x

Iklan

SUHARDI DUKA

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Kebijakan Sebagai Puncak Kepemimpinan

Kebijakan pada dasarnya adalah ketulusan dan keikhlasan, sehingga dengan cara itu orang yang bijak akan melekat juga kearifan pada dirinya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pemimpin sering dimaknai sebagai satu kekuatan atau kemampuan seseorang untuk menggunakan segala sumber daya dalam mewujudkan mimpi maupun tujuannya. Tapi mari kita melihatnya lebih jauh. Bahwa menjadi seorang yang bijak jauh berada di level yang lebih tinggi dalam leadership.

Kebijakan pada dasarnya adalah ketulusan dan keikhlasan, sehingga dengan cara itu orang yang bijak akan melekat juga kearifan pada dirinya. Seseorang yang bijak dan arif senantiasa menempatkan tujuan berjangka panjang, meluas dan terintegrasi dari semua aspek hidup manusia dan alam sekitarnya. Bukan justru sebaliknya, berjangka pendek, apalagi untuk kepentingan diri sendiri.

Mari kita tengok cerita Pandawa Lima, pemimpin Hastina Pura yang terdiri dari pandawa lima dan Drupadi. Dengan berbekal kesaktian dan keahlian masing-masing, mereka berjuang menuju kayangan secara raga.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dalam perjalanan perjuangan menuju puncak Himalaya yang diyakini sebagai gerbang tempat bersemayamnya para dewa itu, mereka gugur satu per satu. Diawali dengan gugurnya Drupadi, isteri Yudistira, perempuan cantik yang dipenuhi cinta, gugur pertama kali hingga tidak dapat memasuki kayangan secara raga. Rupanya putri cantik itu tidak pernah dengan tulus mencintai Yudistira. Ia lebih mencintai Arjuna.

Selanjutnya, Nakula dan Sadewa turut terhalang. Keduanya tak dapat melanjutkan perjalanan hingga tewas. Ini akibat merasa diri paling terampil. Selanjutnya Arjuna dan Bima. Arjuna gugur karena merasa dirinya yang paling gagah dan paling sakti.

Lalu bagaimana dengan Bima? Bima adalah pandawa yang paling kuat, tangguh, paling banyak membunuh anggota kurawa dalam perang Bhratayudha. Di tangannyalah Dursasana dan Duryodana tewas. Namun Bima pun tidak sampai ke kayangan. Sebab ujiannya bukan soal ketangguhan fisik, atau keahlian memanah ataupun gada. Tapi ujiannya adalah kemurnian hati dan ketulusan.

Tinggallah Yudistira, siapakah dia. Apakah makhluk sempurna? Tidak, dia juga manusia biasa yang suka berjudi. Tapi Yudistira selalu bijak dan berkata jujur serta rendah hati, tulus pada setiap persembahannya. Karenanya, hanya Yudistira yang sampai dan memasuki kayangan secara raga.

Dari kisah Mahabharata ini dapat ditarik pelajaran bahwa sehebat apa pun seseorang dalam hidupnya, ia akan selalu diuji, diuji, dan sekali lagi diuji. Tujuannya agar mendapatkan kearifan dalam perjalanan hidup ini. Ujiannya macam macam. Bagi yang sombong ujiannya adalah kerendahan hati. Bagi yang tamak ujiannya adalah kekayaan. Bagi yang pandai ujiannya adalah pengetahuan. Dan bagi yang komitmen ujiannya adalah keraguan.

Dalam cerita Mahabharata ini sering kita menyalahkan Yudistira karena terlalu sabar dan bijak dalam menyelesaikan setiap persoalan, maupun dalam menghadapi musuh-musuhnya. Bahkan kita sering lebih mendukung anggota Pandawa Lima yang lain. Tapi justru dengan ketulusan dan kebijakan, Yudistira dapat masuk ke kayangan secara raga.

Untuk itu jangan menerjemahkan sendiri dan sinis terhadap persoalan orang lain. Mungkin ada sesuatu yang anda belum ketahui. Sebab tidak semua proses diketahui publik. Ada sesuatu yang tertutup yang menjadi alasan dalam satu keputusan tertentu. Maka dalam narasi ini, Yudistira tetap saja memiliki pertimbangan yang sering kita tidak tahu hingga pada ujungnya nanti, semua bakal memahami bahwa itulah arti sebuah sikap bijak.

Ikuti tulisan menarik SUHARDI DUKA lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini