x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Mereka yang Tak Mau Menyerah

Stephen King, John Grisham, Agatha Christie, dan John le Carré merasakan penolakan penerbit buku hingga puluhan kali. Penciuman para penebit ini terbukti tidak selalu tajam. Ketika karya mereka akhirnya terbit, sambutan publik sungguh luar biasa.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

“Our greatest weakness lies in giving up. The most certain way to succeed is always to try just one more time.”
--Thomas Alva Edison (Inventor, 1847-1931)

 

 

 “Ia tidak punya masa depan apapun,” ujar seorang penerbit mengomentari karya pertama John le Carré, The Spy Who Came in from the Cold. Sebagai mantan agen intelijen, le Carré punya segudang kisah untuk dibagikan kepada publik lewat genre spionase. Tapi penerbit selalu merasa punya penciuman yang berbeda, meski penerbit yang menolak karya pertamanya itu salah besar.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ketika akhirnya ada penerbit yang mau mempublikasikan The Spy, penerbit itu memetik keuntungan atas keberaniannya menerbitkan karya pertama le Carré. Terbukti, le Carré punya masa depan—yang cemerlang bahkan. Karya pertama ini difilmkan dengan pemain utama Richard Burton pada 1965. Dan ia terus berkarya. Film A Most Wanted Man yang dibintangi oleh Phillip Seymour Hoffman, yang belum lama beredar (2014), diangkat dari novel ke-19 le Carré.

John le Carré mengawali kariernya sebagai penulis dengan pahit. Begitu pula Stephen King.

Siapa tak mengenal Stephen King? Betapapun ia kini sangat populer dengan cerita-cerita thriller-nya, sangat mungkin ada orang yang tak mengenal namanya. Beberapa tahun yang lampau, yang tidak tahu siapa King niscaya jauh lebih banyak—termasuk penerbit-penerbit buku di AS.

Ada suatu masa ketika tulisan-tulisan King ditolak. Para penerbit buku enggan mencetak dan mempublikasikan penulis yang tak dikenal ini. Setiap kali ditolak, surat penolakan tidak ia buang. King memaku surat-surat itu di papan yang tergantung di salah satu dinding rumah. Makin lama, surat-surat itu makin banyak hingga akhirnya paku tak kuat lagi menahannya. “Aku menggantinya dengan paku beton yang lebih kuat dan terus menulis,” tutur King.

Tigapuluh kali kata ‘tidak’ disampaikan oleh penerbit tatkala King menyodorkan naskah novel pertamanya, Carrie. “Novel ini tidak akan laku,” kata penerbit. Padahal King tidak mudah melahirkan karya ini. King sempat membuang draf awal novel itu ke dalam tempat sampah lantaran merasa kemajuannya dalam menulis naskah ini tidak begitu berarti. Istrinya mengambil draf itu dan mendorong King agar menyelesaikannya.

Setelah puluhan pintu ia ketuk, akhirnya pintu yang ke-31, yakni rumah penerbitan Doubleday, terbuka untuk King. Tahun 1974, penerbit ini mencetak 30 ribu eksemplar. Karya pertama King ini ‘meledak’ ketika Doubleday menerbitkan versi paperback setahun kemudian. Lebih dari 1 juta eksemplar Carrie terjual dalam 12 bulan. Selanjutnya, jalan menjadi mudah bagi King.

Mendiang Agatha Christie harus menunggu empat tahun untuk menyaksikan novel pertamanya terbit. J.K. Rowling harus menelan rasa pahit penolakan hingga 12 kali sampai akhirnya Harry Potter and the Sorcerer’s Stone diterima dan diterbitkan.

Andaikan Rowling patah arang dengan penolakan, sebab ia tak punya pekerjaan tetap, kita mungkin tak mengenal Albus Dumbledore, Lord Voldemort, Hermione Granger, maupun Severus Snape. Begitu pula, andaikan Agatha Christie jemu dengan penantiannya, kita mungkin tak membaca Murder on the Orient Express atau The Murder of Roger Ackroyd. Dan tentu saja tak mengenal Hercule Poirot.

John Grisham juga tak letih mengetuk pintu penerbit agar mereka bersedia mempublikasikan naskahnya—ketika itu, self-publishing belum jadi tren. A Time to Kill, karya yang kemudian menjulangkan namanya, harus melewati 16 penolakan oleh agen penulisan maupun 12 penerbit sebelum muncul di depan publik.

Lewat upaya berkali-kali itu, mereka sepertinya mau mengatakan: “Jangan patah semangat oleh penolakan.” Dan bila kemudian nama mereka mashur, itu adalah buah kesabaran, kemauan keras, dan sikap pantang menyerah. “Anggap saja penolakan sebagai lencana kehormatan,” tulus Richard St. John dalam bukunya yang inspiratif, To Be Great. ***

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler