Ghost Writer dalam Fiksi

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ghostwriter berperan besar dalam tetap menghidupkan karakter novel yang penulis aslinya sudah wafat, bahkan juga yang masih hidup.

Tatkala penulis fiksi-sains Michael Crichton meninggal pada 2008, ada naskah novel yang belum selesai ia tulis dan belum diberi judul. Manuskrip itu ditemukan di komputernya dan segera dibawa ke penerbit HarperCollins. “Bagaimana naskah ini harus diselesaikan?” inilah pertanyaan yang menggayuti para editor, “Apakah naskah ini akan dibiarkan tak selesai atau diteruskan orang lain? Siapa?”

Richard Preston, seorang penulis isu-isu sains, dipilih oleh HarperCollins untuk menyelesaikan naskah Crichton. Ini bukan tugas mudah. Preston harus membaca novel-novel Crichton sebelumnya, menyerap cara berkisah, dan beradaptasi dengan gaya penulis techno-thriller ini. Manuskrip Crichton akhirnya selesai dan terbit pada 2011 dengan judul Micro. Nama Preston dicantumkan di sampul novel ini bersama nama Crichton.

Andrew Crofts, sebagai penulis non-fiksi, tidak bernasib sebaik Preston yang memperoleh penghargaan baik dari penerbit dan juga ahli waris Crichton. Dalam bukunya yang baru saja terbit, Confession of a Ghostwriter, Crofts mengisahkan perannya sebagai penulis bayangan bagi banyak orang yang tidak bisa menulis tapi ingin menerbitkan buku dengan namanya tertera di sampul. Nama orang-orang ini semakin terkenal berkat bukunya, sementara Crofts tetap seorang invisible author.

Di dunia fiksi pula, Tom Clancy disebut-sebut juga menyewa ghoswriter untuk menulis novel, tentu saja dengan gaya Clancy—pembaca The Hunt for Red October, Patriot Games, dan Clear and Present Danger, mungkin akrab dengan novel spionase Clancy. Lantaran popularitas dan banyaknya permintaan naskah kepada Clancy, penerbit dan penulis ini tak sungkan untuk menyewa ghostwriter. Lima novel Clancy ditulis bersama Mark Greany.

Beberapa nama populer di dunia fiksi, seperti Arthur Conan Doyle dan Agatha Christie, juga masih ‘menulis’ meskipun keduanya sudah meninggal. Cerita-cerita baru mengenai karakter Sherlock Holmes dan Herculé Poirot masih hadir menemui penggemarnya. Kisah-kisah baru ini ditulis oleh para penulis bayangan.

Penulis bayangan, sesuai namanya, bekerja di balik layar. Seringkali mereka melakukan banyak hal yang harus dikerjakan penulis: riset, wawancara, membaca, menulis draft, dan bahkan menyuntingnya sebelum editing akhir oleh penerbit. Crofts sanggup melakukan hal itu hingga 40 tahun hingga akhirnya ia merasa harus keluar dari persembunyiannya.

Crofts punya cerita tersendiri tentang pengalamannya yang otentik sebagai ghostwriter dan cerita inilah yang ia tawarkan kepada penerbit. Pengakuannya membuat namanya sendiri tercantum di sampul buku untuk pertama kali.

Banyak pula ghostwriter yang bersedia menulis suatu cerita untuk orang lain karena kecintaan pada karakter dan penulis aslinya. Meski nerveous, Sophie Hannah merasa terhormat ketika memperoleh kesempatan untuk menulis kisah baru Herculé Poirot—karakter ciptaan Agatha Christie. Ia tidak mudah memperoleh kesempatan ini, sebab ia harus membuat tulisan pendek dengan gaya Christie. Setelah lulus ‘ujian’ ini, ia dipercaya untuk menulis novel pertama setelah kematian Christie, 40 tahun yang lampau. Berjudul The Monogram Murders, novel ini terbit September 2014.

Sejumlah penulis bayangan bersedia menulis cerita baru James Bond karena menyukai karakter ciptaan Ian Fleming ini. Setidaknya, sudah ada tujuh penulis yang terlibat dalam proyek ‘menghidupkan terus James Bond’, mulai dari Kingsley Amis, Christopher Wood, John Gardner, Raymond Benson, Sebastian Faulks, Jeffrey Deaver, dan William Boyd . Pada umumnya cerita mereka disukai oleh penggemar Bond.

Menjadi ghostwriter niscaya tidak mudah. Mereka berada di dalam ketegangan di antara kebutuhan mencari penghasilan, keinginan untuk menjadi populer, dan pengakuan terhadap karya mereka. Sayangnya, pengakuan ini kerap kali justru dinikmati oleh orang lain, terutama ketika namanya sebagai ghostwriter tidak dicantumkan di sampul buku. (sbr foto: hrfuture.net) **

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

1 Pengikut

img-content

Bila Jatuh, Melentinglah

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua