Hari Buku Nasional Lewat Begitu Saja

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tanggal 17 Mei ditetapkan Pemerintah sebagai Hari Buku Nasional. Tampaknya buku tidak lagi menjadi urusan pemerintah sehubungan peringatan Harbuknas lewat begitu saja tanpa ada gerakan kepedulian. Apakah bangsa ini semakin bodoh ?

Kado Buku

17 Mei ditetapkan oleh Negara kesatuan Republik Indonesia  sebagai Hari Buku Nasional.  Pemilihan tanggal tersebut dikaitkan dengan peristiwa diresmikan Perpustakaan Nasional pada tahun 1980.   Layaknya sebagai peringatan tahunan apa yang bisa dilakukan oleh warga khususnya para pecinta buku.  Apakah hari Minggu ini ada kado ulang tahun untuk si makhluk yang bernama buku.

Mungkin lebih tepat apabila hadiah di serahkan kepada fasilitas tempat berkumpulnya segala jenis buku.  Perpustakaan sebagai rumah buku masihkah diramaikan pengunjung atau warga lebih suka berbelanja ke Mall.  Untunglah buku juga di jajakan di mall, maksud saya di toko buku.  Beli buku untuk dibaca kemudian letakkan di perpustakaan pribadi,  apabila perpustakaan pribadi telah penuh kenapa tidak dikirim ke perpustakaan umum.  Inilah idealnya kiprah sejati seorang pecinta buku

Berbicara tentang buku maka tidak bisa dikesampingkan peran para penulis.  Penulis berusia panjang sepanjang zaman adalah penulis yang telah menerbitkan buku.  Sedangkan penulis berumur pendek adalah penulis yang sekedar berceloteh di sosial media tapi enggan menjilid ratusan bahkan ribuan tulisannya menjadi sebuah buku.  Buku abadi adanya, lebih panjang usianya dari si penulis.  Pepatah gajah dan harimau bisa juga di tasbihkan kepada manusia meninggal meninggalkan buku.

Keunggulan sebuah buku di banding dengan bacaan di sosial media terletak pada sisi praktis.   Buku bisa di bawa kemana saja tanpa bergantung kepada aliran listrik atau baterai.  Asal ada sinar aja sedikit maka buku bisa dibaca .  Selain itu buku beratnya tidak sebrapa kecuali kamus tebal, dia enteng bisa dimasukkan kedalam tas kecil ketika berpergian.

Buku Membela Dirinya Sendiri

Keunggulan buku atau kitab kata Ibu saya Almarhumah Hajjah Kamsiah Binti Sutan Mahmud, buku bisa dijadikan sebagai kado.  Memberi hadiah buku kepada seorang sahabat mempunyai makna yang lebih dalam karena buku adalah simbol kecerdasan.  Ada lagi nilai tambah yaitu  seandainya yang dihadiahkan pada sampul buku tersebut tercantum nama si pemberi hadiah.  Artinya menghadiahkan buku karya sendiri sepertinya menitipkan sosok diri  kita diseluruh penjuru dunia.

Secara pribadi saya merasakan sendiri betapa keajaiban buku.  Tentu saja buku itu adalah  karya pribadi.  Terkesan dan tersemangati oleh petuah Buya Hamka yang mengatakan bahwa anda penulis  teruslah berkarya jangan pedulikan arah kemana karya itu akan tersebar. Karya tulis itu jadikan sebuah buku ya sebuah buku, jangan biarkan dia terbengkalai hanya sebagai lembaran lembaran terpisah.  Jilid dan jadikan buku.  Kemudian setelah itu biarlah buku anda itu mengikuti takdirnya sendiri.  Buya menambahkan biarlah buku itu membela dirinya sendiri.

Semangat dari Buya Hamka saja pegang terus dengan cara bberusaha sekeras mungkin  menulis hampir setiap hari.  Atas kemudahan di era digital informasi saat ini dimana  menerbitkan buku itu mudah sekali.  Satu demi satu buku telah terbit sehingga sampai hari ini telah di terbitkan 8 buah buku.  Buku buku tersebut membela dirinya sendiri.  Entah bagaimanan caranya buku saya pertama “Bukan Orang Terkenal” bisa menjadi salah satu koleksi di Perpustakaan Nasional Australia.  Buku ke lima “Prabowo Presidenku” tercatat di salah satu Perpustakaan Amerika.

Ada kado yang membesarkan hati bagi seorang penulis buku.  Ketika berkunjung ke toko buku besar kemudian membuka file  di komputer maka dia atau oarang lain akan menyaksikan  nama buku dan penulisnya tersimpan di sana. Yok semangat menulis.  Semangat pula menjadikan tulisan itu bergabung dalam satu buku.  Buku mewakili kepribadian seseorang yang telah  mampu mendaratkan setiap inspirasi dan imijasi menjadi kenyataan.  Alam pikiranyang tergantung di awang awang itu sebelum sirna kenapa tidak di jadikan sebuah tulisan.

Selamat Hari Buku Nasional

Salam Salaman

TD

Bagikan Artikel Ini
img-content
Thamrin Dahlan

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Bibliografi Roh Perpustakaan

Jumat, 15 September 2023 09:56 WIB
img-content

Berita Nan Kelelap

Senin, 20 Januari 2020 06:11 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua