Industri Tekstil Indonesia dalam Krisis: Tantangan dan Solusi yang Diperlukan

Sabtu, 6 Juli 2024 11:40 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Banyak pabrik tekstil terpaksa melakukan efisiensi, termasuk PHK bagi para pekerja. Sekitar 13.800 buruh tekstil telah terkena PHK sejak Januari hingga Juni 2024. Angka ini mencerminkan dampak serius dari penurunan industri ini terhadap tenaga kerja.

The textile industry is grappling with unprecedented challenges. From navigating complex supply chains amid geopolitical tensions to meeting the rising demand for eco-friendly materials, companies must innovate rapidly to stay competitive. The pressure to cut costs while maintaining quality and sustainability is a constant struggle. ( The Business of Fashion and McKinsey & Company, "The State of Fashion 2021," 2021)

Sama seperti ungkapan di atas, industri tekstil Indonesia saat ini juga sedang menghadapi masa sulit yang berlarut-larut. Sebagaimana pemberitaan kompas.com pada (13/06/2024), Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) mengungkapkan bahwa kinerja penjualan di sektor ini terus mengalami kemerosotan dalam beberapa bulan terakhir, sebab tingkat pesanan yang masuk ke sejumlah pabrik tekstil di Indonesia terus menurun.

Akibat dari kondisi ini, banyak pabrik tekstil terpaksa melakukan efisiensi, termasuk Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bagi para pekerja. Berdasarkan data yang dihimpun KSPN, sekitar 13.800 buruh tekstil telah terkena PHK dari Januari 2024 hingga awal Juni 2024. Angka ini mencerminkan dampak serius dari penurunan industri ini terhadap tenaga kerja.

Akar Persoalan

Krisis yang dihadapi oleh industri tekstil Indonesia menggambarkan betapa pentingnya memahami konsep keunggulan bersaing dari Michael Porter. Sebagaimana yang diungkapkan KSPN, salah satu penyebab utama krisis ini adalah persaingan yang sengit dari produk tekstil impor, terutama dari China, yang masuk ke pasar Indonesia dengan harga yang sangat kompetitif. Fenomena ini mencerminkan strategi keunggulan biaya yang diimplementasikan oleh produsen tekstil China, yang mampu memanfaatkan skala produksi besar dan biaya tenaga kerja yang rendah untuk menawarkan harga jual yang lebih murah.

Konsep keunggulan biaya dari Porter menjelaskan bahwa untuk bersaing efektif dalam pasar global, perusahaan perlu fokus pada efisiensi operasional dan pengendalian biaya. Namun, dalam konteks industri tekstil Indonesia, masalahnya tidak hanya terbatas pada persaingan harga. Kurangnya pengembangan hulu bahan baku seperti kapas dan sutra oleh pemerintah Indonesia telah meningkatkan ketergantungan pada impor, yang secara signifikan meningkatkan biaya produksi.

Dengan biaya produksi yang tinggi, harga jual produk tekstil Indonesia menjadi mahal dan tidak kompetitif di pasar internasional. Ini menggambarkan tantangan diferensiasi, dimana produk lokal sulit untuk bersaing dalam hal harga dan nilai tambah dengan produk impor yang lebih murah.

Tingginya biaya buruh juga menjadi faktor penting dalam dinamika ini. Meskipun buruh memiliki tuntutan yang wajar terkait dengan upah yang mencerminkan kesejahteraan mereka, kondisi keuangan perusahaan yang merosot membuat penyesuaian tersebut menjadi sulit. Ini memperburuk tekanan ekonomi bagi perusahaan tekstil yang berusaha untuk tetap bertahan dalam kondisi pasar yang sulit.

Persoalan lain yang dihadapi perusahaan juga berasal dari peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sesuai dengan UU No. 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial dan UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang memudahkan buruh untuk mempailitkan perusahaan yang tidak mampu membayar gaji melalui pengadilan hubungan industrial juga menjadi salah satu kendala besar.

Kebijakan ini sering kali berujung pada penyitaan aset perusahaan, termasuk teknologi pendukung produksi khusus yang dimiliki oleh perusahaan untuk mendukung produksinya. Bagi setiap perusahaan, teknologi ini merupakan aset berharga yang sulit didapatkan kembali dan sangat penting bagi keberlanjutan dan perkembangan industri tekstil di Indonesia. Kondisi ini semakin memperburuk situasi karena aset-aset berharga tersebut hilang dan sulit untuk digantikan.

Mengatasi Krisis Secara Berkelanjutan

Untuk mengatasi krisis ini secara berkelanjutan, pemerintah Indonesia harus memprioritaskan beberapa langkah strategis.

Pertama, pengembangan bahan baku lokal seperti kapas dan bahan tekstil lainnya harus dipercepat dan didukung dengan kebijakan insentif yang jelas. Sesuai dengan konsep keunggulan bersaing Porter yang menyarankan perusahaan untuk tidak hanya fokus pada pengendalian biaya, tetapi juga mencari cara untuk diferensiasi produk mereka. Dengan inovasi dalam desain, kualitas, atau layanan tambahan, perusahaan tekstil Indonesia dapat menciptakan nilai tambah yang dibutuhkan untuk menarik pasar lokal dan internasional.

Pemerintah juga memiliki peran penting dalam mengembangkan kebijakan yang mendukung pengembangan bahan baku lokal dan memfasilitasi akses ke teknologi yang meningkatkan efisiensi produksi. Perlindungan terhadap aset teknologi khusus juga penting untuk memastikan bahwa perusahaan dapat tetap kompetitif dalam jangka panjang.

Dengan menerapkan strategi keunggulan bersaing yang tepat, baik melalui biaya rendah, diferensiasi produk, atau fokus pada segmen pasar tertentu, industri tekstil Indonesia memiliki peluang untuk mengatasi krisis yang dihadapinya dan memperkuat posisinya dalam pasar global.

Kedua, revisi kebijakan ketenagakerjaan perlu dilakukan untuk menciptakan keseimbangan yang tepat antara perlindungan terhadap kesejahteraan buruh dan keberlanjutan finansial perusahaan. Upah dan kesejahteraan buruh harus disesuaikan dengan kemampuan produksi dan keuangan perusahaan, sehingga tidak mengancam stabilitas operasional.

Dalam hal ini, perlindungan terhadap kesejahteraan buruh memang merupakan keharusan, namun tanpa perusahaan yang sehat secara finansial, kesejahteraan ini tidak akan bisa tercapai.  Dalam konsep ini, regulasi yang ada harus mampu mengatur bahwa buruh hanya dapat menuntut peningkatan kesejahteraan ketika perusahaan memiliki produksi dan penjualan yang meningkat. Dengan demikian, tuntutan kesejahteraan buruh dapat disesuaikan dengan kemampuan finansial perusahaan.

Langkah ini penting untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan hak-hak pekerja. Dengan adanya regulasi yang jelas, perusahaan akan lebih terdorong untuk mengelola operasional mereka secara berkelanjutan, yang pada akhirnya akan menciptakan lingkungan kerja yang lebih stabil dan produktif.

Ketiga, tidak hanya finansial perusahaan yang perlu diperhatikan. Pada saat yang sama, buruh harus juga diberikan hak insentif yang ditetapkan berdasarkan perkembangan perusahaan. Sistem insentif yang adil dan transparan akan meningkatkan motivasi dan produktivitas buruh. Ini juga akan menciptakan rasa memiliki dan keterlibatan yang lebih besar dalam kesuksesan perusahaan. Buruh yang merasa dihargai dan diberi kesempatan untuk mendapatkan insentif yang sesuai dengan kontribusi mereka cenderung lebih loyal dan bersemangat dalam bekerja.

Sinergi yang kuat antara perusahaan dan buruh sangat penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan produktif. Pemerintah harus memastikan bahwa sistem yang dibangun mencerminkan kepentingan kedua belah pihak. Perusahaan harus merasa didukung dalam upaya mereka untuk mencapai keberlanjutan, sementara buruh harus merasa dilindungi dan dihargai atas kontribusi mereka. Langkah ini akan menciptakan win-win solution di mana perusahaan dapat berkembang dengan stabil dan buruh dapat menikmati peningkatan kesejahteraan yang adil dan berkelanjutan.

Keempat, pemerintah harus mendorong hilirisasi produk tekstil dengan mendorong pengolahan lebih lanjut bahan baku menjadi produk jadi dengan nilai tambah tinggi. Ini tidak hanya akan meningkatkan nilai ekonomi tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan mendukung pertumbuhan industri dalam negeri.

Selain itu, dengan adanya regulasi yang jelas dan adil dalam hal hilirisasi produk dapat memberikan arah yang pasti bagi pengusaha untuk berinvestasi dalam teknologi dan infrastruktur yang diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah produk. Di sisi lain, buruh juga dapat dijamin kepastian pekerjaan dan pengembangan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Terakhir, sinergi antara pemerintah, pengusaha, dan buruh sangat penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang stabil dan produktif. Kebijakan yang mendukung investasi dalam infrastruktur dan teknologi produksi, serta mengedepankan kepentingan semua pihak, akan membawa dampak positif jangka panjang bagi industri tekstil Indonesia.

Dengan mengimplementasikan strategi ini secara efektif dan kolaboratif, diharapkan industri tekstil Indonesia dapat mengatasi tantangan yang dihadapi saat ini dan kembali menjadi pemain utama dalam pasar global, memberikan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional serta kesejahteraan masyarakatnya secara luas.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Dr. Muhammad Afif, S.H., M.H.

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua