x

Subsidi BBM 2014 Tembus Rp 210,7 Triliun

Iklan

Ardie Tyastama

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Subsidi BBM Dicabut

Subsidi BBM telah dicabut. Suka tak suka, itulah kenyataan. Nah, tinggal selanjutnya bagaimana kita bersikap. Akankah terus mengutuk keadaan ? Atau sebaliknya menebar pesan kearifan ? Terserah saja. Yang jelas, masa depan ada di tangan kita...

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Subsidi BBM dicabut. Presiden Joko Widodo, akhirnya mengumumkan, bahwa pemerintah telah menetapkan kenaikan harga BBM. Harga solar dari Rp 5.500 jadi Rp 7.500,- dan premium dari Rp 6.500,- menjadi Rp 8.500,-. Penetapan yang tak mengenakan, penetapan yang bakal menyulut gejolak di masyarakat. Harga BBM naik, biasanya akan diikuti dengan kenaikan harga-harga barang dan jasa lainnya. Sehingga pemerintah sebelumnya selalu tarik ulur dalam mengambil keputusan soal BBM. Seakan pemerintah takut tidak populer, takut jatuh martabatnya, jika sampai berani mencabut subsidi BBM. Dan semoga, Presiden baru kita itu teguh dalam mengambil keputusan. Meski mengambil langkah yang tak populer, menetapkan kebijakan yang mengundang kontra.

Subsidi BBM memang harus dicabut. Pemerintah tak bisa menunda-nunda lagi dengan alasan apapun. Memang masyarakat bakal bergejolak. Masyarakat akan shock dengan melambungnya harga-harga, namun saya yakin, itu hanya sesaat. Masyarakat akan demam, tapi itu tak akan berlangsung lama. Satu-dua bulan mengalami frustasi, bulan ketiga akan kembali normal. Kita akan kembali meniti kenyataan sebagaimana sebelum subsidi dicabut.

Sekarang atau tahun depan, pemerintah tak bisa terus-terusan memanjakan kita dengan harga minyak yang murah. Kini atau nanti, subsidi BBM musti dicabut. Suka, tidak suka. Antara pro dan kontra, pemerintah musti mengambil keputusan, tidak terus-menerus mengambang, berjalan diatas ketidakpastian. Dan, sekali lagi, pemerintah baru kita itu telah mengambil keputusan pahit, keputusan yang tak populis, namun tepat. Saya tidak mengerti ekonomi, saya bukan ahli perminyakan, dan saya juga bukan dari kalangan “the have”, namun akal sehat menuturkan, bahwa tidak etis, kalau sampai mempercepat cadangan minyak bumi ini habis.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Proses jadinya minyak itu butuh waktu ribuan bahkan jutaan tahun, namun karena ulah kita yang berlaku boros dalam mengeruk kandungan minyak, kiranya hanya butuh 100 tahun saja, minyak bumi bakal habis. Anak cucu kita kelak tak bisa lagi menikmati sumber daya alam minyak, yang konon termasuk yang tak bisa diperbarui, akibat tindak pemborosan kita. Jadi, pencabutan subsidi BBM, secara nurani dan common sense, adalah penetapan yang tepat. Harga solar dan premium menjadi mahal, adalah keputusan yang harus dilalui pemerintah agar tindak pemborosan dapat dicegah. Hal yang wajar, kalau kita boros atas penggunaan BBM, lantaran murah. Hal yang logis, kalau “kiamat” perminyakan bakal dekat, karena pemerintah terus saja menggelontorkan anggaran mensubsidi BBM, sehingga  begitu gampangnya kita mengeluarkan kocek untuk membakarnya.

Sekali lagi, saya bukan pakar ekonomi, dan tidak memahami hitung-hitungan real “konsumtif” dan “produktif” masyarakat. Saya hanya melandaskan rasio, bahwa bahan bakar minyak itu kandungan sumber daya alam yang tak bisa diperbarui. Sehingga cepat tidaknya, kandungan minyak bumi itu habis, adalah masalah kemauan dan kemampuan kita untuk menghemat. Dan kita akan “terpaksa” berlaku hemat, kalau harga minyak itu mahal. Maka saya meyakini, keputusan pencabutan subsidi BBM itu tepat, ialah demi usaha memperpanjang usia minyak bumi. Generasi yang akan datang, masih bisa menikmati BBM, masih bisa ikut membakarnya, sebagaimana kesempatan yang kita nikmati saat ini. Kelak anak cucu kita tidak akan menganggap BBM sebagai mitos, karena kenyataan masih ada, sehingga tidak diperlukan abstraksi.

Usai Subsidi BBM Dicabut

Sebagai masyarakat, seyogianya berprasangka positif atas kenaikan harga minyak ini. Dan barangkali yang bisa kita desakkan kepada pemerintah adalah agar mewujudkan janjinya untuk pengalihan anggaran pada perbaikan infrastruktur, perbaikan mutu pendidikan, syukur gratis sampai 12 tahun, dan perbaikan layanan kesehatan, kualitas puskesmas ditingkatkan. Sedang ke internal kita, ke dalam sanubari ini, adalah memperbagus sikap atas kenyataan.

Pepatah lama mengatakan: “bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian…..”. “Hemat pangkal kaya”, “rajin pangkal pandai”, dsb. Ingin bisa menenggak air kelapa, musti menanamnya terlebih dahulu dan bersabar hingga 8 tahun. Ingin memanen, musti menanam dulu. Pendek kata, ada proses panjang yang musti dilalui. Ada upaya untuk menunda kesenangan, ada laku derita sebagai tirakat. Kehidupan mengajarkan hal itu. Tidak ada yang instan, serba cepat, dan malas meniti proses.

Induk ayam melakukan tirakat selama 21 hari, untuk mendapatkan generasi. Kupu-kupu dapat ikut andil melestarikan tanaman tumbuh-tumbuhan, lewat penyerbukan, lantaran ada keinginan seekor ulat yang menjalankan laku prihatin menjadi kepompong. Ada proses penundaan untuk meraih kesenangan, ada laku prihatin untuk menggapai bahagia. Dan ini berlaku bagi segenap makhluk yang menghuni muka bumi ini. Melakukan apa yang tak disenangi, dan sedia meninggalkan apa yang disenangi. Makan minum bisa kapan saja dan bisa sepuas-puasnya, tetapi kalau kita ingin membahagiakan generasi, musti sedia berpuasa, agar anak-anak kita nanti bisa ikut menikmati.

Demikian pula, dengan pencabutan subsidi BBM. Saya coba memahami, bahwa kenaikan harga premium, harga solar, adalah andil kita untuk berpuasa, demi generasi kelak. Pencabutan subsisi BBM merupakan bagian upaya tirakat kita, demi kelangsungan negeri dan demi anak cucu kita yang bakal menjejakkan kaki setelah kurun 1 abad Indonesia merdeka. Nah, bagaimana ….

 

 
 

Ikuti tulisan menarik Ardie Tyastama lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu