Laut Sabang, Catatan-catatan Seorang Urban - Kesaksian Bangka - Analisis - www.indonesiana.id
x

Wulung Dian Pertiwi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Laut Sabang, Catatan-catatan Seorang Urban - Kesaksian Bangka

    Bangka adalah cara Aceh menamai pohon bakau atau mangrove. Suatu hari, bangka-bangka itu akan bersaksi.

    Dibaca : 6.333 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Rahasia umum di Sabang, teluk-teluk sepanjang pantainya menjadi gerbang penyelundupan mobil-mobil impor sejak masa konflik, atau DOM, atau darurat militer. Bisa teluk mana saja asal kapal pukat mungkin menyandar dan terlindung, seperti di sela hutan bakau, atau mangrove. Bakau disebut bangka dalam Bahasa Aceh, maka di gelap malam, di naungan rimbun bangka, the story of smuggling was begun

    “Tarif dari Sabang ke Banda Aceh 25 juta rupiah waktu itu,” ungkap seorang mantan pedagang. Tahun 2000, itu nominal bernilai besar. Tapi bukan semuanya masuk ke kantong para pedagang karena mereka masih harus membayar jasa angkat dan jasa keamanan, selain operasional kapal. Keadaan serba tidak pasti masa DOM, sampai-sampai urusan selundup-menyelundup juga bukan di satu dermaga. Supaya tidak mudah ketahuan, alasannya, selain juga faktor kecil seperti cuaca.

    Tapi selama uang keamanan, yang tiga juta rupiah masing-masing sekali berlayar, tersalurkan, biasanya aman-aman saja, menurut pengakuan. Katanya, oknum aparat institusi TNI dan Polisi, juga GAM, adalah pihak yang menjamin keselamatan. “Kalau tidak, biasanya mereka akan langsung menghubungi kami (pedagang) untuk minta bagian.” Kalau tetap tidak dibayarkan, bisa-bisa ditembak di tengah laut, lalu kapal dan awaknya tenggelam di pengiriman berikutnya. Insiden seperti itu memang pernah terjadi di perairan antara Sabang dan Banda Aceh menurut kesaksian-kesaksian.  

    Soal gotong-menggotong, itu rejekinya orang-orang Sabang. Dimana kapal menyandar, disitulah penduduk kecipratan ‘berkah’ menjadi tenaga pengangkut mobil, dari pantai, naik ke kapal pukat. Besar kapal pukat bervariasi, tapi kisarannya, bisa mengangkut dua atau tiga mobil sekali jalan. Pemilik kapal bukan orang Sabang karena memang tak satupun orang Sabang punya kapal pukat, setahu saya.

    “Rata-rata mobil dijemput kapal pukat dari Banda Aceh. Orang Sabang mengangkut saja ke dek kapal.” “Mereka mendapat satu setengah juta rupiah sekali panggul dibagi banyak orang yang memanggul.” Tapi jarang satu mobil satu kapal karena rugi. Jadi penghasilan orang manggul, tinggal kalikan pembagian jasa angkat dengan berapa mobil yang terangkut.

    Para pedagang tidak banyak tahu sampai kemana dagangan mereka dibawa, cukup berhasil keluar Sabang, para pembeli akan mau membayar jasa pengiriman seharga tadi di sekitar tahun 2000. Sesampai di Banda Aceh, tentu saja para pembeli lebih mudah ‘mengurus’ mobil selundupan. Sebenarnya, setelah terbelipun, para pedagang sudah lepas urusan, tapi saking banyaknya permintaan mengirim sampai Banda Aceh, dan ini peluang pendapatan, tidak sedikit pedagang akhirnya mengupayakan pengiriman gelap.

    Dulunya, impor mobil melalui Free Port Sabang sesungguhnya untuk kebutuhan pasar lokal. Dimulai kedatangan Toyota Crown 400, pada tahun 2000, yang waktu itu banyak dibeli orang-perorangan, asli penduduk Sabang, untuk usaha taxi. Sampai hari ini pun, kita masih bisa amati banyak taxi Sabang memang jenis ini. Disusul beberapa Mitsubishi Space Wagon buatan sekitar 1997 yang didatangkan memenuhi kebutuhan mobil dinas beberapa instansi. Baru setelahnya, mobil impor dari Singapura yang masuk ke Sabang, beraneka, dari built up reekspor tujuan Eropa semestinya, sampai mobil bekas.

    Meskipun bekas, mobil-mobil dari Singapura bertahun produksi relatif baru karena di negara asalnya pajak semakin tinggi seiring usia, berkebalikan dengan kebijakan pajak kendaraan di Indonesia. Ini mendorong publik Singapura segera menjual mobil lama. Selain itu, kabarnya, ada jeda beberapa tahun peredaran mobil produk sama di dua negara. Indonesia harus menunggu lebih lama dibanding Singapura untuk peluncuran suatu produk baru. Jadilah mobil Singapura, yang bekas sekalipun, diuber banyak pemburu.

    Jelas terlarang keluar tapi barang-barang impor di Sabang jarang sisa. Sampai detik ini hampir tidak ada penumpukan barang. Semua barang impor, yang baru datang, sering ludes terjual. Paling akhir, masih beberapa bulan lalu, 2400 ton gula masuk, kabarnya, lenyap tidak sampai satu minggu, menurut seorang pedagang. Padahal jika benar untuk konsumsi lokal saja, mengikuti aturan yang melarang segala barang impor keluar Sabang, warga bisa mendapat 2 karung perkepala menurut hitungan saya.

    Ajaibnya lagi, jika kita khusus bicara mobil Singapura, tidak saja merk-merk kelas menengah yang masuk ke Sabang, nyatanya malah banyak yang super eksklusif seperti Ferari, Lamborgini, Mercy, dan langsung laku terjual. Coba tebak, siapa sanggup membeli mobil-mobil bekas yang harganya tetap selangit itu. Apa iya mobil-mobil itu didatangkan direncanakan terbeli orang-orang Sabang? Atau sudah ada yang memesan? Kemana mereka semua hari ini? Sabar, kita tunggu saja kesaksian batang-batang bangka.

     

    Sumber foto : www.untvweb.com

    Ikuti tulisan menarik Wulung Dian Pertiwi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.