x

Ilustrasi Media. Gerd Altmann dari Pixabay.com

Iklan

Wahyu Dhyatmika

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 13 Juli 2022 23:05 WIB

Resep Selamat dari Banjir Berita

Ketika berita hanya merupakan kumpulan pendapat, maka khalayak sebenarnya tidak mendapatkan informasi substansial apapun. Apalagi jika narasumber yang dipilih sengaja dipasang untuk meneguhkan persepsi tertentu

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

SEPEKAN setelah Penjara Cebongan, Sleman, Yogyakarta diserbu dan empat tahanannya ditembak mati pada akhir Maret lalu, publik seakan tenggelam dalam lautan kasak-kusuk. Kabar gelap berseliweran di Facebook dan Twitter. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, polisi dan tentara berbantahan di media umum. Semua orang punya teori dan versinya masing-masing. Titik terang baru muncul pekan pertama April 2013 lalu, setelah 11 prajurit Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat mengakui perbuatannya. Meski masih ada kejanggalan yang menunggu penyidikan lanjutan, setidaknya khalayak sudah mendapat fakta.

Banjir informasi --seperti yang kita alami setelah insiden Cebongan adalah motivasi utama yang mendorong dua jurnalis senior Amerika Serikat, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, menulis buku berjudul 'Blur: Mencari Kebenaran di Era Banjir Informasi' ini. Kepungan kabar di sekeliling kita dewasa ini memang menakjubkan. Internet, telepon pintar, televisi, media online, semua menawarkan informasi. Masalahnya: tak semua menyediakan kebenaran.

Lewat buku yang pertama kali diterbitkan Bloomsbury pada 2010 ini, Kovach --mantan Kepala Biro New York Times di Washington-- dan Rosenstiel, jurnalis kawakan yang pernah bekerja untuk Majalah Newsweek, dengan telaten membimbing kita untuk menemukan kembali kepercayaan diri di tengah banjir aneka rupa warta. Mereka menekankan pentingnya publik bersikap skeptis dalam menyerap informasi yang dilansir media massa. Dengan lugas, kedua penulis --yang sebelumnya sudah dikenal dengan buku klasik  'Sembilan Elemen Jurnalisme'  ini-- menjelaskan bahwa pembaca di era digital harus menjadi editor untuk dirinya sendiri.

Begitu beragamnya pilihan informasi yang tersedia di internet misalnya, menuntut publik untuk cerdas menemukan fakta di tengah setumpuk informasi yang sebenarnya tak lebih dari sampah. Kovach dan Rosenstiel meminta khalayak menanyakan enam hal pada diri sendiri ketika mengkonsumsi informasi. Sederet pertanyaan itu antara lain: apakah  informasi itu lengkap, siapa sumbernya, mengapa kita harus percaya pada sumber itu dan adakah bukti yang disertakan di sana? Melakukan verifikasi semacam ini akan membuat Anda lebih skeptis ketika menghadapi sebuah berita.

Lebih jauh, buku ini menyimpulkan ada beberapa jenis jurnalisme yang berkembang di era digital. Tak semua ideal. Ada jurnalisme verifikasi, jurnalisme pernyataan, jurnalisme pengukuhan/afirmasi, dan jurnalisme partisan atau kepentingan. Yang paling kredibel tentulah jurnalisme verifikasi. Berita yang dihasilkan dari proses ini paling mendekati kebenaran. Sementara, ketiga jenis jurnalisme yang lain cenderung membuat publik kehilangan kesempatan untuk memahami makna peristiwa atau topik yang diberitakan.

Ketika berita hanya merupakan kumpulan pendapat, maka khalayak sebenarnya tidak mendapatkan informasi substansial apapun. Apalagi jika narasumber yang dipilih sengaja dipasang untuk meneguhkan persepsi tertentu. Meski saling sahut, saling maki, saling cerca antar sumber berita itu kadang jadi tontonan menarik di layar kaca, pada dasarnya tidak ada fakta atau kebenaran yang terverifikasi di sana.

Yang membuat buku ini menarik tak hanya topik yang diangkatnya, tapi juga cara penuturannya yang mengalir. Meski diterjemahkan ke dalam  bahasa Indonesia, terasa kalau penerjemah buku ini berusaha menjaga otentisitas gaya penulisan Kovach dan Rosenstiel. Dua wartawan Indonesia, Imam Shofwan dan Arif Gunawan, menghabiskan waktu nyaris dua tahun untuk menyelesaikan penerjemahan buku ini.

Beberapa kisah pengalaman jurnalis yang disisipkan di awal setiap bab, juga menjadi nilai lebih buku ini. Ada kisah wartawan Chicago Tribune, John Crewdson, yang melacak mengapa maskapai penerbangan di Amerika tidak menyediakan alat pacu jantung di atas pesawat. Padahal, sekitar 360 penumpang meninggal di atas pesawat karena serangan jantung setiap tahunnya. Ada kisah Seymour Hersh, wartawan investigatif legendaris yang memutuskan untuk tidak mempublikasikan temuannya soal penyiksaan tahanan kasus terorisme oleh agen CIA, karena hanya ada satu sumber tangan pertama yang bersedia diwawancarai. Hersh tidak menyesal meski belakangan hasil reportasenya terbukti.

Cerita-cerita dari para jurnalis ini seperti menjadi patokan standar jurnalisme verifikasi yang idealnya dilakukan semua media. Pada bab terakhir buku ini, Kovach dan Rosenstiel menawarkan konsep jurnalisme baru untuk media dan wartawan di era digital. Ketimbang berfokus pada fungsi pelaporan berita semata, media bisa menjadi lebih relevan di abad informasi ketika menjadi pusat pengetahuan yang terus tumbuh bersama khalayaknya.

Gagasan ini pernah dicoba Google bekerjasama dengan New York Times dan Washington Post pada 2009. Mereka menggabungkan kemudahan navigasi mesin pencari di Internet dan keragaman konten media untuk memudahkan audiens mencari informasi terpenting tentang suatu topik. Bisa jadi itulah format media masa depan ketika publik kian cerdas memilah informasi.

****

BLUR: BAGAIMANA MENGETAHUI KEBENARAN DI ERA BANJIR INFORMASI
Pengarang: Bill Kovach dan Tom Rosenstiel
Penerbit: Dewan Pers, Jakarta,
Cetakan Pertama November 2012
Tebal: xi + 225 halaman

****

Tulisan ini dimuat sebagai resensi di Majalah Tempo edisi 14 April 2013 dan bisa dibaca di sini.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ikuti tulisan menarik Wahyu Dhyatmika lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu