Menelusuri Jejak Sejarah dan Budaya Museum Desa Bedingin

Rabu, 10 Juli 2024 05:58 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Museum ini dimaksudkan untuk menjaga identitas desa dan menanamkan cinta tanah air kepada generasi muda. Identitas desa itu tercermin pada artefak sejarah yang mencerminkan kekayaan budaya.

Museum Desa Bedingin merupakan salah satu tempat wisata yang disajikan masyarakat Desa Bedingin, Kecamatan Sambit, di tenggara kota Ponorogo, Tempat yang kini dipergunakan sebagai Museum Desa Bedingin merupakan bangunan sekolah yang sudah tidak terpakai yang kemudian dialih fungsikan sebagai tempat wisata.

Tempat wisata ini hadir sebagai wujud nyata kepedulian masyarakat Desa Bedingin terhadap pelestarian budaya dan sejarah leluhur mereka. Di balik berdirinya museum ini, terdapat semangat untuk menjaga identitas desa dan menanamkan rasa cinta tanah air kepada generasi muda. Menjaga identitas desa adalah salah satu wujud dari koleksi-koleksi benda yang berada di Museum Desa Bedingin, yaitu koleksi artefak sejarah yang mencerminkan kekayaan budaya Desa Bedingin.

Awal mula adanya museum ini merupakan keprihatinan masyarakat yang melihat banyak barang sejarah milik warga yang dijual murah, seperti peralatan rumah tangga, peralatan pertanian, dan pertukangan. Benda-benda ini memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi, namun karena kurangnya pengetahuan dan apresiasi, banyak yang terabaikan dan terancam punah. Didorong oleh keprihatinan tersebut, masyarakat Desa Bedingin berinisiatif untuk mendirikan museum sebagai wadah untuk menyimpan dan melestarikan benda-benda bersejarah milik desa. Museum ini diharapkan dapat menjadi tempat edukasi bagi generasi muda untuk mempelajari budaya dan sejarah leluhur mereka.

Berawal dari keprihatinan tersebut, museum Desa Bedingin mulai didirikan oleh pemerindah desa pada tahun 2017, dan di awal bulan Januari 2020, museum ini telah diresmikan oleh Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni dalam acara Kenduri Besar Bedingin. Museum ini telah diklaim menjadi museum desa pertama kali yang pernah ada di Provinsi Jawa Timur.

Seperti yang sudah disampaikan di awal bahwa Museum Desa Bedingin didirikan dengan memanfaatkan bangunan bekas Sekolah Dasar Negeri 2 Bedingin. Koleksi museum awalnya berasal dari sumbangan masyarakat, berupa benda-benda bersejarah yang mereka miliki. Seiring berjalannya waktu, koleksi museum terms bertambah dengan pembelian dan hibah dari berbagai pihak.

Sebelum museum berdiri, Desa Bedingin telah memiliki situs sejarah prasasti yang bernama Sirah Keting peninggalan Kerajaan Kediri pada tahun 1204 Masehi yang ditemukan di Desa Bedingin, Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Isi dari prasasti Sirah Keting adalah sebuah hadiah tanah bagi rakyatnya dari Sri Jayawarsa Digwijaya Sastraprabhu yang merupakan cucu dari penguasa Kerajaan Medang, Dharmawangsa Teguh. Kondisi Prasasti Sirah Keting cukup baik, tetapi telah terbagi dua dan kini disimpan di Museum Nasional Jakarta dengan nomor inventaris D 33 dan D 172. Keberadaan situs Sirah Keting menjadi salah satu faktor pendorong berdirinya Museum Desa Bedingin, karena menunjukkan bahwa Desa Bedingin memiliki sejarah panjang dan kaya.

Masyarakat Desa Bedingin melihat potensi wisata budaya yang besar di desa mereka. Dengan adanya museum, diharapkan dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke desa dan mempelajari budaya dan sejarah Desa Bedingin. Hal ini dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat.

Museum Desa Bedingin diharapkan dapat menjadi simbol identitas desa dan memperkuat rasa cinta tanah air kepada masyarakat desa. Dengan mempelajari budaya dan sejarah desa, masyarakat akan semakin menghargai warisan leluhur mereka dan termotivasi untuk menjaga dan melestarikannya. Hal ini telah disampaikan oleh kepala Desa Bedingin Pak Marjuki melalui wawancara yang telah dilakukan oleh mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya pada 4 Juli 2024 kemarin. “Saat duduk-duduk mengamati, melihat potensi-potensi yang ada di desa. Kemudian ketemu ide untuk membuat mini museum.”

Museum Desa Bedingin didirikan atas dasar keprihatinan terhadap hilangnya nilai benda bersejarah, upaya pelestarian budaya dan sejarah desa, potensi wisata budaya, dan keinginan untuk memperkuat identitas desa. Museum ini menjadi bukti nyata komitmen masyarakat Desa Bedingin untuk menjaga dan melestarikan budaya dan sejarah leluhur mereka untuk generasi mendatang. Bagi masyarakat luas yang ingin berkujung, untuk memasuki museum menggunakan tiket masuk dengan harga Rp. 15.000 dan pengunjung akan mendapat free souvenir. Untuk tarif parkir sesuai pemerintah daerah dan bus Rp. 20.000 dengan durasi 8 jam parkir. Jam operasional di museum ini dibuka mulai 08.00-16.00. Di dekat Museum Desa Bedingin juga terdapat beberapa obyek wisata terdekat, yaitu Gunung Gemplah dan Situs Sirah Keteng.

 

 

Nama Anggota Kelompok:

  1. Tiara Alidra S. (1152200230)
  2. Catherin Diah P. (1152200238)
  3. Syayif Izzudin K. (1152200352)

 

Dosen Pembimbing:

Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Tiara Alidra Sampurna

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler