahlawan Nasional dari etnis Tionghoa telah memberi pengakuan bahwa orang Tioghoa adalah bagian tak terpisahkan dari Bangsa Indonesia. Orang Tionghoa juga telah terbukti berperan besar dalam mewujudkan dan mempertahankan Kemerdekaan Bangsan Indonesia. 829

Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini