x

Iklan

Ahmat Zulfikarnain Lubis

Penulis Indonesia | Mengemban Amanah Sejarah dan Beradaban
Bergabung Sejak: 25 Januari 2024

Sabtu, 20 April 2024 11:41 WIB

Efek Ritual Guru Pidugo Tengger di Candi Brahu Bejijong Bikin Merinding

Tiga tari sakral dari Tengger Iringi Ritual Guru Pidugo di Candi Brahu, Kabupaten Mojokerto

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ritual Guru Pidugo di Candi Brahu Bejijong Trowulan Mojokerto telah usai dilaksanakn pada Kamis, 28 April 2024. Ritual ini merupakan ikhtiar memohon maaf kepada leluhur atas kesalahan putro wayah yang masih hidup ini karena tidak bisa menjaga kehidupan yang baik.

Rombongan barisan pembawa sesaji yang diiringi gamelan khas suku Tengger berjalan dari kediaman Romo Eko yang tidak jauh dari lokasi Candi Brahu dan Candi Genthong. Acara yang dimulai pukul 21.00 hingga 01.00 wib itu berjalan hening, sakral dan sukses. Puja mantra yang dilantunkan dipimpin Romo Pandito Dukun Tengger Sukarji itu benar benar membuat suasana Candi Brahu berbeda dari biasanya.

Ritual Guru Pidugo malam itu dihadiri beberapa warga padepokan dari sekitar Kabupaten Mojokerto, Sidoarjo, Gresik,Lamongan, Kediri, Lombok dan Pasuruhan. Acara yang diprakarsai Nyoman Ardiana dan Made Dewi Kartini dari Lombok Mataram itu, intinya adalah berdoa untuk kejayaan Nusantara.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Acara dihadiri bukan dari kalangan umat Hindu saja, namun juga umat agama lain, Islam Kristen, Penghayat, fan Budha. Sebagai penutup dilaksanakan doa lintas agama. Para tokoh antara lain, dari Kristen ada Romo Eko, dari Islam Gus Irul, dari Kejawen Romo Joyo, dari Penghayat Romo Bentowah Eddy dan dari Hindu oleh Romo Putu.

Pada malam itu juga disajikan tiga tarian sakral, yakni Tari Gambyong yang merupakan tarian selamat datang untuk tamu agung. Lalu ada tari Tumuruning Wahyu Langit yang ditarikan gadis kecil masih suci. Terakhir ada Tari Bedaya Majasakti Majapahit yang bermaka membangunkan para kasatria untuk bangkit berjuang demi kejayaan kembali Ibu Pertiwi. Tarian ini dipersembahkan Sanggar Tari Tetenger asuhan Romo Sukarji dari Mororejo Tengger dan dikhususkan untuk kegiatan ritual yang sakral.

Menurut Romo Pandito Dukun Tengger Sukarji, ritual Guru Pidugo adalah bentuk sungkem bhekti dan pengakuan bersalah pada leluhur karena tidak bisa menjaga warisan peradaban leluhur yaitu perilaku budi pekerti dan peninggalannya. Sekaligus ritual malam ini, untuk memohon agar kejayaan Nusantara kembali menjadi Suar Dunia. Doa kami kagem leluhur sejak jaman Medhang Kamulan sampai Majapahit.

Adat, tradisi dan seni budaya tidak bisa lepas dari nafas kehidupan bangsa Nusantara sejak dahulu kala. Dan keindahan karena keragamannya inilah yang dikagumi Dunia. Salam Budaya Nusantara.

 

Ikuti tulisan menarik Ahmat Zulfikarnain Lubis lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler