x

Ilustrasi kejahatan di dunia maya. Imaji oleh S. Hermann \x26amp; F. Richter di Pixabay

Iklan

Ariadne Khatarina Moniaga

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 September 2022

Selasa, 11 Juni 2024 05:55 WIB

Maraknya Cyber Crime di X (Twitter)

Kasus penipuan yang dialami oleh mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) di platform X dengan akun @rsmgti_ merupakan satu dari sekian banyak kasus cyber crime yang terjadi di Indonesia. Lalu, apa penyebabnya?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Cyber crime atau kejahatan siber adalah tindak kejahatan yang memanfaatkan teknologi dan sering terjadi di dunia maya. Melansir dari pusiknas.polri.go.id, sepanjang 1 Januari hingga 22 Desember 2022, Polri telah menindak 8.831 kasus cyber crime.

Bentuk cyber crime pun bermacam-macam. Belakangan ini, saya sering menemukan salah satu bentuk cyber crime di X (Twitter), yaitu penipuan. Kasus penipuan terakhir yang saya baca dialami oleh mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes).

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Jadi, mahasiswa dengan akun @rsmgti_ hendak mencari kost baru. Awalnya, ia mencari informasi mengenai kost baru tersebut di komunitas Facebook. Ia percaya dengan postingan kost tersebut karena sang pengunggah mencantumkan foto dan nomor WA. Akhirnya, mahasiswa ini pun menghubungi nomor tersebut untuk mendapat informasi lebih lanjut.

Sang penipu membalas dengan cepat dan sempat mengira kalau mahasiswa ini adalah teman dari calon penghuni kost yang lain. Mahasiswa ini pun mengatakan bahwa ia bukan teman dari siapapun dan sedang ingin mencari kost baru. Kemudian, sang penipu memberikan video yang menampilkan fasilitas di dalam kamar kost beserta lokasinya dengan link Google Maps. Kamar yang ditampilkan dalam video merupakan kamar terakhir. 

Melihat respon penipu yang seperti pemilik kost sungguhan, mahasiswa ini pun percaya dan langsung menanyakan harga. Sang penipu memberitahu bahwa harga sewa kostnya adalah Rp700 ribu. Mahasiswa ini pun mulai panik setelah sang penipu mengirim tangkapan layar dari beberapa orang yang juga menanyakan kost tersebut. Akhirnya, sang mahasiswa menyutujui untuk memberikan uang DP sebesar Rp 1 juta dari total Rp 3,9 juta. Sebelum sepakat untuk membayar DP, sang penipu mengatakan bahwa mahasiswa ini bisa melakukan survei di tanggal 3 Juni, setelah membayar uang DP.

Setelah membayar, mahasiswa ini sempat mencoba untuk membuat janji temu, namun sang penipu beralasan ia sedang di luar kota dan baru bisa bertemu besok. Keesokan harinya, mahasiswa ini kembali menghubungi penipu tersebut. Namun, ia kembali beralasan tidak bisa ditemui karena sedang sibuk dan lain sebagainya. Mahasiswa ini terus menghubungi sampai ditanggal 1 Juni. Tetapi, pada tanggal 1 Juni, sang penipu sudah tidak bisa dihubungi.

Akhirnya, mahasiswa ini mengecek nomor penipu tersebut ke aplikasi GetContact. Dari aplikasi itulah, mahasiswa tersebut mengetahui kalau ia tertipu dan sudah banyak yang ditipu. Ia pun berencana untuk melaporkan kejadian ini ke pPolres. Mahasiswa ini juga menyebarkan info mengenai penipu tersebut di X (Twitter) agar korban tidak terus bertambah.

Dari kasus tersebut, saya menganalisis penyebabnya terletak pada dua hal, yaitu:

1. Anonimitas di Dunia Maya

Di Indonesia, seseorang dapat memiliki lebih dari satu akun media sosial dengan nama apa saja. Dalam kasus penipuan ini, menurut informasi dari GetContact, sang penipu memang berulang kali mengunggah info mengenai kost palsu tersebut dengan akun Facebook yang berbeda. Saat ketahuan, sang penipu langsung menghapus postingan lama dan akun lama, lalu membuat akun baru dan mengunggahnya kembali. Hal inilah yang membuat orang dapat dengan mudah melakukan penipuan dan sulit untuk dilacak oleh pihak berwajib. Selain itu, mereka dapat terus menjerat korban tanpa membuat mereka merasa tertipu karena akun yang digunakan berbeda-beda.

 

2. Kurangnya Literasi Digital

Era digitalisasi memang memberikan kemudahan, namun di sisi lain ada bahaya yang mengancam. Banyaknya kasus penipuan seharusnya menjadi alarm bagi kita semua untuk meningkatkan literasi digital. Literasi digital penting untuk dipelajari karena dapat meningkatkan kewaspadaan kita terhadap segala tindak kejahatan. Menurut saya, sebelum menghubungi orang yang tidak dikenal, sebaiknya kita mengecek nomornya terlebih dahulu di aplikasi GetContact. Lalu, kita juga bisa melakukan stalking atau mengecek akun yang bersangkutan untuk setidaknya mengetahui gambaran orang yang akan kita hubungi.

 

Kejahatan siber memang hadir dalam berbagai bentuk. Namun, upaya untuk melawannya juga beragam. Upaya tersebut harus berangkat dari setiap individu yang terlebih dahulu dibekali dengan literasi digital yang matang. Dengan literasi digital, kita dapat menyaring dan memilah setiap informasi yang beredar di gawai kita. Selain itu, literasi digital akan membantu meningkatkan kewaspadaan kita.

*) Artikel ini merupakan tugas dari mata kuliah Komunikasi Digital yang diampu oleh Rachma Tri Widuri, S.Sos., M.Si. di Politeknik Tempo.

Referensi:

1. https://twitter.com/rsmgti_/status/1797231911489913153?t=ia1AyrKl3JzvORLz3-Ux0A&s=19 (Thread Kasus)

Ikuti tulisan menarik Ariadne Khatarina Moniaga lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler