x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Mau Otak Kiri atau Otak Kanan?

Perdebatan tentang kehebatan otak kiri dan otak kanan sudah berlangsung puluhan tahun. Pada akhirnya, penggunaan keduanya mampu menciptakan hasil yang lebih hebat.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

“My brain has two sides, the right side and the left side. The right side has nothing left and the left has nothing right.”

--Entah siapa

 

Seorang kawan menyebut dirinya manusia bertipe otak-kanan (kualitatif). Ia menyebut tanda-tanda pada dirinya: kreatif, intuitif, spontan, dan tanda-tanda lain yang kerap disebut terdapat pada otak-kanan. “Karena itu,” kata kawan ini, “saya cocok bekerja di bagian desain produk.” Ia merasa tidak cocok bekerja di bagian keuangan yang pekerjaannya, menurut dia, “itu-itu saja”.

“Memangnya bagian keuangan tidak butuh kreativitas?” tanya saya tanpa bermaksud menyindir seolah-olah orang keuangan kreatif dalam ‘mengutak-atik’ pembukuan agar terlihat manis dan menyenangkan. Orang keuangan seperti sudah dicap sebagai ‘berotak kiri’ (kuantitatif) yang cenderung analitis.

Banyak orang masih beranggapan bahwa ‘kreatif’ hanyalah milik orang-orang yang bekerja di bagian desain, promosi, pemasaran, sedangkan orang-orang yang cenderung analitis lebih pas bekerja di bagian sumber daya manusia, keuangan, ataupun logistik. Dikotomi semacam ini masih kerap dipegang sebagai pemisahan yang tegas bak hitam dan putih.

Dalam praktek, ketika tengah mendiskusikan ihwal ‘memberi layanan terbaik kepada pelanggan’, sebagai pemasar kita membutuhkan kemampuan kreatif dan kekuatan analitis. Kita membutuhkan keseimbangan yang pas dalam memahami masalah layanan pelanggan ini. Kemampuan kreatif dan kekuatan analitis diperlukan bersama-sama untuk menemukan jawaban yang tepat atas masalah ini.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ada proses analitis yang mesti dilakukan untuk mencapai efisiensi anggaran, misalnya, tapi jika Anda tidak menggunakan kemampuan kreatif Anda, hasilnya tidak akan optimal. Justru ketika kita menggunakan secara aktif kedua bagian otak itu, gagasan yang hebat akan  lahir. Misalnya, secara prinsip, pemakaian keuangan harus efisien, selanjutnya Anda harus berpikir kreatif dalam mengalokasikan anggaran agar tujuan efisiensi tercapai.

Perdebatan tentang mana yang lebih hebat antara otak kiri dan otak kanan sudah berlangsung sejak akhir 1960an. Riset terbaru menunjukkan bahwa pemisahan kerja yang tegas antara otak kiri dan otak kanan sungguh tidak berdasar. Saat kita berpikir, bukan hanya salah satu otak saja yang mengendalikan: berpikir kreatif saja atau berpikir analitis saja. Kita semua, menurut riset ini, punya kapasitas untuk menggunakan kedua moda berpikir itu, secara pasif ataupun aktif. Jika Anda mampu melakukannya dengan baik, hasilnya akan mengejutkan!

Contohnya begini: misalnya saja Anda hendak meluncurkan aktivitas promosi produk telepon pintar terbaru. Ada beberapa segi yang mungkin Anda perlu perhitungkan: teknologinya, budayanya, psikologisnya, dan harganya—dan Anda sudah punya segepok data untuk dianalisis. Setelah Anda memahami pasar yang hendak menjadi target promosi, Anda mulai merancang sisi kreatifnya—bagaimana agar pasar sasaran berpaling kepada telepon pintar Anda dan berminat untuk membelinya. Anda mereka-reka pilihan kata-katanya, desain grafisnya, pilihan warnanya.

Untuk menciptakan promosi yang kreatif ini, Anda tidak bisa lepas dari proses analitis terhadap kondisi pasar yang menjadi sasaran. Jika Anda langsung membuat promosi tanpa mengenali lebih dulu siapa pasar yang dituju, upaya promosi ini niscaya gagal.

Sejumlah perusahaan kian serius menggunakan ‘pendekatan dua otak’ ini. Manajemen memberi kebebasan bagi orang pemasaran, misalnya, untuk merancang jurus-jurus yang paling kreatif sekalipun. Namun, jurus-jurus ini akan diuji lebih dulu sebelum diluncurkan ke publik. Mereka memanfaatkan betul umpan balik atas rancangan yang diujikan kepada sekelompok calon konsumen: mengena atau tidak, apa kekurangannya, apa kekuatannya.

Manfaatkan data pelanggan dan pasar yang Anda punya, dan kerahkan imajinasi Anda untuk menciptakan jurus pemasaran yang paling kreatif. Dan, pendekatan ini layak diadopsi di seluruh bagian organisasi perusahaan/bisnis, juga oleh Anda sebagai individu. (sbr foto: theleadershipadvisor.com) *** 

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler