x

Sumber gambar: Yoursay-Suara.com

Iklan

Suko Waspodo

... an ordinary man ...
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 28 Mei 2024 16:45 WIB

Memutus Siklus: Memahami dan Mengatasi Sabotase Diri dalam Hubungan

Sabotase hubungan dapat digambarkan sebagai menciptakan rintangan yang tidak perlu dalam hubungan romantis, yang hanya ada dalam pikiran seseorang.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kehidupan cinta Anda yang tidak bersemangat mungkin karena kesalahan Anda.

Wawasan Utama

  • Sabotase diri melibatkan penciptaan hambatan yang tidak perlu dalam hubungan romantis Anda.
  • Gaya keterikatan yang tidak aman sering kali dikaitkan dengan perilaku menyabotase diri sendiri.
  • Pola sabotase diri cenderung terulang di berbagai hubungan.

Patah hati sering kali membuat kita menyalahkan segala arah kecuali diri kita sendiri. Namun, studi mendalam yang dilakukan oleh peneliti Raquel Peel dan Nerina Caltabiano pada tahun 2021 menyelidiki fenomena sabotase hubungan, memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang perilaku destruktif ini.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Apa itu Sabotase Diri dalam Hubungan?

Sabotase hubungan dapat digambarkan sebagai menciptakan rintangan yang tidak perlu dalam hubungan romantis, yang hanya ada dalam pikiran seseorang. Perilaku ini sering kali diwujudkan melalui kriteria calon pasangan yang tidak realistis, seperti atribut fisik tertentu atau status keuangan. Misalnya, beberapa orang mungkin menolak untuk berkencan dengan siapa pun yang tidak memenuhi persyaratan ketat ini, sehingga membatasi calon pasangan mereka. Pembatasan yang dibuat sendiri ini juga dapat menyebabkan berakhirnya hubungan bahagia secara prematur.

Penting untuk membedakan antara memiliki preferensi dan membiarkan preferensi ini menggagalkan hubungan yang memuaskan. Jika kegigihan Anda pada sifat-sifat tertentu berujung pada kehancuran hubungan yang tadinya memuaskan, Anda mungkin menyabotase kebahagiaan Anda sendiri.

Wawasan Penelitian

Penelitian Peel dan Caltabiano, yang melibatkan 1.365 peserta berbahasa Inggris dari berbagai latar belakang, mengarah pada pengembangan Relationship Self-Sabotage Scale (RSS). Skala 12 pertanyaan ini mengevaluasi sabotase diri melalui tiga faktor: sikap defensif, kesulitan mempercayai orang lain, dan keterampilan interpersonal yang buruk.

Perspektif Terapis

Dari sudut pandang terapeutik, sabotase diri sering kali berasal dari keinginan untuk melindungi diri dari potensi rasa sakit, kekecewaan, atau terulangnya kegagalan hubungan di masa lalu. Individu dengan gaya keterikatan yang tidak aman sangat rentan terhadap perilaku ini. Mereka mungkin menunjukkan rasa melekat yang berlebihan karena takut ditinggalkan atau menarik diri untuk menghindari rasa sakit yang diantisipasi.

Mengidentifikasi Sabotase Diri dalam Hubungan

Perilaku sabotase diri meliputi:

  • Kritik terus-menerus
  • Komunikasi yang buruk
  • Kelekatan
  • Pertahanan
  • Penarikan
  • Mengendalikan kecenderungan
  • Penolakan untuk mengakui kesalahan
  • Masalah kepercayaan

Pola dan Kesadaran Diri

Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa individu yang melakukan sabotase diri dalam suatu hubungan cenderung mengulangi perilaku ini dalam hubungan berikutnya. Orang-orang ini sering kali menunjukkan sikap defensif, masalah kepercayaan, dan keterampilan hubungan yang buruk. Meskipun terdapat tingkat kesadaran diri di antara mereka yang disurvei, terulangnya sabotase diri menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan mereka untuk mengubah pola-pola destruktif ini.

Skala Sabotase Diri dalam Hubungan

RSS mencakup pertanyaan ya atau tidak seperti:

  • "Saya terus-menerus merasa dikritik oleh pasangan saya."
  • “Saya percaya bahwa untuk menjaga keamanan pasangan saya, saya perlu mengetahui di mana pasangan saya berada.”
  • "Saya akan mengakui kepada pasangan saya jika saya tahu saya salah tentang sesuatu."

Pertanyaan-pertanyaan ini membantu mengidentifikasi adanya sikap defensif, kesulitan mempercayai, dan keterampilan hubungan yang buruk.

Kesimpulan

Semua hubungan memerlukan usaha, kompromi, dan penggabungan dua kehidupan menjadi pengalaman bersama. Jika Anda terus-menerus merasa seperti penjahat dalam hubungan Anda, mungkin inilah saatnya untuk mempertimbangkan apakah ada sabotase diri bawah sadar yang berperan. Merefleksikan hubungan masa lalu Anda dan mengenali pola sabotase diri dapat menjadi langkah pertama menuju hubungan romantis yang lebih sehat dan memuaskan.

***

Solo, Selasa, 28 Mei 2024. 1:28 pm

Suko Waspodo

 

Ikuti tulisan menarik Suko Waspodo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler