x

Kolase foto Tempo.com

Iklan

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Kamis, 9 Mei 2024 17:19 WIB

Fotosintesis

Panorama cerpen, imaji mengurai sel-sel otak agar tetap sehat walafiat. Tak ada pembaca tak ada seni susastra. Jelajah imajinasi.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

DONGENG LANGIT.
Sentir layar terkembang cahaya pembuka.
Musik: Metal symphony adegan berkisah.

Siapa akan bertanya tentang hutan. Takut. Enggak berani. Khawatir di tenung pasal-pasal abstraksi alegoris, ada tiada di antara puncak kontemporer adikuasa ngintip jantung hati dari satelit.

"Pertumbuhan hutan tak perlu dirisaukan, bertumbuh dimanapun jika kebijaksanaan tunggal Sang Pencipta menghedaki tumbuh cepat." 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

"Reboisasi apa kabar?"

Reboisasi, pemahaman tentang itu tak sekadar menanam lantas selesai. Wahai dikau tak sekadar pula berpayung fantasi. Ada kisah kebersamaan di dalamnya; pelihara aku sirami aku rawat aku, cukupkan segala sesuatu milikku. Jangan kau kurangi. Jangan pula kau libas hakku. Lantas kau melenggang triliun kawan.

Reboisasi, kolaborasi tetumbuhan serentak sinar matahari menyala fotosintesis hijau pohon berdendang klorofil di daun-daun riang gembira menyambut embun pagi. Menyenangkan kupu-kupu terbang sana sini bersama para capung. Lebah madu bernyanyi di kuncup warna-warni bebungaan kreasi alami fitrah Ilahi.  

Malam bertambah dini hari. Siang pun bergulir menuju petang lantas siklus mengolah waktu. Habitat organisme bertumbuh. Panorama meluaskan cahaya matahari spesies mewarnai diri menghidupkan flora fauna. Belalang berlompatan kian kemari serangga berbaris menyiapkan bunyi-bunyian bagi lingkungan tetumbuhan hutan.

Rangkaian pepohonan menjulang angkasa, ada kabut sunyi di antaranya. Klorofil berembun, tanah tradisi menguapkan semerbak dedaunan kering lembab membasah, di hutan-hutan gemerlap pencahayaan di antara sela-sela reranting dedaunan gemeresik melantunkan suluk hijau bagi kehidupan kemanusiaan.

Ada aum harimau di sana, mencicit anak burung di sarangnya, ada tarantula membangun jejaring estetis menangkap sumber makanan untuk hidupnya, ada suara-suara elang menyalak galak. Lolong serigala gurindam dalam pantun kasmaran memanggil lawan jenisnya. Ringkik kuda liar di antara lenguh anak-anak lembu.

Berbeda dengan tuyul koruptor.; Serigala menanti saat tertepat menyelinap ke laci-laci sejumlah dana reboisasi, bergembira menari-nari di atas derita ekosistem. Tak penting pohon bagi si tuyul korup. Matilah hutan bodok amat. Regenerasi hijau tak penting bagi watak maling macam itu sekalipun si tuyul menerima hidup dari ekosistem.

Tampaknya derita reboisasi belum terlihat jelas ujung akhir kesembuhannya. Ibarat garis horizon tanpa fajar menyingsing akibat badai di balik awan pekat. Senja pun enggan tampil indah. Apabila kecepatan kedip diagfragma antikorupsi bagai mimpi siang bolong, tertinggal oleh kecepatan tuyul koruptor di ranah patgulipat aduhai selalu. 

Ahai! Gigit jari deh. Sembari nonton berita korupsi mengangkasa dari triliun ke triliun, menyaksikan pemandangan senyum bernas kaum tuyul koruptor melambai kenes bergincu genit sok seksi bertopeng para kroninya. Sekalipun ancaman pidana menyergap si tuyul, lewat pasal-pasal antikorupsi plus nilai penyitaannya.

Tuyul koruptor selalu jadi pemenang dalam etape estafet sihir menyihir, tak terduga tak dinyana tak terdeteksi pula oleh satelit penyadap mata hati. Si tuyul piawai meliuk-liuk menari di malam jahanam-menanam saham di neraka koleksi di hari akhir semesta kelak-si tuyul koruptor, kombinasi culas, si pandir berbulu serigala.

Apa artinya berkebangsaan bagi koruptor? Adakah terlintas olehnya? Tentu piawai di sektor status sosialnya, kalau tak pintar enggak bakalan mampu membalak taktis nilai triliun strategis-lantas meroket kocek gaya hidup manipulasinya. Punya malu enggak ya pada publik? Stagnan, barangkali pertanyaan dari dunia kenaifan.

Makhluk kehidupan 
hutan bernapas.

Merangkai cinta, di antara 
cuaca peperangan, sekalipun 
dalam damai.

Hipokrisi sembunyi
di balik kata semanis madu.

***

Jakarta Indonesiana, Mei 09, 2024.
Salam NKRI Pancasila. Banyak kebaikan setiap hari.

Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini